My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 114



“Sharon, kau kah itu? Aku... aku sedang tidak bermimpi bukan?” Gumam Kent ketika melihat Sharon berada dalam panggilan video yang sedang berlangsung, dan Sharon menanggapi hal tersebut dengan senyuman hangatnya, hingga tak sadar, air mata Kent menetes di waktu yang bersamaan.


“Kau menangis? Apa kau tidak merasa malu pada wanita di sisimu itu, Kent? Kenapa kau belum berubah juga hingga saat ini? Kau masih mudah mengeluarkan air matamu ketika bahagia.” Tutur Sharon, dan Kent langsung mengusap air matanya. “Soal pernikahan kalian, aku sudah mendengarnya.” Sambungnya lagi.


“Dan kau harus hadir. Jika kau tidak hadir di hari bahagiaku, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu.”


“Hey tuan Edbert, kau berani mengancam istriku, hah?” Sahut Charles, dan mereka terkekeh akan hal itu.


“Charles, ketika kau masih terbaring setelah mendapatkan donor darinya, aku pernah mengatakan satu hal kepadamu. Ketika kau kembali, aku memintamu untuk menjaganya dengan nyawamu sendiri, tidak akan ku biarkan kau atau siapa pun membuatnya meneteskan air matanya. Jika hal itu terjadi, maka aku ...”


“... tidak akan diam. Begitu ‘kan? Aku tahu itu. Kau tenang saja, Kent. Tanpa kau memintanya, aku pasti akan menjaganya, dan aku tidak akan membuatnya menangis. Selama aku hidup, aku akan memberikan segala kebahagiaanku, segala duniaku untuknya. Dari pada kau sibuk mengkhawatirkannya, bukankah kau sebaiknya memperhatikan calon istrimu?” Imbuh Charles, dan nada suara Charles terdengar begitu tidak suka ketika mendengar ucapan Kent.


“Aaah, aku rasa kalian tengah sibuk disana. Sebaiknya kita sudahi saja, lagi pula Alice akan mengajakku untuk menyiapkan sesuatu.” Sharon menyela keduanya.


“Baiklah jika begitu. Aku tunggu kau di pesta pernikahanku 2 minggu lagi. Sampai jumpa.”


Panggilan berakhir, dan Sharon menghela nafasnya. Kemudian, ia menatap tajam ke arah Charles. Alice hanya tersenyum kecil melihat sikap sahabatnya, ia sangat mengerti kenapa Sharon mengalihkan panggilan itu, itu hanyalah sebuah alasan untuk mengakhiri panggilannya. Tidak ingin mengganggu, Alice segera mengajak Nick untuk memberi mereka ruang.


Nick kebingungan ketika Alice mengajaknya pergi, namun wanita itu berjanji akan memberitahunya setelah mereka meninggalkan ruang tengah, dan Nick pun hanya mengikutinya tanpa banyak bicara. Sama halnya dengan Charles, ia juga bingung ketika mendapat tatapan yang begitu tajam dari istrinya, dan ia justru menatapnya balik.


“Hey, apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan tadi pada Kent? Bukankah dia hanya mengingatkanmu soal ...”


“... tentu saja aku sadar. Apa kau tidak tahu? Kekhawatiran yang dia berikan padamu itu bisa menjadi boomerang dalam hidupnya.”


“Kenapa bisa begitu? Dia melakukan itu karena kami sudah mengenal sejak lama.”


“Memang benar kalian kenal begitu lama, tapi hubungan kalian pada awalnya bukanlah hubungan yang biasa. Dia begitu mencintaimu, dan apa kau tidak sadar? Jika dalam hati kecilnya, ia masih menyisihkan tempat untukmu, dan itu sungguh terlihat jelas.”


“Benarkah begitu? Aku sungguh tidak merasa seperti itu.” Gumam Sharon, dan Charles langsung menjitak dahi wanita di hadapannya. Mendapati hal seperti itu membuat Sharon memegangi dahinya seraya mempoutkan bibirnya.


“Kenapa bisa aku menikahi wanita yang begitu bodoh.” Dengus Charles yang kemudian menarik Sharon ke dalam pangkuannya. “Dengarkan aku baik-baik nyonya Austin, aku ini seorang pria, tentu aku bisa membedakan apa seorang pria tengah menyukai seseorang atau tidak, dan perlakuan Kent padamu itu, sudah di pastikan jika dia masih menyimpan rasa pada istri bodohku ini.”


“Bodoh! Jika di katakan aku cemburu atau tidak, tentu saja aku cemburu. Pada intinya, kau harus berjaga jarak dengannya, kau tidak mau ‘kan jika kedekatan kalian membuat Natasha salah paham di kemudian hari? Sekarang, apa kau mengerti?” Imbuh Charles yang mengusap rambut panjang istrinya.


“Aku mengerti.” Jawabnya, lalu Charles memeluknya, dan Sharon menyandar manja pada bahu suaminya.


Posisi yang begitu nyaman untuk Sharon, dan ia sungguh merindukannya. Merindukan dimana ia menghabiskan waktu bersama dengannya. Sedangkan Alice, dan Nick menatap mereka dari kejauhan dengan sebuah senyuman, lalu Nick melakukan hal yang sama, ia menarik wanita di sisinya ke dalam pelukannya.


“Tidak lama lagi, kita akan merasakan kebahagiaan yang mereka miliki, dan kita akan bertemu setiap detik, menit, jam, setiap hari. Itu pasti akan sangat menyenangkan.” Tutur Nick yang mengeratkan pelukannya.


“Setiap detik, menit, jam katamu? Jika seperti itu, apa kau tidak pergi bekerja? Jika kau tidak pergi bekerja, bagaimana caramu menghidupiku?”


“Astaga, semakin mendekati pernikahan, aku baru sadar jika ternyata calon istriku juga sangat menyukai uang.” Nick terkekeh mengatakan hal itu. “Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu, dan anak-anak kita kelak hidup susah. Aku mencintaimu, Alice.” Sambungnya yang langsung mencium kening Alice.


•••


Hari telah berganti, dan hari itu hari dimana Charlie harus berangkat menuju Jerman. Charles yang sangat ingin mengantarnya belum bisa mendatanginya karena melihat Sharon masih terlelap, merasa tak tega untuk membangunkannya, ia hanya bisa berharap jika istrinya akan bangun sebentar lagi.


Benar saja, Sharon membuka matanya secara perlahan, dan ia mendapati suaminya sudah terlihat begitu rapih dengan setelan kantornya. Menyadari hal itu, Sharon langsung duduk, dan hendak pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Melihat reaksi itu tentu saja membuat Charles terkekeh, dan ia langsung menariknya, memintanya untuk tidak terburu-buru. Mengerti dengan apa yang akan di lakukan oleh Sharon, Charles langsung memutar tubuh istrinya agar bisa menatap ke arah nakas yang ada di dalam kamarnya.


“Kau menyiapkannya sendiri?” Gumam Sharon yang kembali berbalik untuk menatapnya, dan Charles mengangguk pelan. “Maafkan aku.” Singkatnya lagi.


“Maaf? Untuk apa?”


“Karena aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Bahkan untuk menyiapkan sarapan saja...”


“... tidak perlu meminta maaf untuk hal kecil. Itu bukanlah sebuah kesalahan, jadi tidak ada yang perlu di maafkan. Meski kau melakukan kesalahan pun, aku tidak akan mempermasalahkannya, karena kau adalah wanita yang sangat ku cintai, Sharon Hwang.” Ujar Charles seraya memberikan senyuman terbaiknya.


Bersambung ...