My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 92



Selama dalam perjalanan hanya ada keheningan yang tercipta. Jantung Sharon berdebar di saat yang sama. Benarkah Charlie akan mengantarnya untuk menemui Charles? Benarkah jika Charles memang benar-benar kritis? Perasaannya sungguh terasa campur aduk kali ini.


Hingga mereka pun tiba di salah satu rumah sakit. Charlie maupun Key sudah turun dari mobil, namun tidak dengan Sharon. Ia merasa ragu akan semua itu. Ia takut jika mereka kembali mempermainkannya, namun ketika melihat seseorang yang di kenalnya berada di lobby, ia pun segera turun.


"Sharon?" Sahut orang tersebut. "Charlie, apa dia datang bersamamu?" Tambahnya lagi.


"Benar ayah. Maafkan aku, karena seperti yang sudah pernah ku katakan, cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya." Gumam Charlie dengan suara yang terdengar lirih.


"Paman, jadi paman pun terlibat dalam semua ini?" Sharon menyambar, dan Bill tampak menghela nafasnya ketika mendengar penuturan dari gadis di hadapannya.


"Maaf nak. Sejak awal, Charles selalu melarang kami untuk memberitahumu. Dia selalu berkata, jika ia tidak ingin membuatmu cemas."


"Lalu, dimana dia sekarang? Aku ingin menemuinya." Ujarnya, dan Bill langsung berjalan menuju ruangan dimana Charles di rawat.


Mereka telah tiba di lantai 12 dengan nomor kamar 1003, sebuah kamar vip dimana Charles berada. Tangan Sharon memegang knop pintu itu, dan membukanya secara perlahan. Hatinya begitu pilu ketika melihat seorang pria berbaring lemah disana dengan alat bantu yang melekat pada tubuhnya.


Air matanya menetes, dan langkahnya membawanya mendekat ke arah ranjang itu. Wajahnya terlihat begitu pucat, namun genggaman tangan pria itu masih mampu membuat kehangatan untuknya.


"Sejak kapan dia seperti ini?" Ucapnya parau.


"Beberapa hari yang lalu. Tepat setelah kembali dari pantai bersamamu." Charlie menyeletuk.


"A-aku a-ada sedikit urusan. M-maaf tak bisa mengantarmu p-pulang."


Sharon mencoba mengingat hari itu, dan memang benar saat itu Charles terlihat terburu-buru untuk pergi. Bahkan tanpa menatapnya sedikit pun, pria itu langsung meninggalkannya.


"Tidak ku sangka jika dia tengah menahan rasa sakitnya saat itu. Sungguh bodohnya aku." Gerutunya kesal. "Tapi, kenapa kau menyembunyikannya dariku? Apa kau meragukan perasaanku padamu? Cepatlah sadar, kau masih memiliki hutang padaku, Charles. Kau berjanji akan mengajakku menuju Uetliberg pada malam hari, jadi buka matamu!" Racaunya lagi seraya mengguncangkan tubuh pria itu.


Tubuh Charles terlihat bergetar pada saat itu, dia mengalami kejang. Melihat reaksi tersebut membuat mereka yang berada di sana sangatlah terkejut. Kemudian, Key segera menekan tombol darurat yang berada dalam kamar itu, hingga beberapa menit setelah itu, dokter Marvin datang bersama dengan dua perawat.


Selama pemeriksaan berlangsung, mereka yang tidak berkepentingan di minta untuk meninggalkan ruangan, namun Sharon tampak enggan meninggalkannya, hingga Bill pun memberinya pengertian agar ia mau ikut keluar.


Perasaan Sharon semakin resah, dan juga semakin kacau. Ia merasa kesal karena tidak tahu hal ini sejak awal. Tak lama kemudian, ponselnya berdering, dan hal tersebut membuatnya terkejut. Lalu, tanpa melihat nama yang memanggil, ia langsung menerimanya.


"... Kent, aku sedang berada di rumah sakit sekarang. Ternyata Charles selama ini menipuku, dia melakukan itu karena ingin menyembunyikan penyakitnya." Sharon menyela ucapan dari orang di seberang sana.


"Apa? Penyakit? Aku akan ke Zurich malam ini juga." Pungkasnya dengan yakin.


"Tidak perlu Kent! Sebaiknya kau temani Natasha disana. Lagi pula ada, Charlie, Key, dan tuan Austin disini."


"Tidak bisa. Berikan padaku alamatnya sekarang juga!"


"Aku akan memberitahumu ketika ia sudah sadar nanti. Sampai jumpa." Gumam Sharon yang langsung mengakhiri panggilannya.


Dokter Marvin keluar beberapa saat setelah memeriksa kondisi Charles saat itu, dan Sharon lah yang langsung maju seraya menghujaninya dengan beberapa pertanyaan. Sebelum menjawabnya, dokter Marvin menghela nafasnya, entah apa yang harus ia sampaikan kali ini.


"Kali ini kondisinya benar-benar kritis. Dia harus melakukan operasi dalam minggu ini. Aku khawatir jika ia tidak memiliki waktu lebih lama lagi."


Ucapan dokter Marvin sungguh membuat mereka tercengang, dan lagi-lagi Key menghubungi beberapa jaringan rumah sakit untuk mengetahui kelanjutan permintaannya, bukan hanya Key, begitu pun dengan Bill, dan juga Charlie.


Melihat mereka sibuk mencari kesana kemari, membuat Sharon mengusap air matanya. Langkah kakinya membawa dirinya untuk menjauh dari ruangan tersebut, ia menghela nafasnya, dan mengetuk salah satu pintu ruangan yang ada disana.


"Bisakah kau memeriksa kondisiku? Dan memastikan, apa aku bisa melakukan pencakokkan hati untuknya?" Gumamnya yang sudah berada di dalam, dan dokter Marvin begitu terkejut mendengar hal tersebut. Ia tidak ingin melakukan hal itu, karena dia tahu bagaimana Charles menjaga wanita itu. Namun, sebagai dokter, ia juga harus menggunakan beberapa kemungkinan kecil sedikit pun.


"Ikut aku menuju laboraturium, dan kau akan menjalani beberapa tes disana." Dokter Marvin langsung melangkah ke arah lab, dan di ikuti oleh Sharon dari belakang.


Bersambung ...


Jangan lupa juga ya guys buat vote MbMc. Juga, jangan lupa untuk πŸ‘, dan ❀️ dari kalian. Serta kritik, dan juga sarannya☺️


Thank you Dear😘



πŸ‘†πŸ»πŸ‘†πŸ»πŸ‘†πŸ»VOTE YA GUYSπŸ‘†πŸ»πŸ‘†πŸ»πŸ‘†πŸ»πŸ’•πŸ’žπŸ’•