My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 58



Saat ini Charles tengah menjaga Sharon yang belum sadarkan diri di salah satu rumah sakit yang berada di Bern. Luka lebamnya masih terlihat begitu nyata, dan sesekali pria itu mengusapnya dengan lembut.


"Ibu, ayah." Racau gadis itu dalam tidurnya. "Charles." Ungkapnya lagi yang kini meneteskan air matanya.


Charles yang mendengar racauan tersebut pun segera menolehkan wajahnya ke arah wajah gadis itu, dan dengan sigap ia menyeka cairan bening yang menetes di sisi matanya. Lalu, ia menggenggam erat tangan Sharon, dan sesekali mencium punggung tangannya.


Perlahan Sharon membuka matanya, dan ia melihat seorang pria tengah menatapnya dengan sebuah senyuman hangatnya. Belum sepenuhnya sadar, ia tampak masih memperhatikannya, hingga tak lama kemudian, ia segera bangun, dan memeluk pria itu dengan sangat erat.


"Katakan padaku jika ini bukan mimpi. Katakan padaku jika ini benar dirimu, dan katakan padaku jika, aku..."


"... ssstt! Tenanglah. Ini benar aku, dan ini sama sekali bukan mimpi."


"Aku sangat takut Charles."


"Tidak apa-apa, kau sudah aman sekarang. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendiri lagi. Sekarang berbaring, dan beristirahatlah dengan baik." Charles melepaskan pelukannya, dan membantu Sharon untuk segera berbaring kembali. "Aku akan panggilkan dokter dulu." Tuturnya lagi yang hendak berjalan keluar. Namun, langkahnya tertahan ketika sebuah tangan menahannya.


"Jangan pergi. Tetaplah disini." Matanya terlihat masih menyimpan ribuan rasa takut yang mendalam. Kemudian, Charles memutuskan untuk tetap tinggal, dan menekan tombol darurat yang ada disana.


Tidak lama kemudian seorang dokter datang memasuki ruangan tersebut, dengan segera ia memeriksa kondisi Sharon yang diketahui telah sadarkan diri, dan Charles berdiri menjarak dari ranjang untuk memberi celah pada dokter itu.


"Tidak apa-apa. Dia hanya sedikit trauma, dan pergelangan kakinya juga akan membaik setelah dua atau tiga hari." Dokter tersebut menjelaskan ketika melihat wajah Charles yang tampak khawatir, dan mendengar hal itu bisa membuatnya bernafas lega.


"Kenapa dengan pergelangan kakiku?" Sahut Sharon dengan wajah bingungnya.


"Bodoh. Memang kau tidak merasakan sakit pada kakimu?" Charles yang kesal langsung menyentil kening Sharon. "Kakimu itu terkilir, sebenarnya apa yang ..."


"... baiklah, jika begitu aku permisi, dan besok nyonya Austin sudah boleh keluar dari rumah sakit." Dokter tersebut menyela pembicaraan Charles seraya tersenyum, kemudian ia pamit untuk meninggalkan ruangan.


"Jika tidak salah dengar, dokter tadi berkata 'nyonya Austin'. Apa maksudnya itu aku?" Mendengar hal tersebut sungguh membuat Charles berdecak, dan menghela nafasnya dengan berat.


"Memang kau fikir untuk siapa lagi jika bukan untukmu? Sudah jangan banyak bicara, sekarang istirahat." Seru Charles yang langsung menyematkan selimut ke tubuh gadis itu.


Melihat wajah kesal pria itu sungguh membuat Sharon mengukir senyumnya seraya tertawa kecil. Reaksi seperti ini sangatlah langka di lihat olehnya, tidak, ini bahkan kali pertamanya ia melihat ekspresi kesalnya.


"Terima kasih." Sharon tersenyum ke arahnya.


"Aargh sial. Kenapa tingkahmu itu selalu membuatku terpesona, sih. Gara-gara itu, aku jadi tidak bisa marah denganmu." Gerutunya yang mencubit gemas kedua pipi Sharon.


Ponselnya berdering, Charlie menghubunginya. Untuk menerima panggilan tersebut, Charles pergi keluar untuk sejenak, dan melihat pria itu meninggalkannya begitu saja, membuat Sharon berdengus kesal.


Bosan dengan posisinya sekarang, Sharon segera duduk menyandar, dan tangannya meraih piring buah yang berada di atas nakas. Kemudian, ia memangku piring tersebut, dan lekas mengupas apel yang terdapat di dalam piring itu.


Tidak lama kemudian, Charles kembali ke dalam. Raut wajahnya terlihat berbeda, rahangnya terlihat mengeras, dan ia terlihat tengah menahan emosinya. Sharon begitu terkejut ketika menyadari pria itu yang tiba-tiba sudah berdiri di sisi ranjangnya.


"Kau mau apel?" Tuturnya yang kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Ibunya Kent." Gumamnya, dan itu membuat Sharon berdeham. "Katakan padaku, apa ibunya Kent yang melakukan semua ini?" Kini, wajah Charles benar-benar terlihat begitu marah.


"Aku tidak tahu apa dia juga ada hubungannya dengan semua ini atau tidak. Hanya saja, yang datang saat itu bukanlah ibunya Kent, melainkan tunangannya, Grace Olsen."


"Grace Olsen. Baiklah, aku akan buat perhitungan dengan wanita itu sekarang juga." Amarah pria itu sungguh sudah di ambang batas, ketika hendak melangkah keluar, lagi-lagi Sharon menahannya, dan tidak di sangka jarinya sedikit terkena mata pisau yang berada dalam pangkuannya. "Apa lagi?" Timpalnya dengan nada yang kesal.


"Jangan lakukan itu padanya, bisakah kau membiarkannya saja?"


"Apa maksudmu? Aku mulai merasa bingung denganmu kali ini, saat ibunya, dan tunangannya memakimu, menamparmu di cafe saat itu, kau juga melarangku untuk membuat perhitungan padanya. Lalu sekarang kau juga menahanku, dan ingin aku meloloskan wanita itu? Sebenarnya kau melindungi mereka untuk apa? "


"Aku hanya..."


"... ah aku tahu, apa untuk melindungi nama baik keluarga Edbert? Atau..." Charles menggantungkan ucapannya, dan seketika pandangannya terlihat begitu kecewa. "... kau masih menyimpan perasaan untuknya."


"Kenapa kau bertanya hal itu lagi padaku? Apa sekarang kau sudah benar-benar meragukanku, Charles?" Kini, Sharon menatapnya.


"Tunggu disini, aku akan minta plester pada perawat diluar." Charles sedikit mengabaikannya saat itu. Kemudian, ia segera keluar dari ruangan tersebut.


Bersambung ...