
Jantungnya berdebar ketika hendak membuka isi surat tersebut, ia hanya takut jika isi yang di baca tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang, dan berusaha menghibur dirinya sendiri.
“Sharon, aku rasa tidak perlu lagi aku menyembunyikan sesuatu lagi darimu. Aku rasa sudah saatnya juga untukku memberitahumu atas segala kebohongan yang aku lakukan padamu. Hal utama yang harus kau tahu adalah...”
Belum menyelesaikannya, Sharon menutup sejenak surat tersebut ketika mendengar seseorang tengah mengetuk pintu kamarnya. Dengan segera ia memilih untuk membukakan pintunya lebih dulu, dan wanita paruh baya tampak membawakan sebuah baki di tangannya.
“Nona, anda belum makan sejak pulang tadi. Setidaknya makanlah sedikit.” Serunya yang tampak khawatir dengan membawa makanan di tangannya
"Baiklah, terima kasih bibi Rey. Aku akan memakannya di dalam." Balasnya seraya tersenyum, dan mengambil baki dari wanita di hadapannya.
Setelah berada di dalam, ia lekas menyimpan baki tersebut di atas nakas, dan kembali duduk di tepi ranjangnya seraya mengambil kertas itu lagi. Ia mulai membukanya kembali, dan menarik nafasnya sesaat sebelum membacanya.
"... bahwa hubungan kita hanya sebuah kebohongan. Dua tahun yang lalu, aku sudah bertunangan dengan seorang gadis, dan berjanji akan menikah dengannya. Selain itu, akulah orang yang kau cari selama ini, akulah yang sudah membiayai seluruh pengobatan ibumu, dan aku juga yang sudah mencarikan pendonor untuknya. Aku tidak mengatakannya sejak awal karena aku takut kau membenciku, dan bisa membuat rencanaku berantakan. Maaf karena telah membodohimu. Namun kali ini, kau boleh membenciku sesuka hatimu. Mulai saat ini, menjauhlah dariku, dan pergilah dari kehidupanku! Selamat tinggal, Sharon Hwang." -Charles Austin.
Air matanya menetes kala itu, tangannya meremas kertas yang berada dalam genggamannya. Apa yang dibacanya tidak sesuai dengan apa yang ia fikirkan. Pandangannya pun tertunduk, ia tampak tak mempercayainya. Namun, apa yang dilihatnya ketika berada di taman sudah membuktikan semuanya.
"Pandanganku selama ini memang benar. Semua orang yang berkuasa memang sama, tidak pernah memikirkan orang-orang kecil yang berada di sekitarnya. Hanya ada satu orang yang baik, yaitu ayah. Selain itu tidak ada lagi." Isaknya.
Kemudian, ia mengambil ponselnya. Jarinya mencoba menscroll kontak yang berada di dalamnya, dan mencari nama seseorang. Ingin rasanya ia menghubunginya, namun rasanya tidak mungkin. Dia tidak ingin membuat kebahagiaan orang itu hancur, bukan hanya orang itu, namun orang yang tengah bersamanya kali ini.
"Tidak bukan hanya ayah. Tapi, masih ada Kent, dan juga kak Nick. Aku harap mereka dapat menyayangi orang yang berada di sisinya kali ini." Gumamnya yang kembali menyimpan ponselnya sesaat setelah mengirimkan sebuah pesan.
•••
Hari telah berlalu. Di tempat yang berbeda, Kent mencoba menghubungi seseorang yang ia rindukan, dan berniat untuk memperkenalkan Natasha padanya. Ketika hendak menghubunginya, ia memiliki satu pesan yang belum di baca olehnya.
"Hargailah setiap waktumu bersama dengannya. Karena hari esok belum tentu ada, dan yang telah hilang tidak akan mungkin bisa kembali."
Membaca pesan tersebut sungguh membuatnya gusar. Dengan cepat ia mencoba menelfonnya, namun nomor tersebut tidak bisa di hubungi, dan itu semakin membuatnya khawatir.
"Aku tidak bisa menghubunginya. Pesannya membuatku khawatir."
"Sharon?" Imbuhnya, dan Kent menganggukkan kepalanya seraya mencoba menghubunginya kembali. "Pesan apa yang dia kirimkan kepadamu?" Lanjutnya lagi.
Kent menunjukkan pesan tersebut pada Natasha. Sebagai seorang wanita, Natasha tampak mengerti dengan jelas apa makna dari pesan itu. Ia menghela nafasnya, dan mengembalikkan ponsel itu kepadanya.
"Apa tidak sebaiknya kau kembali saja? Aku rasa di membutuhkan seseorang kali ini."
"Dia sudah memiliki orang yang itu, dan mana mungkin aku meninggalkanmu disini?"
"Astaga, apa dia tidak mengerti maksud dari pesan tersebut?" Natasha menggelengkan kepalanya, namun tiba-tiba saja ia mendongakkan wajahnya kembali. "Tadi, apa yang kau ucapkan? Kau tidak mungkin meninggalkanku? Memang kenapa?"
"Benar. Aku tidak bisa meninggalkanmu, sebab aku mulai menyukaimu. Aku tidak ingin jauh darimu, Natasha. Jika kau ingin memintaku kembali, maka ikutlah bersamaku!"
"Kent, apa kau sungguh-sungguh dengan apa yang kau ucapkan? Ketika kembali, dan bertemu dengan Sharon, bisa saja kau memiliki peluang untuk bersama dengannya lagi."
"Tapi dia tidak memberiku peluang itu untukku, dan aku yakin jika hanya satu pria yang bisa membahagiakannya, yaitu Charles."
"Bagaimana jika pria itu meninggalkannya? Bagaimana jika Sharon menginginkanmu kembali?"
"Sharon, dia bukanlah seseorang yang akan merusak hubungan orang lain. Maka dari itu, ikutlah kembali bersamaku, dan aku akan memperkenalkanmu padanya, sebagai tunanganku, kau mau?" Kent mengulurkan tangannya.
"Aku mau, dan aku harap kau menjaga janjimu itu, Kent." Sahut Natasha yang langsung meraih tangan pria di hadapannya. Mendengar jawaban Natasha, membuatnya menganggukkan kepalanya, dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Bersambung..