My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 64



Charles mulai kewalahan menanggapi semua pegawainya yang semakin banyak menghampirinya, bahkan makanan pun belum juga ia dapatkan. Ketika melirik ke arah meja dimana Sharon berada, ia terkejut saat menyadari gadis itu sudah tidak ada di sana. Pandangannya pun meluas, dan ia menemukan seseorang yang di kenalnya, dengan cepat ia memanggilnya untuk membantu dirinya meloloskan diri.


"KEY." Begitulah teriaknya, dan sang punya nama pun terkejut ketika mendengar suara direkturnya. Baru saja ia ingin menikmati makan siangnya dengan tenang, namun sepertinya itu hanya mimpinya saja.


Meski begitu, Key tampak menghiraukan panggilan tersebut, dan mencoba untuk seolah tak mendengar apapun. Kesal karena merasa di abaikan, Charles memandang asistennya dengan wajah menyeramkan, kemudian ia pun menunjukkan smirknya, ia memiliki rencana agar asistennya mau menghampirinya.


"Sepertinya aku harus memberikan kenaikan bonus jika seseorang mau datang." Mendengar kata 'bonus' membuat telinga Key seakan menajam, namun ia sempat menghela nafasnya lebih dulu.


"Key siap untuk datang tuan." Seketika pria itu bersemangat, dan berjalan menghampiri Charles.


Membuat pengalihan untuk pegawai wanita disana, dan ketika berhasil, Charles segera meninggalkan kantin. Menurutnya, makan di kantin seperti itu sungguh bukan hal yang baik, ia datang untuk makan, namun sampai saat itu ia bahkan belum sempat mengisi perutnya.


Kemudian, ia bergegas mencari Sharon, ia menghubunginya namun tidak ada jawaban dari gadis itu. Masih tidak menemukannya di koridor kantor, Charles bergegas menuju ruangannya, dan berharap jika gadis itu ada disana. Setibanya ia di dalam ruangan miliknya, ruangan terlihat begitu kosong, dan Charles kembali menghubunginya kembali. Sayangnya, ponsel tertinggal disana.


"Sial." Gerutunya yang langsung berlari meninggalkan ruangannya, bukan ruangannya, ia bergegas meninggalkan kantor.


Hendak memasuki mobilnya, ia melihat seseorang yang di kenalnya tengah duduk di salah satu bangku yang ada di dalam minimarket. Orang itu tampak menyandar, dan terlihat tengah menikmati sesuatu di tangannya. Lalu, Charles kembali menutup pintu mobilnya, dan berjalan ke arah minimarket untuk menemui orang yang di lihatnya.


Saat berada di dalam, tanpa permisi, Charles langsung duduk di hadapan orang itu, dan menatapnya dengan lekat. Orang itu tengah menikmati roti dengan sekotak susu yang berada di tangannya. Tidak memperdulikan orang di hadapannya, ia tetap fokus dengan apa yang ada di genggamannya.


"Aku cemas mencarimu, dan kau asyik makan seorang diri? Kau bahkan mengabaikanku."


"Bukankah kau sedang sibuk? Karena tidak ingin mengganggu, aku memutuskan untuk pergi dari sana, dan mencari makan siang sendiri."


"Tapi, aku 'kan sedang mengantri untuk mengambil makananmu, kenapa tidak mau menunggu?"


"Kau berdiri di antrian sudah hampir 45 menit, dan kau masih belum mendapatkannya. Jadi, kau mau memintaku menunggu berapa lama lagi?"


"Dan aku sudah sedikit kenyang. Jam istirahat sudah berakhir, aku akan kembali bekerja, dan kau silahkan cari makan siangmu dulu."


Sharon melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut, dan Charles mulai memasang wajah memelasnya di hadapan gadis tersebut. Melihat hal tersebut hanya mampu membuat Sharon menghela nafasnya dengan kasar, kemudian ia berjalan ke tempat penyimpanan roti disana. Setelah membayarnya, ia memberikannya pada Charles.


"Bukan ini yang ku inginkan." Protesnya.


"Jika kau ingin yang lain, kau bisa pesan sendiri. Pekerjaanku masih menumpuk, dan kurasa kau mengetahui hal tersebut. Sampai jumpa." Sahut Sharon seraya menepuk pelan bahu Charles.


•••


Hari sudah semakin sore, dan Sharon masih sibuk berkutat dengan komputer serta berkas-berkas yang ada di hadapannya. Sedangkan Charles yang sudah tidak memiliki pekerjaan pun, sesekali mencuri pandang ke arahnya. Gadisnya menjadi lebih serius ketika tengah melakukan pekerjaan, bahkan dirinya pun di hiraukan olehnya.


Lagi-lagi rasa sakit itu kembali di rasakan oleh Charles, pandangannya menjadi buyar saat itu juga, dan ia menggelengkan kepalanya, berharap mampu mengembalikkan pandangannya tersebut. Kini, keringat pun membasahi wajahnya, dan ia langsung mengambil gagang telfon serta menekan 3 digit nomor.


"Key, ke ruanganku, dan bawakan obatku sekarang." Sahutnya dengan suara pelan, dan ia segera mengakhiri panggilan tersebut.


Selang 15 menit, Key masuk ke ruangan Charles dengan begitu cemas, ia bahkan lupa jika disana ada Sharon yang tengah bekerja. Melihat pria itu berjalan dengan cemas, tentu saja membuat Sharon bingung, dan ia menolehkan kepalanya ke arah Charles.


Wajah Charles terlihat pucat, melihat itu membuat Sharon langsung bangun dari posisinya, dan melangkahkan kakinya ke arah Charles. Seketika rasa panik pun menjalar dalam dirinya, namun pria itu mengatakan jika ia akan baik-baik saja setelah minum obat.


"Obat apa yang kau minum itu?" Sahut Sharon yang langsung merebut tabung plastik kecil yang ada di genggaman Charles. Namun, dengan cepat pria itu kembali merebutnya.


"Hanya multivitamin saja." Charles mencoba tersenyum seraya menahan rasa sakitnya.


Bersambung ...