My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 123



Bill bangun dari duduknya, dan melangkahkan kakinya ke arah putranya yang tengah berdiri dengan penuh kegugupan. Setelah berada di hadapannya, Bill menggenggam kedua bahu Charlie, lalu ia tersenyum ke arahnya. Senyuman itu membuat Charlie mengerti, kemudian ia pun hanya menghela nafasnya seraya menundukkan kepalanya.


“Maafkan aku, ayah. Maaf karena telah berbohong padamu.” Gumam Charlie.


“Lalu, dimana gadis itu? Aku ingin tahu, gadis mana yang sudah membuat putraku berani membohongi ayahnya.” Ulas Bill, dan Charlie langsung kembali menatap sang ayah.


“Ayah..” Charlie menggantungkan ucapannya. “... sebenarnya, gadis itu adalah Gwen Raven, putri dari James Raven.” Sambungnya seraya menghela nafasnya dengan berat.


“James Raven?”


“Benar, orang yang sudah menjebak Charles untuk di jodohkan dengan putrinya. Sebenarnya ketika kejadian itu, aku, dan Gwen sudah memiliki hubungan. Maka dari itu, saat Charles pergi ke Jerman, aku memaksa untuk ikut, dan berharap bisa menjelaskan pada James jika...”


“... justru akan fatal jika kau sampai ikut, dan untunglah Charles tidak memberimu izin untuk ikut. Dengarkan aku, nak! James Raven adalah orang yang tamak akan kekuasaan, jika dia sampai tahu putrinya memiliki hubungan dengan keluarga Austin, dia akan merasa besar kepala. Kau tahu kenapa James mengincar Charles?”


Charlie hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar penuturan ayahnya. Lalu, Bill menunjukkan sebuah video pada Charlie, sebuah video yang dimana James ingin memanfaatkan Charles untuk meraup keuntungan yang begitu besar, karena James tahu, jika Charles akan menjadi pewaris keluarga Austin.


Jaringan yang di miliki oleh Bill begitu luas, karena itulah ia mampu menahan segala tipuan dari luar. Melihat rekaman itu tentu saja membuat Charlie berdiri dengan begitu lemah, dia segera membalikkan tubuhnya, entah apa keputusannya benar atau tidak?


Melihat keraguan pada diri putranya, Bill kembali menghampirinya seraya mengusap punggung putranya. Dia memberi dukungan penuh padanya jika memang dia mencintainya, dan Charlie harus yakin pada hatinya.


“Dengar nak! Meski James seperti itu, aku sangat yakin jika semua ini tidak ada hubungannya dengan putrinya. Jika Gwen berada di balik semua rencana ayahnya, ia tidak akan menolak untuk menikahi Charles, karena jika berhasil mendapatkan Charles atau dirimu, mereka akan sama-sama merasa untung. Karena itulah aku yakin jika Gwen berbeda kepala dengan James.”


“Lalu, apa ayah merestui hubungan kami?”


“Ayah tidak pernah melarang putra ayah untuk mencapai kebahagiaannya. Selama kau bahagia dengannya, maka ayah akan mendukung kalian.”


“Benarkah?” Mata Charlie terlihat berbinar-binar ketika mendengar jawaban sang ayah.


“Bawa aku untuk menemuinya!” Pinta Bill dengan senyuman hangatnya, dan Charlie langsung berhambur ke dalam pelukan sang ayah di waktu yang bersamaan.


“Aku menyayangimu ayah.” Gumam Charlie, dan secara spontan, air mata menetes dari kedua mata pria itu.


Keduanya keluar dari ruangan untuk menuju ruang tamu. Melihat Charlie menuruni anak tangga, lekas membuat Gwen bangun dari duduknya, ia membungkukkan tubuhnya untuk menyambut Bill. Kini, giliran Gwen yang jantungnya berdebar cepat akibat gelisah.


Degupannya semakin cepat ketika menyadari Bill melangkahkan kakinya untuk mendekat. Fikirannya berkecamuk tak karuan, mengingat Charlie begitu lama bicara dengan ayahnya, entah apa yang akan di lakukan Bill Austin saat sudah di dekatnya.


“Kau tidak perlu cemas nak, aku merestui hubungan kalian.” Sahut Bill, dan hal itu membuat Gwen mengangkat kepalanya.


Tidak di sangka-sangka, Bill Austin merupakan orang yang begitu baik, begitulah fikirnya Gwen saat mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Bill. Air matanya menetes, ia sungguh merasa iri dengan keluarga Austin, ia begitu berharap jika memiliki ayah sebaik, dan sepengertian Bill.


Sebuah isakkan pun terdengar ketika Bill pergi, Gwen sungguh tersentuh mendengar penuturan tuan besar Austin, suara yang terdengar begitu rendah, namun hangat. Terasa rasa kasih sayang yang begitu besar di sana, dan ia sungguh iri akan hal tersebut.


“Jangan menangis lagi! Besok siang, mari bertemu dengan Charles, dan jelaskan semuanya pada dia.”


“Apa dia akan menerimaku juga? Sama seperti apa yang di lakukan ayahmu?” Gwen menyahut dengan suara yang terdengar begitu parau.


“Seperti yang sudah ku katakan padamu, semua akan baik-baik saja." Charlie tersenyum seraya menyeka air mata itu agar tidak mengalir kembali.


Di waktu yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda, Sharon terlihat tengah menggenggam sebuah kalender, dan menghitung sisa hari menuju pernikahannya dengan Charles. Charles yang baru usai mandi pun melihat pujaan hatinya tengah tersenyum seorang diri, dan hal itu membuatnya melempar handuk yang berada di kepalanya ke sembarang tempat.


Kemudian, ia duduk di sisinya seraya melihat kelakuan yang tengah di lakukan Sharon. Ia tertawa kecil saat tahu apa yang sedang di kerjakan olehnya. Lalu, ia merebut kalender tersebut, dan membuangnya begitu saja.


Merebut, dan membuang kalender hanyalah sebuah alasan, hal itu dilakukan karena Sharon hanya asik dengan hitungannya tanpa menghiraukan dirinya. Dengan membuang kalender itu, tentu saja pandangan Sharon akan teralihkan.


“Kau menatap kalender itu begitu lama, dan aku sungguh merasa iri.” Celetuk Charles seraya membaringkan kepalanya pada paha Sharon.


“Kau cemburu pada sebuah kertas? Sungguh tidak masuk akal.” Ujar Sharon, dan mengusap rambut basah Charles. “Apa kau berniat untuk menggunakan handuk kimonomu hingga pagi menjelang? Tidakkah kau ingin mengganti pakaianmu?” Pungkasnya lagi, dan mendegar itu justru membuat Charles mengukir sebuah senyuman.


“Sebentar lagi pernikahan kita bukan?” Charles menyeru, dan Sharon menganggukkan kepalanya dengan ragu. “Aku menginginkan sebuah hadiah, hadiah yang begitu besar.” Sambungnya lagi dengan senyuman yang terkesan semakin licik.


“Hadiah seperti apa yang kau inginkan? Aku akan mencarinya demi dirimu.”


“Hadiah ini tidak bisa di beli dimana pun, karena cara kau mendapatkannya harus melalui diriku. Setelah itu barulah kau bisa memberikannya padaku."


“Jika mendapatkannya harus melalui dirimu, untuk apa kau memintanya?” Gumam Sharon.


“Karena aku membutuhkan izin terlebih dulu darimu.” Tutur Charles yang semakin menyeringai, dan melihat seringaian itu sungguh membuat Sharon bergidik ngeri.


“I-izin dariku? M-memangnya a-ada hadiah seperti itu?” Sharon semakin gelagapan saat melihat Charles yang tiba-tiba bangun dari pangkuannya.


Bersambung ...


Jangan lupa untuk mampir ke story baru ku => STORM <=


THANK YOU GUYS🤗