
Setibanya Charles di rumah, ia segera membangunkan Sharon. Saat kedua mata itu terbuka, Charles tersenyum ke arahnya seraya mengusap dahi wanita di sisinya. Kemudian, ia keluar dari mobilnya, dan membukakan pintu untuk istrinya.
Para penjaga rumah disana begitu terkejut melihat kedatangan Charles dengan seseorang, mereka turut bahagia saat mengetahui jika Sharon telah sadar.
"Rangkul lenganku!" Gumam Charles, dan Sharon hanya mengikuti apa yang diperintahkan olehnya.
Keduanya berjalan ke dalam. Saat asisten rumah tangga disana membukakan pintu untuk mereka, Charles segera masuk, dan mencari keberadaan ayahnya. Tepat sekali, baik Bill, dan Charlie tengah menikmati sarapan. Keduanya terbelalak ketika melihat Sharon berdiri di sisi Charles dengan tubuh yang sehat.
Bill yang tidak percaya itu pun melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah wanita tersebut. Tangannya menggenggam bahunya, lalu memeluknya, air mata bahagia menetes di kedua matanya, begitu pun dengan Sharon.
"Kau sudah kembali pada kami, nak? Entah apa yang akan terjadi jika kau tidak kembali. Mungkin aku akan menjadi orang yang sangat menyesal." Bill menatapnya, dan langsung menyeka cairan yang keluar dari mata Sharon. Lalu, Sharon melakukan hal yang sebaliknya.
"Paman, apa yang kau ucapkan? Keputusanku itu tidak ada hubungannya dengan paman. Meski sesuatu terjadi padaku, itu adalah resiko yang harus ku tanggung sendiri, jadi paman tidak perlu merasa menyesal."
"Kau memanggilku apa? Paman? Aku ini adalah ayahmu, nak."
"A-ayah?" Suara Sharon terdengar parau, dan ia kembali memeluk Bill saat itu juga. Benar, dia memang tengah merindukan kedua orang tuanya, lebih lagi pada ayahnya. Bagaimana pun, Sharon begitu dekat dengan mendiang ayahnya dulu, dan pertemuannya dengan Bill merupakan keberuntungan untuknya.
"Aku senang melihatmu sudah sadar. Bukankah saat Charles tengah terbaring lemah, kau ingin sekali memukulnya? Apa kau sudah melakukannya?" Ejek Charlie, dan Sharon melirik ke arah Charles seraya menggelengkan kepalanya. "Bolehkah aku memelukmu, kakak ipar?" Sambungnya yang langsung merentangkan tangannya dengan langkah yang semakin dekat, namun Charles segera menghampirinya, dan akhirnya dialah yang memeluk adiknya sendiri.
"Aku sudah memelukmu. Sekarang ayo kita makan! Aku begitu lapar." Sahut Charles seraya menepuk bahu saudaranya.
"Yang aku inginkan adalah pelukan dari kakak ipar, bukan darimu!" Gerutu Charlie dengan kesal.
"Aku memelukmu atas namanya, karena aku tidak akan mengizinkan pria lain untuk memeluknya selain aku." Charles langsung menarik Sharon ke dalam rangkulannya, sesekali ia mencium puncak kepala wanitanya. "Maka dari itu, cepatlah menemukan seseorang agar kau bisa seperti kami!" Lanjutnya lagi.
"Kau sungguh menyebalkan, Charles!" Tutur Charlie yang langsung kembali ke meja makan, dan tingkah mereka selalu berhasil membuat Sharon merasa terhibur.
"Sudah-sudah, ayo kita makan bersama!" Pungkas Bill, dan mereka segera menuju meja makan.
"Yang aku inginkan hanya satu, makan bersama dengan keluargaku." Gumam Sharon dengan senyuman hangatnya.
"Yah, dan kami adalah keluargamu, nak." Bill pun tersenyum ke arahnya, dan Charles memandang ayahnya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Ayah! Jika terus seperti ini, aku jadi sedikit merasa takut jika ayah akan menjadi pesaingku! Aku tidak akan melepaskan Sharon sampai kapan pun!" Charles menyeletuk, dan langsung memeluk Sharon di waktu yang bersamaan.
"Anak bodoh! Siapa yang kau sebut pesaing?" Bill menjitak dahi putranya dengan menggunakan sendok, dan Charlie tertawa puas ketika melihat hal itu. Merasa tidak senang dengan tawa yang di berikan saudaranya, Charles mengikuti apa yang di lakukan ayahnya, dan menjitak Charlie dengan sendok.
"Rasakan itu!" Ucap Charles yang langsung makan, dan Sharon tertawa melihat tingkah mereka. Kemudian, tatapan yang begitu tajam melirik ke arahnya, menyadari hal itu tentu membuat Sharon terdiam, dan kembali fokus pada makanan yang ada di hadapannya. "Apa maksud dari tatapanmu itu, Charlie? Apa kau berniat untuk memukulnya? Sama seperti yang sudah ku lakukan padamu."
"Benar. Agar adil, aku juga harus menjitaknya, karena dia mentertawakanku."
"Berani kau memukulnya?" Charles menatapnya tajam, dan Charlie menggeleng dengan cepat, ia juga langsung menundukkan pandangannya ketika mendapatkan tatapan yang mematikan dari saudaranya. Lagi-lagi, hal itu kembali mengundang tawa bagi Sharon. "Aku rasa kau tengah bahagia? Cepat habiskan makananmu!" Sambung Charles seraya mencubit kedua pipi Sharon.
"Melihat kakak begitu bahagia bersama dengannya, aku sungguh ikut merasakan kebahagiaannya. Selama ini, kakak sudah cukup menderita, aku sungguh berharap jika semua ini akan berlangsung selamanya." Charlie tersenyum kecil seraya memandangi saudaranya yang tengah sibuk menjahili Sharon.
Ketika makan telah usai, Sharon mencoba merapihkan semua perlengkapan makannya. Saat hendak membawa semua piring-piring kotor itu, Charles menepuk pelan bahunya seraya mengangkat kedua alisnya, lalu ia menggelengkan kepalanya. Mengerti apa maksud dari bahasa tubuhnya, Sharon kembali meletakkan apa yang telah di bawanya, dan berjalan meninggalkan ruang makan.
Di ruang tengah terdapat Bill yang tengah membaca bukunya, dan Charlie tampak sibuk mengecek beberapa dokumen miliknya. Tidak lama kemudian, Charlie memasukkan seluruhnya ke dalam tas. Sebelum ia bangun meninggalkan ruangan itu, terlihat jelas jika ia menghela nafasnya dengan berat.
"Ayah, besok aku akan pergi ke Jerman. Ada bisnis yang harus ku lakukan disana." Ungkap Charlie.
"Kau terlihat gusar sejak tadi, jadi apa karena hal itu?" Bill menyahut, kemudian Charlie menganggukkan kepalanya.
"Tidak biasanya kau begitu gugup ketika ingin pergi ke luar negeri? Sebenarnya kau ke Jerman itu untuk bisnis atau ada hal lain?" Charles menatap mata saudaranya untuk mencari jawaban dari pertanyaannya.
Bersambung ...