My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 31



Hari telah berganti, dan hari itu adalah hari libur Sharon bekerja. Selama libur, ia pergi menuju sebuah cafe, yang dimana cafe tersebut tempat dimana sahabatnya bekerja. Disana ia duduk sembari menunggunya.


Ketika pelanggan mulai sepi, Alice mendatanginya seraya membawa segelas vanilla latte kesukaan sahabatnya itu. Tak lupa Sharob pun berterima kasih, dan membagi senyuman hangatnya.


"Ada apa? Kenapa datang kemari? Tidak berkencan dengan Charles?" Alice menyeru seraya menyeret bangku untuk ia duduki.


"Hubungan kami sudah berakhir." Timpal Sharon dengan senyuman kecutnya.


"Kenapa? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja? Tampaknya Charles pun sangat mencintaimu."


"Kau tahu? Ternyata dia adalah direktur Austin Industries, itu artinya dia adalah bosku." Pungkas Sharon yang kini memainkan jarinya di bibir gelas miliknya.


"Apa alasan berakhirnya hubungan kalian hanya karena dia adalah bosmu? Jika benar begitu, aku akan sangat menentangnya loh."


"Sejak awal, hubungan kami sudah di landasi dengan sebuah kebohongan, dan aku pun masih trauma dengan kejadian-kejadian yang menimpaku ketika berurusan dengan orang seperti mereka."


"Dengarkan aku Sharon, tidak semua orang besar itu seperti ibunya Kent, atau pun seperti kakek-nenekmu. Dia pasti memiliki alasannya sendiri kenapa dia harus berbuat seperti itu. Apa kau sudah mendengarkan penjelasannya? Apa kau memberikannya kesempatan?"


"Kesempatan itu sudah pernah ia sia-siakan. Baiklah, aku tidak ingin mengganggumu bekerja. Aku pergi dulu, untuk kopinya..."


"... tidak perlu, biar aku yang menanggungnya."


"Terima kasih Alice."


Sharon segera meninggalkan cafe tersebut, dan pergi menuju Zurichhorn, taman yang mampu membuatnya merasa tenang. Setibanya di sana, ia berdiri seraya memegangi pagar pembatas, dan memandangi air sungai tersebut.


Tak lama kemudian, ia kembali berjalan mengelilingi taman tersebut, namun matanya tak lepas memandangi sungai itu. Kemudian, tubuhnya menubruk seseorang, dan sontak Sharon pun segera meminta maaf pada orang tersebut.


"Kent? Sedang apa disini?"


"Kebetulan sekali. Aku rasa kita memang berjodoh." Terlihat jika Kent tersenyum dengan penuh kebahagiaan ketika melihat gadis itu kembali.


"Kau mau bertengkar lagi denganku, ya?" Sharon menatap pria itu dengan tajam.


"Aku hanya bergurau. Tapi, jika itu menjadi kenyataan, aku akan sangat bahagia." Tuturnya seraya menatap gadis di hadapannya dengan penuh kasih. "Ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu. Apa saat ini, kau sudah tidak memiliki perasaan itu sedikit pun?"


"Maafkan aku. Aku akui, menghapus kenanganmu dalam kehidupanku sangatlah sulit. Hubungan kita memang berlangsung cukup lama, namun kehadirannya mampu membuatku bangkit. Meski terkadang menyebalkan, dia selalu mencoba menghapus dukaku."


"Kau pasti sangat mencintainya bukan?" Mendapati pertanyaan tersebut hanya membuat Sharon tersenyum. "Jika suatu saat dia menyakitimu, aku akan terus berada di belakangmu. Menolehlah, dan aku bersedia membawamu pergi. Demi dirimu, aku juga siap meninggalkan semua kemewahanku."


Ucapan Kent terdengar begitu mantap, sorotan matanya memandang serius, dan tidak terlihat ada kebohongan disana. Meski begitu, ada saja yang tak menyukainya ketika mendengarnya. Orang tersebut tampak kesal, dan terlihat tengah mengepalkan kedua tangannya, seakan sudah siap hendak memukul orang.


Melihat Kent, dan Sharon berbagi tawa bersama, semakin membuat orang itu tak menyukainya. Hingga langkahnya membuat ia mendekati keduanya.


"Tuan Austin? Tidak ku sangka kau ada disini juga." Kent menyeru ketika melihat seseorang yang di kenalnya.


"Begitu rupanya, itu artinya tempat ini memiliki arti tersendiri untukmu."


"Tentu saja. Karena taman inilah yang menjadi saksi pertemuan pertamaku dengan orang yang paling ku cintai." Kini pandangan Charles melirik ke arah Sharon, dan Sharon yang menyadari hal tersebut hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Lantas kenapa tidak pergi bersamanya?"


"Dia sedang marah denganku. Tapi, bagaimana pun caranya, aku akan membuatnya kembali."


"Kau benar. Jika mencintai seseorang harus tetap di kejar supaya tidak menyesal di kemudian hari." Timpal Kent, dan mereka pun membagi tawa kecilnya.


Keduanya berbincang banyak hal, dan Sharon yang tak berani membuka topik pun hanya mampu membungkam bibirnya. Ia hanya takut jika akan terbawa suasana, ia bahkan tak berani untuk melirik ke arah Charles sedikit pun.


"Tidak ingin mengganggu kalian. Sebaiknya aku duluan, karena masih ada hal yang harus ku kerjakan." Sharon menyekat pembicaraan mereka.


"Biar ku antar, ya?"


"Tidak perlu Kent, aku sendiri saja. Sampai jumpa."


Tanpa berpamitan pada Charles, Sharon lekas pergi meninggalkan mereka disana. Hati Charles sungguh merasa sedih ketika melihat gadisnya tak mau menatapnya sedikit pun.


Tidak lama kepergian Sharon, Charles pun berpamitan pada Kent untuk segera pergi. Karena merasa bingung harus kemana, Charles memutuskan kembali ke rumah untuk beristirahat.


Setibanya di rumah, ia melempar kunci mobil ke sembarang tempat, dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruang tengah. Bill yang melihat tingkah aneh putranya pun merasa kebingungan.


"Beberapa hari ini kau terlihat tidak bersemangat, dan juga sudah tidak lagi menggunakan pakaian office boymu. Terjadi sesuatu?" Bill duduk di sisi putranya seraya menepuk bahunya.


"Dia sudah mengetahui semuanya. Saat Charlie datang ke kantor, ia melihat kami berdua, dan Charlie membongkar semuanya."


"Apa kau sudah meminta kesempatan padanya?"


"Sebenarnya banyak sekali kesempatan yang sudah ia berikan. Namun, aku tidak menyadarinya. Bagaimana pun, aku lah yang paling bersalah disini."


"Lalu apa kau akan diam begitu saja, dan menyerah pada keadaan?"


"Tentu saja tidak, ayah. Aku akan membuatnya kembali bersamaku. Tapi, jika itu terjadi, apa ayah akan merestui hubungan kami? Walaupun dia bukan gadis yang berasal dari keluarga yang berada."


"Jika gadis itu baik, dan mampu membuat putraku bahagia, kenapa aku harus menentangnya?"


"Terima kasih ayah, aku sangat menyayangimu." Pungkas Charles yang langsung memeluk tubuh sang ayah.


Bersambung ...