My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 35



Setelah tak sadarkan diri selama dua hari, Charles sudah kembali. Namun, ia masih belum mampu kembali bekerja, ia masih membutuhkan istirahat. Tubuhnya pun belum kuat untuk berdiri, dan melakukan pekerjaan di kantor.


Kemudian, ia menarik laci nakas yang berada tepat di sisi ranjangnya. Ia tampak mengambil secarik kertas beserta dengan penanya. Lalu, Charles pun duduk menyandar, dan menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut.


"Apa yang sedang kau tulis?" Sahut Charlie yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya.


"Bukan apa-apa." Dengan cepat Charles menyelipkan kertas tersebut ke dalam bukunya. "Ah aku belum sempat bertanya soal masalah perusahaan yang di Jerman. Jadi, bagaimana?"


"Firasatmu benar. Sebenarnya tidak terjadi apapun pada perusahaan itu, mereka hanya ingin menjatuhkan perusahaan kita. Kau tenang saja, perusahaan itu sudah ku urus seperti biasanya."


"Kau menghancurkan dua perusahaan sekaligus?" Charles menyimpan kembali buku tersebut ke dalam lacinya.


"Apa lagi? Mereka sendiri yang berani bermain api, jadi mereka harus mampu menerima akibatnya."


"Kau tidak pernah berubah Charlie." Charles menggelengkan kepalanya. "Baiklah, aku ingin istirahat dulu, kau pasti harus pergi ke CBC Group kan?"


"Kak.. aku..." Charlie menundukkan kepalanya, dan Charles masih menunggunya untuk bicara. "... aku minta maaf. Aku dengar hubungan kalian berakhir, itu semua pasti karena kebodohanku, ya?"


"Tidak apa-apa, tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Lagi pula, cepat atau lambat, semuanya pasti akan terbongkar. Sudah sana berangkat." Sahut Charles dengan menyunggingkan senyumnya.


Sebesar apa pun Charlie melakukan kesalahan, dan sefatal apapun itu. Charles selalu memihaknya, dan tidak pernah menyalahkannya. Ia begitu menyayangi saudara kembarnya itu, dia bahkan rela memberikan nyawanya sekali pun demi dirinya.


Ingin sekali Charlie membantu menyelesaikan masalah keduanya. Namun, Charles meminta dia untuk tidak ikut campur lebih jauh lagi. Karena dia takut jika hubungannya dengan Sharon akan semakin jauh, ia tidak menginginkan hal tersebut terjadi.


Siang itu, Sharon tengah makan siang bersama dengan Alice. Terlihat jelas jika Sharon tengah kehilangan selera makannya, karena sejak tadi, yang dilakukan oleh Sharon hanya mengacak-ngacak makanan yang ada dalam piringnya. Kemudian, Alice mengambil piring tersebut agar mampu mengalihkan perhatiannya.


Sharon menatap Alice, lalu ia pun menghela nafasnya, dan menyimpan garpu yang tengah di genggamnya di atas meja. Setelah itu, Alice kembali menyimpan piring tersebut di hadapan sahabatnya.


"Aku juga tidak tahu. Entah kenapa, hatiku sangat resah beberapa hari ini, seperti merasa khawatir."


"Mungkin kau tengah merindukan seseorang? Kau merindukan Charles."


"Aku tidak ingin membicarakan masalah itu lagi. Dia sudah sangat mengecewakanku, dan semua orang besar itu sama saja. Hanya memikirkan keuntungannya sendiri, tanpa tahu apa yang sudah di rasakan oran lain. Dengan kekuasaan yang mereka punya, semua akan berjalan dengan mudah."


"Jika semua orang seperti yang kau katakan. Lalu, bagaimana dengan ayahmu?" Sahut Alice, dan ucapannya tersebut mampu membuat Sharon untuk bungkam dalam sekejap. "Bukankah ayahmu juga bukan orang biasa?"


"Ayah." Gumam Sharon, kemudian tanpa sadar, air matanya pun menetes.


"Anggap saja roda kehidupanmu seperti halnya ayah, dan ibumu. Ibumu berasal dari keluarga biasa, namun ayahmu seseorang yang berpengaruh. Ibumu mempercayai ayahmu, sehingga mereka pun bisa menikah, hingga lahirlah dirimu. Walau tanpa restu dari kakek, dan nenekmu, bukankah kehidupan kalian sangat bahagia? Kau bahkan belum menemui keluarga Charles, jadi kenapa kau pesimis? Belum tentu, semua orang besar itu memiliki sifat yang sama."


"Saat aku bersama dengan Kent untuk menemui keluarganya. Aku sempat membuang fikiran burukku mengenai orang kaya. Namun, kenyataannya? Mereka lebih menyeramkan dari apa yang ku bayangkan."


"Sharon, dengarkan aku. Jika, kau mencintainya dengan sungguh-sungguh, kau pasti akan berani menghadapi semua rintangannya. Begitu pun sebaliknya, jika Charles mencintaimu dengan tulus, dia akan selalu mendukungmu, menjagamu ketika tidak ada orang lain lagi yang mempercayaimu. Kau harus berani, dan hadapi semuanya. Sama seperti kau menghadapi masalahmu dulu ketika masih bersama Kent."


"Tapi.. apa Charles akan memaafkanku? Apa dia akan menerimaku kembali?"


"Aku sangat yakin jika dia akan merentangkan tangannya untuk menerimamu kembali. Charles sangat mencintaimu, Sharon. Percayalah, jika ia pasti memiliki alasan untuk melakukan semua itu. Berilah dia kesempatan bicara, kemudian dengarkan baik-baik penjelasannya."


"Baiklah, aku akan menemuinya besok. Terima kasih atas semua masukkanmu, Alice. Kau memang sahabat terbaikku." Sharon menghampiri Alice, dan memeluknya. Alice yang mendapatkan perlakuan tersebut hanya tersenyum.


Bersambung ...