My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 43



Mendengar pernyataan Charles, tentu membuat Charlie begitu geram, ia mengeraskan rahangnya, dan melingkarkan tangannya pada kepala Charles. Mendapat perlakuan seperti itu hanya membuat Charles terkekeh, karena dia tahu jika saudaranya tidak serius melakukannya.


"Hey sudah-sudah. Apa kalian tidak malu melakukan semua itu di hadapan seorang gadis?" Bill melerai mereka, dan Sharon langsung memberi salam padanya. "Aku senang dapat bertemu denganmu lagi. Ayo nak, ikut ayah saja. Tidak perlu perdulikan mereka." Sambungnya lagi seraya merangkul Sharon layaknya seorang anak sendiri.


"Ayah, anak ayah itu kami." Sahut Charles, dan Charlie bersamaan. Reaksi keduanya membuat Sharon terkekeh, setelah itu Charlie menepis tangan sang ayah, dan menarik Sharon.


"Ayah tidak boleh sembarang menyentuhnya. Itu tidak sopan, dia ini calon menantu ayah." Kini Charlie lah yang merangkulnya.


"Dan dia adalah calon kakak iparmu. Kau juga tidak boleh sembarangan menyentuhnya." Tutur Charles yang langsung menarik Sharon le dalam dekapannya.


Keluarga Austin sangatlah unik, begitulah yang ada dalam fikiran Sharon saat ini. Hubungan keluarga mereka sangat luar biasa, seolah tak pernah memiliki masalah, dan kehidupan mereka terlihat begitu bahagia.


Melihat pertengkaran kecil mereka membuat Sharon mengukir sebuah senyuman. Ia merindukan kedua orang tuanya, jika keduanya masih hidup, mungkin kehidupannya akan lebih bahagia lagi.


"Kau melamun? Ayo makan." Sahut Charles mengusap puncak kepala Sharon, dan gadis itu segera menganggukkan kepalanya.


Mereka semua makan dengan tenang, dan Bill bahagia ketika melihat Charles kembali seperti sebelumnya. Begitu pun pada Charlie, melihat Charlie mengutarakan maaf pada orang lain itu hanya memiliki kemungkinan sebesar 1%. Tapi, demi saudaranya, ia rela meninggalkan keegoisannya.


Memiliki kedua putra yang saling menyayangi, sungguh membuat Bill semakin merasa bangga, dan merasa tidak gagal mendidik mereka.


"Sally, kedua putra kita sudah besar, mereka tumbuh dengan saling menyayangi, dan saling menjaga satu sama lain. Jika kau masih berada di tengah kami, kau juga pasti akan merasa bahagia sepertiku." Bill membatin.


Ponsel Sharon berdering, sebuah pesan masuk. Berhubung makan pun telah selesai, ia pun meminta maaf untuk membuka pesan tersebut sejenak. Melihat pesan tersebut sungguh membuatnya tercengang, dan seketika wajahnya pun terlihat muram.


"Ada apa?" Bisik Charles, dan Sharon tidak menjawab pertanyaan tersebut. "Siapa yang mengirimimu pesan?" Timpalnya lagi seraya merebut ponsel Sharon.


"Sharon, kakek meninggal, dan sesaat sebelum meninggal, beliau menitipkan sebuah surat padaku. Bisakah kau datang saat pemakaman besok pagi? Pemakaman dilakukan pukul 8 pagi."


"Nick Sworth? Itu artinya Duke Sworth meninggal? Apa kau akan menghadirinya?"


"Charles aku ingin pulang." Gumam Sharon yang masih menundukkan kepalanya.


"Nak, apa yang terjadi?"


"Dia tidak apa-apa ayah, Sharon sedikit kurang sehat, aku akan mengantarnya pulang dulu."


"Benar paman, besok aku akan kembali menemuimu. Terima atas hidangannya malam ini."


"Kau tidak perlu sungkan, nak. Baiklah, kalian berhati-hatilah dalam perjalanan."


Kabar duka dari keluarga Sworth pun menjadi topik utama dalam pemberitaan, dan saat dalam perjalanan pulang, berita tersebut pun muncul dalam led screen. Ketika lampu lalu lintas sudah hijau, Charles kembali melajukan mobilnya.


Bagaimana pun keluarga Sworth membencinya, dan pernah menghinanya, mereka tetaplah keluarga dari sang ayah. Walau dia telah berjanji tidak akan berurusan dengan mereka, tetap saja mereka tidak berlaku yang macam-macam padanya. Bahkan masih ada Nick yang baik terhadapnya.


"Charles, tapi ..."


"... mereka tidak akan menyakitimu, ada aku di sampingmu. Jadi, kau tidak perlu khawatir."


"Terima kasih."


•••


Hari pemakaman tiba, dan Sharon segera menuju tempat keluarga berkumpul. Iriana selaku adik perempuan dari ayahnya itu, melihat kehadiran Sharon. Kemudian, ia menghampirinya dengan tatapan sinisnya.


Sharon masih tak mampu memandang wajah bibinya. Namun beruntung, karena Nick tiba untuk melerai mereka sebelum pertengkaran terjadi.


"Kau yang memberitahu dia?"


"Ibu, bagaimana pun Sharon adalah cucu kakek juga. Lagi pula, kakek menitipkan sesuatu padanya, maka dari itu aku memintanya untuk datang."


"Kau pasti sangat senang kan dengan hal ini? Mengingat dulu ayahku tidak mau menolong kak Ozan, dan saat beliau meninggal kemarin, aku yakin jika kau sangat bahagia ketika mendengar kabar kematiannya. Kau hanya berpura-pura sedih, sebenernya kau tertawa di belakang kami." Ibunya Nick sangat frustasi kala itu.


"Maaf nyonya Iriana, dan tuan Nick, sepertinya kalian telah salah sangka. Sharon datang kemari bukan seperti yang kalian utarakan. Tapi dia datang, karena aku meminta dia untuk menemaniku. Satu lagi, kematian bukanlah sesuatu yang bisa di tertawakan."


"Charles Austin?" Iriana terkejut ketika melihat Charles yang datang entah dari mana, dan langsung merangkul Sharon saat itu juga.


"Bagaimana pun juga Austin Industries, dan Sworth Company adalah rekan. Jadi, atas nama Austin Industries, saya Charles Austin turut berduka cita atas perginya tuan Duke Sworth."


"Terima kasih tuan Austin. Tapi, kenapa anda datang bersama sepupuku?" Sahut Nick.


"Dia adalah tunanganku."


"Tunangan? Mana mungkin?" Nada Iriana terdengar begitu terkejut atas penuturan Charles.


"Maaf nyonya Iriana. Tapi kurasa, bukankah tidak pantas untuk membicarakan hal seperti ini dalam kondisi tengah berduka?" Ucap Charles dengan sedikit ketus.


Bersambung ...


Note: Maafkan aku karena up nya kurang maksimal ya para readers tercinta😣 Dikarenakan ada kesibukan di real life, jadi ga terkadang suka mulur. Namun, meski sibuk, akan sangat di usahakan untuk bisa tetap di up dengan segera.


Mohon pengertiannya, dan terima kasih untuk kalian semua🤗


#dipelukCharlessatupersatu💙💙