
Ketika pintu sudah benar-benar terbuka. Matanya yang sudah berair pun mendapati seseorang yang masih berdiri di ujung tempat tersebut. Hal tersebut membuat Charles berlari seribu langkah untuk menghampirinya.
Rasa takutnya yang menjalar, membuat dirinya langsung menarik, dan memeluk gadis tersebut. Sedangkan gadis tersebut yang mendapatkan perlakuan itu pun sangat terkejut, dan membuatnya menengadahkan kepalanya.
"Charles? Ada apa?" Serunya dengan nada yang bingung. "Kau menangis? Apa yang terjadi?" Tambahnya polos, dan Charles makin memperat dekapannya.
"Apa yang kau lakukan di atap seperti ini? Kenapa tidak memberitahuku sebelum itu?" Charles melepaskan pelukannya, dan menatap gadis itu dengan lekat. "Dan teriakkan tadi ...?"
"Ah itu? Ayah pernah berkata padaku. Jika dadamu merasa sesak, maka berteriaklah untuk melegakannya. Aku tidak mungkin 'kan berteriak di keramaian, jadi aku memutuskan untuk datang kesini."
"Gadis bodoh. Kau tahu? Kau membuatku takut, kau menghilang ketika orang-orang sedang sibuk bekerja, dan tidak membawa ponsel. Aku mohon jangan lakukan hal seperti ini lagi." Balasnya yang langsung memeluknya lagi.
"Kau mengkhawatirkan aku?" Sharon mencari tahu, dan Charles mengangguk dengan cepatnya. Kemudian, gadis ini pun membalas pelukannya.
"Aku menyukaimu Sharon. Aku ingin selalu berada di sisimu. Menjadi orang yang selalu membahagiakanmu, menjadi orang yang akan menghapus setiap dukamu. Boleh tidak?"
Mendengar semua perkataan itu membuat Sharon melepaskan pelukannya. Melihat reaksi yang diberikan Sharon lantas membuat Charles berfikir. Apa gadis di hadapannya tidak memiliki perasaan yang sama dengannya?
Masih belum mendapat jawaban darinya. Charles pun tidak memaksakannya, kemudian segera mengajak gadis tersebut untuk pergi dari sana. Langkah kaki Charles membawanya pergi lebih dulu, namun gadis itu masih tetap berdiri di tempatnya.
"Apakah sopan jika meninggalkan seseorang yang bahkan belum menjawab sebuah pertanyaan?" Gumamannya membuat Charles menghentikkan langkah kakinya. "Jika aku mengizinkanmu, apa kau akan terus berjalan kesana meninggalkanku?"
Hal tersebut membuat Charles menegakkan kepalanya. Ia bahkan membalikkan tubuhnya, dan menatap gadis itu, gadis yang tengah memamerkan senyum hangatnya.
Tidak membuang-buang waktu lagi. Charles kembali berlari menghampirinya, dan memeluknya. Rasa bahagianya benar-benar ia dapatkan, semua perasaannya di terima.
"Lepaskan aku. Aku tidak bisa bernafas." Umpatnya kesal seraya mendorong tubuh pria tersebut. Namun, tenaganya tidaklah cukup untuk membuatnya melepaskan dirinya.
Kali ini Charles melepaskan pelukannya. Ia menatap gadis tersebut dengan senyuman jahatnya, dan membuat gadis di hadapannya menerka-nerka arti dari senyuman itu.
Senyuman itu semakin terlihat seperti memiliki maksud lain. Benar saja, Charles mulai mendekatkan wajahnya menuju gadis di hadapannya. Kemudian dengan cepat gadis itu mencubit kedua pipi Charles dengan gemas.
"Hubungan kita belum sejauh itu. Jika kau berani macam-macam, aku akan mendorongmu ke bawah." Ancamnya, dan Charles hanya mampu mempoutkan bibirnya.
"Sedikit saja, boleh ya?" Balasnya seraya membentuk sebuah tanda jarak kecil antara jari telunjuk, dan ibu jarinya. Jawaban Sharon tetaplah sama, namun ia mencium pipi Charles, dan berlari meninggalkannya.
Mendapat kecupan singkat itu membuat Charles terkejut, dan tersenyum sumringah. Kemudian ia segera mengejarnya, dan merangkul gadis tersebut.
•••
Kebahagiaan yang tengah di rasakan oleh Sharon-Charles, tidak di rasakan oleh Kent. Pria ini masih terbayang-bayang dengan wajah gadis yang ia cintai dulu, tidak hanya dulu, sampai saat ini pun masih sama.
Ketika Kent mendapat laporan mengenai gadis yang ia lihat di Zurich. Semua laporan menyatakan benar. Gadis itu tinggal disana, dan bekerja paruh waktu di berbagai tempat.
Perasaan bahagianya memenuhi hatinya. Akhirnya, ia bisa menemukannya, dan ketika semua pekerjaannya selesai, dia akan segera datang menemuinya untuk menjelaskan semuanya, dan memintanya untuk kembali.
"Kent, aku rasa kau sedang senang?"
"Lantas apa yang ingin kau lakukan?"
"Lusa aku harus berangkat menuju Jerman untuk satu bulan. Setelah urusanku selesai disana, aku akan langsung menemuinya, dan memintanya untuk kembali bersamaku."
"Begitu." Gumam gadis itu dengan nada kecewa.
Grace Olsen. Gadis yang sudah menjadi tunangan Kent Edbert ini memanglah tidak menyesal sedikit pun dengan semua perjodohan tersebut. Keduanya memanglah sudah saling mengenal sejak kecil, karena kedua keluarga mereka saling berteman baik.
Mendengar berita perjodohan dengan Kent memiliki rasa bahagia tersendiri untuknya. Ia menyukai Kent sudah sejak lama, dan tentu perjodohan tersebut akan membuka jalan untuknya.
Namun, berbeda dengan Kent. Setiap kali keduanya bertemu, Kent selalu saja membicarakan mengenai mantan kekasihnya, dan selalu ingin kembali ke masa-masa indah mereka.
"Jika saja dulu aku tidak melanjutkan studyku di Sydney. Apa mungkin akulah yang akan menjadi cinta pertamamu? Jika saja dulu aku tidak pergi, apa mungkin kau akan mencintaiku seperti halnya kau mencintai gadis itu?" Gumamnya seraya mengacak-ngacak cheese fondue yang ada di hadapannya.
"Aku tidak tahu. Maafkan aku Grace, tapi perpisahanku dengannya bukanlah keinginan kami."
"Tapi bukankah sudah jelas jika dia mencampakkanmu? Dia pergi meninggalkanmu, tidak memberi kabar padamu, dan menutup diri darimu. Apa dia masih pantas menerima cintamu itu?"
"Jika ibu tidak mengusirnya, dan tidak mengurungku, aku yakin jika dia tidak akan pergi. Itulah kesalahan terbesarku, dan sampai sekarang aku masih menyesalinya."
"Bagaimana ketika kau datang, dia sudah bersama dengan yang lain, dan sudah melupakanmu?"
"Jika itu membuatnya bahagia, maka aku tidak akan memaksakan kehendakku. Aku akan menghargai keputusannya."
"Kau yakin dengan ucapanmu?"
"Tentu. Bukankah cinta tak harus memiliki seutuhnya? Sudah pernah menorehkan kenangan bersamanya saja sudah cukup. Setidaknya, aku pernah menjadi orang spesial yang ada di hatinya." Kent tersenyum kecut setelah mengatakan semua itu. "Baiklah, jika sudah selesai, aku antar kau pulang. Aku juga harus bersiap."
•••
Sedangkan Charles, dan Sharon tengah dalam perjalanan menuju sebuah cafe. Keduanya harus bekerja paruh waktu hingga malam nanti, setelah itu keduanya akan pergi ke rumah sakit untuk memberitahukan hubungan mereka pada ibu Sharon.
"Charles, aku rasa pelanggan disana membutuhkan sesuatu. Pergilah kesana." Ucap Sharon yang tengah melayani pelanggannya.
"Nona, apa ada yang ingin kau pesan lagi?" Charles membagi senyumannya.
"Aku ingin 2 vanilla latte beserta dessert khas cafe ini. Melihatmu begitu tampan. Bagaimana, jika kau duduk bersama dengan kami?"
"Maaf nona, dia tidak ada waktu. Cafe sedang ramai pengunjung, jadi dia sangat sibuk." Sambar Sharon yang tiba-tiba saja datang, dan menarik Charles pergi dari sana. Melihat tindakan itu justru membuat Charles tertawa kecil sekaligus bahagia.
"Astaga, Sharon menarik tuan Charles begitu saja. Apa dia tidak tahu siapa pria yang sudah ia lakukan sekasar itu?" Seru manager Leon seraya menepuk dahinya sendiri ketika melihat kelakuan pegawainya.
Bersambung ...