My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 125



Kemudian, Charles mengangkat kedua alisnya berulang kali ke arah Sharon. Sharon yang kesal akan hal itu pun langsung melempar guling, namun Charles mampu menangkapnya sebelum guling tersebut mengenainya.


“Apa hal ini bisa ku anggap jika kau tengah menggodaku?” Charles kembali menjahilinya seraya tersenyum usil.


“Charles! Kau sungguh menyebalkan sekali!” Tutur Sharon yang sudah di ambang batas, lalu ia menarik selimut yang tengah di kenakannya, dan segera berlalu menuju toilet untuk segera membersihkan tubuhnya.


Hari itu sungguh hari yang membahagiakan untuk Charles. Harapannya hanya satu, ia ingin kebahagiaan itu terus berlangsung untuk selamanya. Sudah cukup mereka merasakan penderitaan, dan juga ujian dalam hubungan keduanya.


Bukan hanya itu, ia juga berjanji pada dirinya sendiri, jika ia tidak akan menyembunyikan hal sekecil apapun lagi pada Sharon. Sebisa mungkin, ia akan berusaha untuk memberitahu segala hal yang tengah di rasakan kepada pujaan hatinya.


Tidak lama setelah itu, ia mendengar jika pintu kamarnya ada yang mengetuk, dan tentu saja itu mengharuskannya untuk bangun. Raeya, dan Erina lah yang berdiri disana. Tidak di sangka jika Erina akan memilih pergi secepat itu, dan Charles hanya mendesah melihat hal tersebut.


“Tunggu aku di ruang tengah!” Pungkasnya, dan langsung menutup pintu kamarnya. Ia pun segera berjalan menuju ruang baca yang berada di villa itu, dan mengambil sesuatu di dalam brankasnya.


Sharon yang sudah mandi, dan mengenakan pakaiannya pun kebingungan ketika melihat Charles tidak berada di dalam. Lalu, ia langsung menuju keluar kamar, dan lekas mencarinya. Tidak tahu apa yang terjadi, namun ia melihat adanya Charles, Raeya, dan juga Erina di ruang tengah. Sebenarnya apa yang mereka lakukan disana?


Merasa penasaran, Sharon segera berjalan ke arah mereka, dan mencari tahu apa yang terjadi. Charles yang menyadari kehadirannya pun segera meraih pinggang ramping Sharon, dan Sharon membalas perlakuan tersebut, lalu menatapnya dengan penuh tanya.


“Erina memutuskan untuk meninggalkan villa ini.” Charles menjelaskannya, dan Sharon langsung menatap Erina saat itu juga.


“Benarkah begitu?” Tutur Sharon.


“Benar nona. Terima kasih banyak karena pernah mengizinkanku untuk bekerja disini, bantu sampaikan salamku pada keluarga Sworth yang lainnya. Maafkan aku jika sikapku belakangan ini pernah membuat nona merasa tidak nyaman.” Tutur Erina dengan menundukkan pandangannya.


Sharon melepaskan pegangannya pada pria di sisinya, dan melangkahkan kakinya ke arah Erina. Lalu, tangannya menggenggam kedua bahunya, tentu saja hal itu membuat Erina mengangkat kepalanya agar mampu menatap orang yang telah menyentuhnya.


“Aku tahu apa alasanmu untuk mengundurkan diri. Jujur, aku memang sedikit tidak nyaman akan hal yang kau lakukan selama berada di sini. Namun, jika kau keluar dengan alasan itu, itu sungguh tidak adil untukmu. Sebagai gantinya, bagaimana jika kau bekerja di salah satu cafe yang di kelola oleh keluarga Sworth?”


“Apa? Apa nona Sharon bersungguh-sungguh?” Ungkap Erina, dan Sharon menganggukkan kepalanya dengan sebuah senyuman hangatnya. “Tapi, apakah boleh?” Sahutnya lagi.


“Kau tidak perlu khawatir, aku yang akan bicarakan ini pada kak Nick, dan tetaplah disini sampai mendapat kabar dariku. Jika kau tidak nyaman untuk tinggal disini, kau bisa tinggal di mess yang di sediakan disana.”


“Sekarang bawa masuk kembali kopermu, dan aku akan menghubungi kak Nick saat ini juga!”


Sharon berbalik ke arah Charles. Karena meninggalkan ponselnya di kamar, yang bisa ia lakukan adalah meminjam ponsel suaminya untuk menghubungi sepupunya itu. Hal itu membuat Charles merengut, karena Sharon mengambil ponsel miliknya tanpa permisi sedikit pun. Namun, dengan cepat Sharon tersenyum manis di hadapannya agar mampu meluluhkan amarahnya, dan tentu saja hal itu berhasil di lakukan.


Panggilan terhubung, dan Sharon mengatakan semua permintaannya pada Nick saat itu juga. Nick sungguh tidak keberatan dengan permintaan sepupunya, dan Erina bisa mulai bekerja minggu depan, tepat di awal bulan. Namun, dengan satu syarat, jika Sharon harus meluangkan waktunya untuk bertemu dengannya, dan juga Alice siang itu juga. Syarat yang sangat mudah, dan tentu saja akan ia penuhi.


Setelah panggilan berakhir, Sharon segera memberitahu kabar tersebut pada Erina. Raeya, dan Erina sungguh senang mendengar kabar tersebut. Sedangkan Charles tersenyum melihat perilaku istrinya, sikapnya sungguh tidak berubah. Sejak dulu, Sharon selalu mementingkan orang lain di bandingkan dirinya sendiri.


Kemudian, Charles menyambar kunci mobilnya, dan menarik pergelangan tangan Sharon. Hal tersebut sungguh mengejutkan untuknya, dan Charles langsung memintanya untuk masuk ke dalam mobil.


Zurichorn, kini mereka berada di sana. Di pagi yang dingin itu, keduanya menatap ke arah air sungai yang mengalir dengan tenang, hingga kemudian Charles menarik Sharon ke dalam pelukannya, dan itu membuat Sharon kebingungan.


“Kau tahu? Aku sungguh bangga padamu, dan selalu begitu.” Tutur Charles.


“Memang apa yang sudah ku lakukan?” Sahut Sharon, dan Charles melepaskan pelukannya.


“Karena aku memiliki istri yang berjiwa besar. Kau sendiri tahu bagaimana perasaan Erina terhadapku, seharusnya kau bahagia ketika mendengar dia pergi, namun apa yang kau lakukan? Kau justru membantunya, dan tidak membencinya. Jika hal ini terjadi pada wanita lain, aku yakin jika mereka pasti akan mengusirnya lebih dulu sebelum dia mengundurkan diri.”


“Kebencian, dan dendam hanya akan merusak dirimu sendiri. Saat orang tengah terbakar, bukankah tidak baik jika kita menyiramkan minyak ke dalam kobarannya? Namun, jadilah air yang mampu meredamnya. Itulah yang tengah aku lakukan! Ketika Erina mulai mengalah, tidak mungkin aku mengusirnya begitu saja, dan memarahinya karena telah berniat menggodamu. Itu sama saja aku memulai pertikaian dengannya bukan? Jika hal itu aku lakukan, mungkin Erina akan berbalik semakin membenciku.”


“Astaga istriku ini sudah menjadi pintar ternyata.” Tutur Charles seraya mencubit kedua pipi Sharon. Namun, ia kembali membawanya ke dalam pelukannya. “Siang nanti, Charlie ingin menemui kita, katanya ada yang ingin ia sampaikan.”


“Tapi, kak Nick juga ingin...”


“... kita akan menemuinya setelah menemui Charlie, bagaimana?” Charles memotong pembicaran Sharon, dan Sharon segera menganggukkan kepalanya di dalam pelukan suaminya.


Bersambung ...