
Dalam perjalanan, Charles masih tampak kesal melihat perilaku yang diberikan Kent pada Sharon. Mendapat perlakuan manis pun tak membuat Sharon merasa risih, itu juga yang menjadi puncak kekesalannya saat ini.
"Sejak tadi saya bertanya-tanya, sepertinya anda sangat mengenal pegawai saya tadi?" Charles membuka pembicaraan ketika masih berada di dalam lift.
"Bisakah kita bicara dengan bahasa yang santai aja?" Timpal Kent, dan Charles menganggukkan kepalanya. "Sharon adalah kekasihku." Tutur Kent, dan mendengar itu sontak membuat Charles begitu terkejut.
"Kekasih? Bagaimana mungkin? Berita pertunanganmu beberapa bulan lalu itu sangat ramai di perbincangkan loh."
"Pertunangan itu di rencanakan oleh ibuku. Dia tidak menyukai Sharon, karena terjadi suatu hal, Sharon meninggalkan Bern, dan aku yang sudah mencarinya berbulan-bulan pun akhirnya dapat bertemu kembali dengannya disini. Alasan kepindahanku pun karena dia, agar bisa lebih sering bertemu dengannya."
"Setelah ku fikir-fikir, sepertinya nona Hwang juga sudah memiliki kekasih. Karena sesekali aku melihat mereka pergi pulang bersama."
"Benarkah? Selama itu membuatnya bahagia, aku akan ikut bahagia untuknya." Gumam Kent dengan senyum kecutnya.
Mendengar semua itu membuat Charles bungkam seribu bahasa. Mendengar Kent mengatakan semua itu, sudah jelas jika pria tersebut sangat mencintainya. Namun, seberapa besar pun dia mencintainya, dan selama hati Sharon sudah beralih. Dirinya tidak akan tinggal diam.
Setibanya di dalam ruangan, mereka pun membahas mengenai kontrak kerja sama kedua perusahaan. Kent menanamkan saham sebesar 3% di perusahaan tersebut, dan Charles menerima segala kesepakatannya.
Tidak berlangsung terlalu lama, urusan pun selesai. Mereka pun pergi, namun Kent meminta asistennya untuk lebih dulu masuk ke dalam mobil, dan ia akan menyusul.
Mengerti akan maksud Kent, dengan senang hati Charles menawarkan diri untuk mengantarnya keluar. Disana, mereka kembali berpapasan dengan Sharon, Kent yang merasa senang pun langsung berlari menghampirinya, dan mengabaikan Charles yang berjalan di belakangnya.
"Aku tidak akan memaksamu lagi. Jadi, jangan pernah menghindariku lagi, boleh tidak?" Sahut Kent, dan Sharon mengangguk seraya melemparkan senyum kecilnya. "Jika begitu, bagaimana jika setelah kau pulang nanti kita makan malam bersama?" Kent menambahkan.
"Tidak bisa. Setelah selesai bekerja, aku ingin segera beristirahat. Lain kali saja, bagaimana?"
"Kau sedang tidak membohongiku 'kan? Kau menolak pasti karena ingin berkencan dengan kekasihmu itu ya?"
"Kekasih?" Sharon memandang Kent penuh dengan tanya.
"Kenapa? Apa aku salah? Bukankah nona Hwang memang sudah memiliki kekasih?" Sambar Charles yang sudah berada di tengah-tengah mereka.
"Tuan Charles yang memberitahu hal itu padaku. Kau boleh mengajaknya bersama kita jika kau mau."
"Kali ini, aku memang ingin beristirahat. Lagi pula tidak perlu mengajaknya. Aku rasa hubungan kami akan segera berakhir." Sharon menatap Charles, dan tersenyum pada Kent. "Baiklah sudah jam pulang, aku harus membereskan barangku. Permisi."
Kent selalu faham akan yang di bicarakan oleh gadis itu. Meski fikiran, dan hatinya tidak tenang, ia mengerti jika gadis itu sedang tidak ingin di ganggu.
Ingin memberikan bantuan, tapi dia merasa takut. Takut jika gadis itu berfikiran yang tidak-tidak mengenai dirinya. Hubungannya sudah kembali, karena itu lah ia tidak ingin merusaknya lagi.
Setelah itu, Kent segera pamit pada Charles, dan tak lupa mereka berjabat tangan sebelum berpisah. Saat Kent sudah pergi, dan kantor sudah hampir sepi, dengan langkah seribunya, Charles pergi menuju ruang loker untuk menemui Sharon.
"Lepaskan! Anda menyakiti saya." Imbuh Sharon ketika sudah berada di ruangan Charles, dan mendengar gadisnya mengucapkan kata 'sakit', Charles segera melepaskannya.
"Sekarang jelaskan padaku! Apa maksud ucapanmu di hadapan Kent tadi?"
"Apa maksud tuan? Memang apa yang sudah saya katakan pada tuan Kent?"
"Hentikan Sharon! Hentikan sandiwaramu itu! Berhenti, seolah kau tidak mengenalku! Katakan padaku apa maksud dari 'hubungan kami akan segera berakhir.' Jelaskan padaku sekarang juga!" Nada Charles terdengar meninggi, dan hal itu sungguh membuat Sharon sangat terkejut.
"Maaf tuan, itu adalah masalah pribadiku dengan kekasihku, Charles. Aku tidak bisa memberitahu anda soal ini." Sharon menundukkan kepalanya, dan terlihat tengah menahan air matanya.
"Apa maksudmu? Aku ini Charles, apa kau tidak bisa melihatku?" Sahutnya yang langsung memegang kedua bahu gadis di hadapannya.
"Bukan. Kalian orang yang berbeda. Charles yang ku kenal adalah orang biasa. Ketika bersamanya, dia selalu membuatku nyaman, tertawa, dan tidak pernah menyakitiku, apalagi sampai membentakku."
Air mata yang sudah tak mampu lagi di tahan olehnya, akhirnya jatuh juga. Charles yang mendengar pengakuan darinya, dan melihat air mata yang menetes, langsung membuat dia melepaskan genggaman itu.
"Aku berusaha menjelaskannya padamu. Tapi, kau tidak pernah memberiku kesempatan bicara." Imbuh Charles.
"Benarkah? Lalu, untuk apa saat di halte kau mengatakan semua itu padaku?"
"Halte?" Charles terdiam, dan mencoba mengingatnya.
"Apa kau lupa dengan ucapanmu sendiri? 'Jika aku memberitahu semua masa laluku beserta luka ku dulu, apa kau juga akan melakukan yang sebaliknya?' Aku sudah memberitahu satu masa laluku padamu saat itu. Lalu, apa kau juga melakukan hal yang sama?" Sahut Sharon, dan Charles pun bungkam mendengar hal tersebut.
"Maafkan keegoisanku, Sharon. Lalu, apa yang kau inginkan sekarang?" Pandangan Charles tertunduk, ia sungguh merasa bersalah, dan ia sungguh melupakan ucapannya sendiri.
"Menyudahi hubungan ini, dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Dengan begitu, kita tidak akan saling mengenal. " Charles langung mendongakkan kepalanya ketika mendengar permintaannya.
"Aku tidak akan menyetujuinya. Sampai kapan pun tidak akan pernah."
"Jika kau tidak menyetujuinya. Maka, aku akan segera angkat kaki dari perusahaan ini." Gumam Sharon dengan lantang.
"Baiklah jika itu yang kau mau." Imbuh Charles dengan sangat berat hati.
"Terima kasih. Jika begitu, aku permisi." Sharon langsung meninggalkan ruang tersebut. Setelah berada di luar, ia langsung berlari untuk menjauh.
Bersambung ...