My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 93



Setelah berada di dalam lab, dokter Marvin menjelaskan segala tahapan yang akan di lakukan olehnya. Memang banyak pengecekkan yang akan di lakukan, karena ini menyangkut organ dalam. Namun, Sharon langsung menyanggupi hal tersebut.


"Meski begitu, aku tak bisa pastikan apa kau cocok dengannya atau tidak. Karena sangat sulit untuk mencari kecocokkan dalam hal seperti ini. Namun, tidak ada salahnya jika mencoba." Sahut dokter Marvin. Kemudian, Sharon menganggukkan kepalanya, dan mereka segera melakukan segala prosesnya.


Di tempat yang berbeda, seseorang tengah kesal. Dengan cepat ia menghubungi salah seorang kepercayaannya untuk mengerjakan sesuatu yang ia inginkan, dan ia tidak mau tahu, bagaimana pun caranya, orang itu harus mampu menemukannya dalam waktu 24 jam.


Kent, ia merasakan sebuah kegelisahan yang teramat sangat. Melihat kegundangan yang terjadi pada pria itu, membuat Natasha tersenyum ke arahnya. Pria itu masih mencintainya, pria itu masih memiliki perasaan terhadapnya, itulah yang berada dalam fikirannya kali ini.


Meski fikiran itu terbesit dalam fikiran Natasha, Natasha tetap berusaha menenangkan pria itu, hingga akhirnya Kent pun sadar, dan memeluk wanita di hadapannya.


"Maafkan aku. Aku harap kau tidak salah faham dengan kondisi ini."


"Tentu saja tidak. Kau mengenalnya sangat lama, dan kau pasti sangat tahu apa yang akan dilakukan olehnya. Wajar jika kau mencemaskannya." Sahut Natasha yang masih berada dalam pelukannya.


"Ayah, dan ibu merestui hubungan kita. Setelah masalah ini selesai, mari kita menikah!" Ungkapnya seraya melepaskan pelukan itu, lalu menatap wanita tersebut dengan penuh kelembutan.


Natasha menganggukkan kepalanya, dan Kent sangat puas mendapatkan jawaban darinya. Hingga tak lama kemudian, asistennya datang, dan membawa berita yang ia inginkan. Ia telah menemukan rumah sakit dimana Charles berada.


"Besok pagi kita akan berangkat, ikutlah denganku!" Tutur Kent.


"Tidak. Sebaiknya aku berada di sini, kau saja yang pergi."


"Baiklah. Tunggu aku kembali!" Ungkap Kent, dan Natasha tersenyum menanggapi hal tersebut.


•••


Proses telah selesai di lakukan, dan Sharon telah keluar dari laboraturium. Ia terkejut ketika melihat seseorang tengah berdiri di balik pintu itu dengan menyilangkan kedua tangannya. Wajahnya tampak khawatir ketika melihat dirinya keluar dari dalam lab, entah apa yang di fikirkan oleh orang di hadapannya kali ini.


"Charlie?" Gumam Sharon.


"Apa yang kau lakukan di dalam lab selama itu?" Imbuhnya.


"Aku ingin tahu, apa aku bisa membantunya atau tidak? Aku ingin tahu, apa aku memiliki kecocokkan dna dengannya atau tidak? Hasilnya akan keluar besok pagi."


"Jika cocok, apa yang ingin kau lakukan?" Kini, posisi Charlie seolah menjadi lemah, bahkan tautan kedua tangannya terlepas begitu saja ketika mendengar pernyataan Sharon bahwa ia memeriksakan dna nya.


"Kak, aku rasa kau mencintai orang yang benar. Dia, dia juga benar-benar mencintaimu." Charlie membatin dengan menatap punggung Sharon yang semakin menjauh.


Malam semakin larut. Seperti permintaan Sharon, kali ini dialah yang menjaga Charles di rumah sakit. Meski sudah tengah malam, Sharon masih terjaga, ia terus menggenggam tangan pria itu, dan menatapnya dengan penuh pilu.


Ingin rasanya ia memaki Charles, dan memukulnya sekeras yang ia inginkan. Seandainya hal itu bisa membuatnya sadar, mungkin dia sudah melakukannya sejak tadi. Namun, yang dia lakukan saat ini adalah membawa telapak tangan pria itu ke arah pipinya.


"Mau sampai kapan kau tertidur seperti ini? Bukankah kau pernah mengatakan padaku? Bahwa kau tidak bisa jauh dariku meski hanya sedetik pun? Nyatanya, sudah berhari-hari kau terlelap, dan tidak menemuiku." Gumamnya yang mencoba untuk tersenyum, meski ia tahu jika pria di hadapannya tidak akan melihatnya.


Ucapan Sharon tampaknya dapat di respon oleh Charles. Setelah penuturan yang di ucapkannya, sebuah cairan mengalir keluar dari salah satu mata Charles. Namun sayangnya Sharon tidak menyadari hal tersebut.


Pagi telah kembali, matahari pun sudah meninggi, kemudian Sharon membuka matanya, dan ia terkejut ada sebuah jaket yang menyelimuti punggungnya. Ia bahkan lebih terkejut lagi ketika melihat seseorang yang berada di kamar itu, entah kapan orang itu datang, dan bisa mengetahui keberadaannya.


"Ketika aku tiba, seorang dokter mencarimu. Dia berkata padaku, jika hasilnya sudah keluar. Hasil apa yang dokter itu maksudkan?" Ucapnya dengan tatapan yang begitu tajam.


"Sejak kapan kau datang, Kent? Dari mana kau mengetahui keberadaannya?"


"Jawab apa yang sudah ku tanyakan padamu!" Serunya lagi.


"Aku memeriksakan dna ku untuknya." Balas Sharon, dan kembali menggenggam erat tangan Charles pada saat itu. "Jaga dia selagi aku menemui dokter Marvin, aku akan kembali setelah itu. Mungkin sebentar lagi Charlie, dan paman Bill akan tiba, permisi." Imbuhnya lagi, dan langsung meninggalkan ruangan itu.


Jantungnya berdegub ketika langkahnya membawa dirinya menuju ruangan dokter Marvin. Ia sangat berharap jika hal baik lah yang ia dapatkan. Jika dirinya cocok, bukankah ia bisa kembali lagi bersamanya? Begitulah yang berada dalam bayangannya kali ini, dan tanpa sadar senyumannya terukir di bibirnya.


"Jadi, bagaimana hasilnya?" Sambar Sharon yang sudah berada di dalam ruangan dokter Marvin.


"Duduklah, Sharon!" Pintanya. Setelah mengikuti intruksinya, dokter Marvin segera memberikan sebuah lampiran kepadanya. "Kau mengalami kecocokkan dengannya, Sharon." Ucapnya lagi.


"Benarkah?" Wajah Sharon tampak sumringah mendengar kabar tersebut. "Lalu, bukankah itu kabar baik? Tapi, kenapa wajah anda tampak tak senang dengan hal ini?" Sambungnya lagi.


"Dengarkan aku baik-baik! Setelah aku mengatakan ini, kau mungkin bisa berfikir kembali, apa kau akan tetap menjalani operasi pencakokkan ini atau tidak?"


"Katakan padaku ada apa?" Sambarnya lagi, dan kini dirinya pun merasakan kekhawatiran.


Bersambung ...