My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 86



"Dia pergi menuju taman orc bersama dengan seorang wanita. Tampaknya mereka terlihat begitu terburu-buru ketika pergi."


"Taman orc? Wanita? Apa kalian mengenal wanita itu?" Tuturnya lagi.


"Mungkin kekasih tuan Charles, karena tampaknya tuan Charles amat menyayanginya."


"Kekasih?" Sharon membatin. "Lalu, apa kalian tahu sudah berapa lama mereka bersama?" Kini nada suaranya terdengar begitu lemah, bahkan pandangannya pun tak sekuat tadi.


"Entahlah, yang pasti sudah lama. Mungkin setahun atau dua tahun. Baiklah jika tidak ada lagi, kami permisi, dan datanglah kembali lain hari. Karena tuan Charlie, dan tuan Bill pun tengah pergi ke luar kota mengurus bisnisnya." Kemudian, penjaga itu pun meninggalkan Sharon.


"Bagus. Menurutnya, setelah mendengar itu, dia pasti akan langsung ke taman itu untuk mencari tahu. Sebaiknya aku juga bergegas."


Entah sebuah kebenaran atau kebohongan yang di katakan oleh para penjaga di rumah itu. Namun, beberapa bukti begitu jelas jika memang dia sampai melakukannya, pria itu bahkan tidak menghubunginya, dan juga tidak bisa di hubungi. Hanya ada satu cara untuk membuktikannya, yaitu pergi ke taman itu, dan memastikannya sendiri, begitulah yang di fikirkan olehnya saat ini.


Dengan cepat ia berjalan menuju halte yang berada di dekat rumah Charles, dan ia segera menuju taman tersebut. Dalam perjalanan, hatinya begitu gusar, ia hanya takut jika hal itu memanglah terjadi, dan ia tidak bisa bayangkan jika orang yang sangat di percaya olehnya akan mengkhianatinya.


"Kau sering berkata, jika kau tidak seperti yang lainnya. Aku mohon jelaskan padaku nanti, jika yang ku dengar itu hanyalah sebuah kesalah fahaman saja." Gerutu Sharon seraya *** ujung blazernya.


Kini, Sharon telah tiba di taman tersebut. Namun, kenapa taman itu tak terlihat begitu ramai seperti biasanya. Ada satu tempat yang ramai, dan itu membuatnya begitu penasaran. Akhirnya langkah kakinya membawanya menuju keramaian itu.


Disana, ia melihat seorang pria tengah berlutut di hadapan seorang wanita. Setelah memperhatikan lebih seksama, postur tubuh itu sangat ia kenali, dan style yang tidak asing menurutnya, namun dia berharap jika itu sebuah kesalahan.


"Evelyn, maukah kau menikah denganku?" Sahut pria itu, dan semua orang menyorakinya agar wanita itu mau menerima lamaran dari pria di hadapannya.


Ketika wanita itu menganggukkan kepalanya, pria tersebut segera memasangkan cincin di jemarinya. Lalu, sang pria menarik wanita tersebut ke dalam pelukannya. Keduanya terlihat begitu bahagia, saat mendapat tepukkan tangan dari pengunjung taman, mereka membungkukkan tubuhnya.


"C-Charles?" Gumam Sharon ketika melihat pria di hadapannya memanglah seseorang yang tengah ia cari.


"Ini sungguh sesuai dengan rencana yang di inginkan olehnya." Batin orang tersebut ketika menatap Sharon.


"Ternyata kau memang wanita yang sangat polos! Aku jadi merasa tidak enak karena sudah membodohimu selama ini. Sebenarnya mendekatimu itu hanyalah sebuah lelucon aja, aku kalah permainan dari saudaraku, dan tantangannya adalah membuatmu jatuh cinta padaku. Setelah berhasil, itu artinya aku menang." Balasnya dengan nada santai.


"J-jadi, hubungan kita selama ini hanya sebuah sandiwara?"


"Bukan kita, tapi hanya aku. Hanya aku yang bersandiwara mencintaimu, namun kau tidak. Sebelum datang menemuiku, apa kau sudah membaca surat yang ku kirimkan?"


"S-surat?


"Benar. Jika tidak salah, aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyimpannya di kotak surat yang ada di villa milikmu."


"Apa isi surat itu?"


"Kau bisa membacanya sendiri! Aku tidak memiliki waktu lagi denganmu, dan satu lagi, sebagai rasa bersalahku, aku akan tetap mengizinkanmu bekerja di Austin Industries. Sampai jumpa." Pria itu pergi meninggalkannya bersama dengan wanita yang berada di sisinya.


Sedangkan Sharon, ia menundukkan pandangannya ketika orang itu benar-benar mengabaikannya. Air matanya menetes begitu saja, dan ia memutuskan untuk pergi meninggalkan taman tersebut.


Dengan cepat ia menghentikan sebuah taksi, dan meminta supir itu mengantarnya segera. Dirinya ingin tahu apa isi surat yang di maksudkan olehnya, dia hanya berharap jika Charles hanya tengah berlaku usil kepadanya.


Di waktu yang bersamaan, seorang pria tampak baru tiba di sebuah rumah sakit. Ia berdiri menatap seseorang yang tengah berbaring disana, ia melepaskan kemeja yang melekat pada tubuhnya, dan hanya menyisakan sebuah tshirt.


Setelah melepaskan kemejanya, ia juga menyimpan topi di atas nakas yang ada di ruang rawat tersebut. Tak lupa ia mengembalikkan letak rambutnya seperti semula. Mengingat apa yang sudah dilakukannya, terlihat jelas jika wajahnya penuh dengan rasa bersalah.


"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, Charles. Dia tidak curiga sedikit pun padaku. Namun, aku sungguh tidak bisa melihat kesedihan di matanya." Charlie tampak frustasi dengan kondisinya kali ini.


Sedangkan Sharon, dia yang baru tiba di villanya pun segera mengambil surat yang memang benar tersimpan di kotak tersebut. Kemudian, ia membawanya masuk agar mampu membacanya dengan tenang.


Bersambung ...