
Mengabaikan kata-kata Charles, gadis itu segera membalikkan tubuhnya seraya membuka kembali blazer yang sudah ia kenakan, ia juga menyimpan kembali sepatu yang telah di pakai olehnya.
Melihat hal tersebut sungguh membuat Charles kebingungan, apa yang dilakukan olehnya? Kenapa dia melepaskan semuanya? Ia bahkan mengambil kembali pakaian santai miliknya, dan hendak masuk ke dalam toilet.
"Apa yang mau kau lakukan dengan pakaianmu?" Charles menahan pergelangan Sharon yang hampir masuk ke dalam toilet.
"Tentu saja untuk mengganti pakaianku, kenapa?"
"Kenapa kau bilang? Bukankah ayah mengizinkanmu untuk ikut ke kantor bersama denganku? Kau juga akan menjadi sekretarisku."
"Anggaplah aku tidak pernah bicara seperti itu. Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu di luar saja."
"Tidak boleh. Kita sudah telat, dan kita akan berangkat sekarang." Dengan cepat Charles menyambar high heels serta blazer milik gadis itu, dan ia pun segera menggendong tubuhnya untuk meninggalkan kamar miliknya.
Ketika sudah keluar dari kamar, Charlie, dan Bill begitu terkejut ketika melihat Charles yang berjalan terburu-buru dengan membawa Sharon dalam gendongannya. Bill mencegat mereka, agar keduanya bisa sarapan bersama.
"Kami akan makan di luar, ayah." Sahut Charles yang tetap berjalan meninggalkan mereka.
"Sepertinya aku harus secepatnya menentukan tanggal pernikahan untuk mereka." Bill menggerutu, dan Charlie yang mendengar hal tersebut pun langsung tersedak.
"Bukankah Charles akan melakukan itu setelah menyelesaikan urusannya dengan Grace?" Balas Charlie, dan sang ayah hanya tersenyum simpul.
Sedangkan di tempat lain, di kediaman keluarga Sworth terlihat tengah menikmati sarapannya. Mereka begitu tenang, namun sebuah deringan ponsel memecahkan keheningan tersebut.
Sang pemilik ponsel langsung menjauhkan diri dari ruang makan untuk menerima panggilan tersebut. Melihat nama di layar ponselnya, tentu saja orang itu tahu apa yang akan di tanyakan oleh orang di seberang sana.
"Kak Nick, kenapa sampai saat ini aku masih belum mendapat kabar mengenai Sharon? Kau pasti tahu sesuatu tentangnya bukan? Apa kalian sudah mengetahui keberadaannya? Apa dia sudah baik-baik saja? Apa dia..."
"... Alice, jika kau menghujaniku dengan pertanyaan seperti itu, bagaimana aku akan menjawabnya?" Nick segera memotong pembicaraan gadis di seberang sana sebelum pertanyaan itu semakin banyak dia ungkapkan.
"Baiklah. Sekarang jawab aku, bagaimana dengan Sharon?"
"Temui aku di cafe figure sekarang, aku akan menjelaskan segalanya disana."
"Kenapa tidak memberitahuku di telfon saja?"
"Jika kau tidak mau, maka aku tidak memaksa. Namun, jangan salahkan aku jika aku tidak akan memberitahumu."
"Baiklah, aku berangkat sekarang."
Alice mengenal Nick sebagai satu-satunya keluarga yang Sharon miliki, dan hanya dialah yang peduli terhadap sahabatnya itu. Sedangkan Nick mengenal Alice sebagai satu-satunya teman baik sepupunya.
Kini, mereka telah bertemu di tempat yang mereka janjikan. Nick yang melihat Alice baru memasuki cafe pun segera mengangkat salah satu tangannya, pertanda jika ia telah tiba disana.
"Jadi, bagaimana? Sekarang jawab pertanyaanku yang tadi." Alice menyahut ketika baru saja duduk disana.
"Tenang sedikit, minum dulu coklat milikmu."
"Kenapa tidak memesankan cappucino untukku? Aku sangat menginginkan itu."
"Asam lambungmu akan naik jika kau meminum kopi. Apa kau lupa dengan kejadian dulu? Ketika tengah menikmati kopi bersama Sharon, kau langsung terlihat pucat, dan gemetar setelah meminum kopi?"
Kejadian itu sungguh memalukan untuk Alice, dan dia hanya bungkam ketika pria di hadapannya mengungkit hal tersebut. Akhirnya, ia pun diam, dan menyeruput minuman yang sudah berada di hadapannya.
Setelah itu, lagi-lagi gadis tersebut menuntut jawaban dari Nick. Jawaban yang sudah ia tanyakan sejak tadi. Bagaimana pun, ia begitu mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.
"Kau tidak perlu khawatir. Sharon baik-baik saja, dia sudah aman. Charles, dan Charlie berhasil membawanya kembali. Saat ini dia tengah berada di rumah Charles untuk sementara waktu."
"Bodoh, kenapa dia tidak mengabariku?"
"Mungkin belum. Sejak Charles membawanya kembali, Sharon masih belum kembali rumahnya."
"Siapa yang melakukan ini padanya, kak? Apa ibunya Kent lagi?" Alice menundukkan wajahnya.
"Kami tidak tahu apa dia terlibat atau tidak. Namun, Sharon mengatakan pada Charles, jika Grace lah yang melakukan semua ini."
Entah apa yang di rasakan oleh Alice saat ini, dia menangis begitu saja, dan Nick yang menyadari hal tersebut pun merasa kebingungan. Kemudian, ia berpindah posisi, dan duduk di sisi gadis tersebut.
Tak berani menanyakan apa yang terjadi, ia justrumerasa ragu untuk menyentuhnya, namun Nick tetap memberanikan diri untuk menepuk punggung gadis di sisinya.
"Kenapa ada saja orang-orang yang ingin menyakitinya? Setahuku, Sharon beserta keluarganya adalah orang yang begitu baik. Namun, kenapa orang-orang seperti mereka selalu mencecarnya?"
"Tenanglah. Kali ini, Sharon memiliki Charles yang akan selalu mendukung, dan melindunginya. Dengan begitu, aku sangat yakin jika tidak akan ada lagi orang yang berani menyakitinya, dan itu berlaku untuk keluargaku sendiri." Sahut Nick yang langsung menarik Alice ke dalam pelukannya.
Bersambung ...