My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 129



Matahari pagi telah menampakkan sinarnya, dan ponsel milik Sharon berdering berulang kali. Namun, kedua matanya enggan untuk terbuka, bukan hanya Sharon, hal yang sama pun di rasakan oleh Charles, padahal ia harus bergegas ke kantor hari itu.


Deringannya masih tak berhenti, dan itu sungguh mengganggu keduanya. Sharon tampak tak memperdulikannya, dan ia masih terlelap dalam pelukan Charles. Namun, berbeda dengan Charles, meski matanya terpejam, tangannya menggerayang ke belakang tubuh istrinya, lebih tepatnya untuk mencapai ponsel milik Sharon yang berada di atas nakas.


“Siapa, dan ada perlu apa dengan istriku sepagi ini?” Charles menerimanya dengan mata yang masih terpejam.


“Bodoh! Kalian masih belum bangkit dari ranjang? Apa kalian tidak malu melakukan panggilan video dengan kondisi seperti itu?” Gerutu orang di seberang sana, dan mendengar kata ‘video’ langsung membuat keduanya segera membuka matanya.


Benar saja, ketika menoleh, dapat terlihat jelas jika mereka tengah melakukan panggilan video. Sharon sungguh malu dengan apa yang di perbuatnya, ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut, namun berbeda dengan Charles. Dirinya justru menatap orang itu dengan tajam karena telah mengganggu paginya.


“Apa yang kau inginkan? Sampai-sampai harus menghubungi istriku di pagi buta seperti ini?” Nada suara Charles tampak kesal, dan orang di seberang sana hanya tertawa kecil mendapati respon tersebut.


“Kami memiliki kabar bahagia untuk kalian.”


“Kabar bahagia apa yang kau maksudkan?” Timpal Charles yang masih belum tertarik dengan pembicaraannya.


“Sharon, aku hamil!” Sambar salah seorang yang tiba-tiba muncul, dan mendengar kalimat tadi, membuat Sharon keluar dari persembunyiannya.


“Natasha? Benarkah yang kau katakan itu?” Sahut Sharon dengan nada terkejutnya, dan Natasha menganggukkan kepalanya dalam panggilan video tersebut. “Astaga selamat, itu artinya aku akan memiliki keponakan.” Sambung Sharon.


“Memang kalian saja yang bisa mendapatkan kebahagiaan itu. Kami juga akan segera menyusul kalian, dan menunjukkan pada kalian jika...”


“... apa maksudmu? Kau fikir memiliki anak itu sebuah ajang perlombaan?” Sharon langsung menyela ucapan Charles, dan Charles mempoutkan bibirnya di hadapan istrinya. Bukan hanya itu, ia juga memasang wajah memelasnya.


“Astaga, aku rasa Sharon hanya malu. Alangkah baiknya jika kita akhiri panggilan ini, dengan begitu kalian bisa...”


“... keputusan yang bijak. Sampai jumpa, dan jangan lupa untuk datang di pernikahan kami, kami menunggu kehadiran kalian!” Sahut Charles yang menyela ucapan Kent, kemudian ia segera mengakhiri panggilan itu.


Sharon begitu terkejut saat suaminya benar-benar mengakhiri panggilan Kent, dan juga Natasha. Bukan hanya itu, Charles melakukan smirknya seraya melempar ponsel milik Sharon ke sembarang tempat, dan hal itu sungguh membuat Sharon bergidik ngeri.


Kepalanya terus menggeleng, namun senyuman Charles semakin menjadi, dan ia mendekatkan tubuhnya ke arah Sharon hingga tak ada jarak sedikit pun di antara keduanya. Sharon memejamkan kedua mataya, dan seolah mendapat izin darinya, Charles pun tersenyum menanggapi hal tersebut.


"Ck. Tak ku sangka jika istriku begitu nakal. Lisan, dan hatinya sungguh tak selaras!" Umpat Charles dalam batinnya.


•••


Ketika hari sudah siang, Charles pun sudah berada di kantornya. Sedangkan, Sharon masih terbaring di ranjang. Dirinya begitu terkejut ketika mengingat apa yang terjadi padanya pagi tadi. Tidak di sangka jika keduanya akan benar-benar kembali melakukannya di pagi hari. Namun, Sharon mempertanyakan keberadaan Charles pada saat itu.


Tanpa berpikir panjang lagi, Sharon lekas pergi untuk membersihkan tubuhnya. Mendelik ke arah garasi melalui jendelanya, disana tidak terlihat adanya mobil suaminya terparkir. Setelah mandi, ia lekas turun untuk mencari tahu keberadaan suaminya.


Saat di lantai bawah, Raeya mengatakan jika Charles berangkat ke kantor sejak tadi, dan Sharon tampak kesal mendengarnya. Bagaimana bisa dia pergi setelah apa yang sudah ia lakukan padanya. Kemudian, ia menyiapkan bekal makan siang, dan segera membawanya menuju Austin Industries.


Setibanya di sana, ia menenggak agar mampu menatap puncak dari gedung yang berada di hadapannya. Gedung dimana tempatnya bekerja dulu, lalu kedua matanya pun terpejam untuk mengingat segala kenangan yang pernah ia lalui di gedung tersebut.


“Nyonya Austin, senang melihat anda di sini.” Seru salah seorang seraya menjabat tangannya.


“Bukan hanya itu, kami juga sangat bahagia karena mengetahui kabar kepulihanmu yang tuan Austin umumkan pada saat itu.” Timpal seorang lagi.


“Benarkah begitu? Meski kalian tahu jika tuan Austin telah menikah, dan mengetahui perasaannya pada istrinya, bukankah kalian selalu datang untuk mengerumuninya?” Sambar seseorang yang baru saja tiba dengan menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya, dan orang-orang disana segera menoleh ke belakang saat itu juga.


“Nona Larissa?” Sharon menyeru saat melihat orang tersebut.


“Selamat datang kembali nyonya Austin.” Larissa menyambutnya dengan membungkukkan tubuhnya, dan Sharon langsung memintanya untuk bersikap seperti biasa.


“Nona Larissa, kau adalah kepala bagian di sini, tidak seharusnya kau membungkuk padaku seperti itu!” Pinta Sharon, karena hal itu sangat tidak nyaman untuknya. Bagaimana pun, ketika dirinya bekerja disana, Larissa sungguh baik kepadanya.


“Sebuah jabatan bukanlah suatu alasan untuk tidak menghormati seseorang. Tidak peduli setinggi apapun jabatanmu di suatu perusahaan, jika kau harus kehilangan attitudemu. Itu bagaikan kacang yang melupakan kulitnya. Bagaimana pun, aku pernah merasakan di posisi terbawah, dan saat aku mendapat posisi yang lebih tinggi, bukankah itu merupakan salah satu ujian untukku?” Larissa tersenyum ke arah Sharon, dan pegawai disana memandang takjub saat mendengar penuturannya.


“Aku terharu dengan ucapanmu itu, Larissa.” Seseorang menimpalinya, dan merasa telah melupakannya, Larissa lekas memandang ke arah orang tersebut.


“Bodoh! Bukankah karena ulahmu semua karyawan mengeruminya? Cepat bawa nyonya Austin untuk menemui tuan Austin di ruangannya!”


“Kenapa kau menyalahkanku? Aku kan hanya senang karena dapat melihat nyonyaku kembali ke kantor ini!”


“Dasar penjilat!” Larissa menggerutu.


“Apa? Apa yang kau katakan? Aku, Key bukanlah seorang penjilat, paham?” Sahut Key seraya bertolak pinggang, dan menatap tajam ke arah Larissa. Sedangkan Sharon hanya tertawa kecil melihat kelakuan dua orang di hadapannya.


“Sudah hentikan! Apa kalian tidak malu bertengkar di hadapan banyak karyawan seperti ini?” Suara berat itu terdengar tak asing, dan orang-orang disana segera menoleh untuk mengetahui pemilik suara tersebut.


Mengetahui siapa yang datang, tentu membuat mereka langsung membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada orang tersebut. Orang itu begitu terkejut ketika melihat seseorang yang berada di hadapannya, dan Key yang merasa tertolong pun langsung berjalan menghampirinya.


“Tuan Charles syukurlah kau datang. Kau tahu apa yang Larissa katakan padaku? Dia bilang jika...” Belum menyelesaikan ucapannya, Charles mendorong pelan bahu Key agar tidak menghalangi langkahnya untuk mendekat ke arah seseorang yang berada di hadapannya.


“Ha Ha Ha, bahkan tuan Charles tidak mempedulikanmu.” Larissa mentertawainya.


“Diam kau!” Gerutu Key dengan nada kesalnya. “Jika tuan Charles bisa melakukan hal ini padaku. Aku juga bisa membalasnya, jika nanti dia menyuruhku, aku akan mengabaikan perintahnya. Lihat saja!” Lanjutnya lagi. Kemudian, ia pun langsung masuk ke dalam kantor dengan menghentakkan langkah kakinya, dan tak mempedulikan keadaan disana lagi.


Bersambung ...


Jangan lupa untuk mampir juga ke ceritaku yg lain 'Storm'


Sorry karena update sudah terbilang tidak teratur seperti dulu, karena ada kendala yg menyulitkan sehingga sulit untuk update. Nextnya, akan tetap di usahakan agar terkontrol seperti sebelumnya. Namun, terima kasih untuk kalian karena sudah setia menunggu novel yang hampir lapuk(?) ini💙


IG: @kyu_shine