
Keesokannya Sharon kembali bekerja seperti biasa. Kali ini, Charles ada bersama dengannya, mereka bekerja bersama seperti sebelumnya. Banyak mata yang memandang keduanya, memandang dengan sedikit pandangan tak suka.
Mereka begitu iri dengan Sharon yang mampu menarik perhatian seorang ceo, bahkan sampai mau melakukan apapun untuknya. Bukan hanya itu, mereka pun heran, apa Sharon sama sekali tidak mengenali ceo perusahaan tempat dia bekerja? Atau ia hanya menggunakan kepolosannya saja untuk memikat seorang ceo Austin Industries?
Bisikkan-bisikkan itu terdengar di telinga Charles, dan ia yang mendengar itu pun tak tinggal diam. Tidak ingin mendengar orang lain menjelekkan gadisnya, dengan cepat ia mengirimi pesan pada Key untuk membereskan orang-orang yang berani bicara di belakang.
Saat jam makan siang, Sharon masih sibuk membersihkan kaca di lantai 19. Melakukan itu, ia tak memberitahu Charles, ia hanya tidak ingin mengganggu makan siangnya. Bukan Charles jika tidak mencarinya.
Lagi-lagi, Charles harus kembali mengecek cctv perusahaannya agar mampu menemukan gadisnya itu. Kemudian, ia segera mendatanginya ketika sudah mengetahui titik letak dari kekasihnya.
"Di saat jam istirahat, kenapa masih bekerja, eo?" Charles mengusap puncak kepala Sharon, dan hal itu membuat Sharon menoleh terkejut.
"Kenapa kau kemari? Apa kau sudah menyelesaikan makan siangmu?"
"Mana mungkin aku bisa makan ketika tak ada dirimu?" Ungkap Charles dengan wajah memelasnya. "Lihat! Aku membawa kotak bekal kesini, duduklah!" Seru Charles yang menarik Sharon untuk duduk di sisinya.
"Kau yang memasak semua ini?"
"Tentu saja. Sekarang ayo makan." Pinta Charles yang langsung menyuapinya.
•••
"Kent, sepertinya kita memang harus menjalin kerja sama dengan Austin Industries atau CBC Group."
"Kenapa? Kau bisa berikan alasannya?"
"Mereka mendapat hasil kerja sama dengan Sworth Company. Meski Austin Industries berada di posisi pertama dalam tangga perusahaan terbesar, tapi koneksi Sworth Company melebihi Austin Industries atau pun CBC Group."
"Aku akan atur waktunya dengan segera, dan aku akan fikirkan harus bekerja sama dengan Austin Industries atau CBC Group."
Kent yang tengah sibuk dalam mengenai bisnisnya, tiba-tiba seseorang masuk begitu saja ke ruangannya. Kedatangannya sangat membuat Kent terkejut. Bagaimana tidak? Ketika masuk, orang tersebut langsung berlari memeluknya.
"Aku keluar dulu." Sahut Louis yang langsung meninggalkan ruangan tersebut.
"Grace? Apa yang kau lakukan di sini?" Kent menyeru seraya melepaskan diri dari pelukannya.
"Tentu saja karena aku merindukanmu, apa lagi? Akhir-akhir ini kau begitu sibuk, panggilan, dan pesanku pun tak ada yang kau jawab. Maka dari itu aku memutuskan untuk datang kemari."
"Apa orang tuamu tahu?" Sahut Kent, dan Grace hanya menjawab dengan sebuah gelengan kepala. "Bodoh. Bagaimana jika mereka khawatir? Cepat hubungi mereka sekarang juga." Tambahnya lagi.
"Aku akan menghubungi mereka. Tapi, kau harus mengizinkanku untuk tinggal. Jika menyuruh mereka untuk membawaku kembali, maka aku tidak akan menghubunginya."
"Baik, kau boleh tetap berada di sini."
"Kau memang baik hati, aku keluar sebentar untuk memberitahu ayah." Setelah mencium pipi Kent, gadis itu langsung berlari keluar dengan wajah yang sumringah.
Sementara itu di Austin Industries. Terlihat begitu ramai sekali, para pegawai wanita disana berkumpul, ketika menyadari seseorang telah datang ke sana.
Melihat para wanita yang sudah hampir tidak terkontrol, Key langsung meminta mereka untuk kembali pada pekerjaannya masing-masing. Jika tidak, maka dirinya akan melaporkan pada tuan Austin untuk memotong gaji mereka. Itulah ancaman yang diberikan oleh Key.
"Tuan Charlie ada keperluan penting apa? Sehingga harus repot-repot datang kemari?"
"Aku mendapat tawaran kerja sama dengan dua perusahaan di Jerman. Mereka juga menawarkan hal itu pada Austin Industries. Aku ingin membicarakan soal ini padanya."
"Aku akan mencari tuan Charles. Mohon anda tunggu sebentar."
"Evan, Tom, ikutlah bersama dengan Key. Melihat pegawai wanita disini sangat mengerikan, jadi jaga kakakku dari mereka." Ungkap Charlie, dan Key pun terkekeh setelah mendengar hal tersebut.
Mereka pun pergi dari sana, dan bodyguard Charlie hanya mengikuti langkah Key dari belakang. Key pergi menuju ruang office boy/girl, dan syukurlah Charles berada di sana seorang diri. Penampilan Charles kali ini sungguh membuat Evan, dan Tom begitu tercengang.
Melihat kedatangan asistennya membuat Charles meluaskan pandangannya ke segala sisi. Ketika merasa aman, ia pun segera meminta Key untuk mendekat.
"Tuan Charlie datang, dan ingin membicarakan mengenai tawaran kerja sama dari perusahaan di Jerman." Key berbisik.
"Untung saja Sharon masih bertugas di lantai 19. Ayo cepat!" Charles melangkah keluar bersama mereka.
Dalam perjalanan, Sharon yang sudah turun dari lantai 19 pun melihat Charles tengah berjalan bersama Key, dan di ikuti oleh dua orang berjas hitam.
Wajah Charles terlihat begitu serius, dan ia melihatnya memasuki ruangan direktur. Sharon yang merasa cemas pun langsung menyimpan segala peralatan yang ia bawa, dan akan kembali menyelamatkan Charles.
"Apa dia membuat masalah? Sampai-sampai tuan Key, dan dua bodyguard harus mengawalnya." Gerutu Sharon cemas.
Sedangkan Charles yang sudah tiba di dalam ruangannya, ia melihat Charlie tengah berdiri menyandar di meja miliknya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Cepat katakan!" Charles menyeru.
"Dua perusahaan di Jerman menawarkan kerja sama pada kita. Namun, mereka ingin kita yang datang kesana."
"Mereka yang menawarkan diri, kenapa kita yang harus repot datang kesana? Jika mereka yang menawarkan, bukankah itu artinya mereka lah yang membutuhkan kita?"
"Menurut informasi yang ku dapat. Kedua perusahaan tersebut tengah di ambang kehancuran, dan membuat mereka tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja. Mereka ingin meminta bantuan kita untuk memecahkan masalahnya."
"Itu masalah internal mereka. Kita bukan detektif yang bisa menerka apa yang terjadi. Namun, jika menolong dengan hal kecil, aku tidak keberatan. Cari tahu saja apa inti masalahnya. Tidak perlu melakukan kerja sama perusahaan, sebelum semuanya jelas." Ungkap Charles.
"Lalu siapa yang akan datang kesana? Kita berdua atau ..."
"... Charles? Kau baik-baik saja?" Sharon memaksa masuk, dan langsung menghampirinya.
Melihat kehadiran Sharon yang datang tiba-tiba sungguh membuat semua orang yang berada dalam ruangan terkejut. Bukan hanya terkejut, Charles merasa cemas dalam waktu yang bersamaan.
Berbeda dengan Charlie, pria itu tampak memandang gadis tersebut dengan tatapan sinisnya seraya menyunggingkan senyum masamnya.
"Maaf nona, kami sedang mengadakan diskusi penting." Imbuh Charlie.
"Diskusi penting?" Sharon membalikkan tubuhnya untuk menghadap sumber suara. Melihatnya, membuat mata Sharon terperangah. "Ke..kenapa a..da dua Charles?" Imbuhnya gelagapan seraya memandang kedua pria itu secara bergantian.
Bersambung ...