My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 151



Tidak lama kemudian, Sharon lekas berdiri, dan meninggalkan halaman belakang. Saat berjalan, ia tampak memegangi pinggangnya, duduk terlalu lama sungguh membuatnya merasakan pegal, dan juga berat.


Di usia kehamilannya yang sudah menginjak 7 bulan itu membuat Sharon menjadi bingung ketika melakukan hal apapun, baginya semua terasa serba salah. Namun, ketika mengingat baby twinsnya, ia selalu tersenyum kembali, dan semua yang di lakukannya terasa menjadi menyenangkan.


Setelah mengambil air, dia memutuskan untuk berjalan perlahan menuju kamar. Ia ingin membaringkan tubuhnya untuk sejenak disana, dan Charles tampak terus mengikutinya dari belakang.


Ketika berada di dalam kamar, Sharon duduk di tepi ranjang seraya menyimpan gelas yang di bawanya ke atas nakas. Kemudian, sesekali ia memijat pinggangnya sendiri. Charles yang melihat hal itu pun segera naik ke atas ranjang, ia duduk di belakang Sharon, dan memijatnya.


"Apa si kembar sudah menyusahkanmu?" Tutur Charles yang masih memijat pinggang istrinya.


"Tidak."


"Oh ya aku baru ingat, ada kedai baru di ujung jalan. Dengar-dengar makanan di sana sangat lezat. Bagaimana jika nanti malam kita makan disana?"


"Sebaiknya kita makan di rumah saja."


"Ada apa denganmu? Aku merasa kau tidak terlalu menanggapiku. Aku dengar kau juga pergi ke kantor, tapi kenapa tidak menemuiku?" Kini, Charles memeluknya dari belakang, dan meletakkan dagunya di atas bahu Sharon dengan begitu manja.


"Key menghubungiku saat itu, dia menginginkan masakan yang di buat olehku. Jadi, aku kesana untuk mengantarnya, dan tampaknya kau tengah sibuk, maka dari itu aku tidak menemuimu." Imbuh Sharon dengan pandangan yang tertunduk.


"Benarkah? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku bukan?" Ulasnya lagi.


"Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu?" Sharon memegang tangan Charles yang melingkar di bahunya.


Mendengar apa yang di ucapkan oleh Sharon membuat Charles kebingungan. Entah apa maksud dari perkataannya. Kemudian, hal tersebut membuat Charles berpindah tempat, ia turun dari ranjang, dan berlutut di hadapan wanitanya.


Wajahnya memandang kedua mata wanita di hadapannya dengan begitu lekat, terlihat jelas jika wanita itu tengah memikirkan sesuatu, lalu Charles menggenggam erat tangan Sharon seraya tersenyum hangat ke arahnya.


"Naomi, siapa dia?" Kini, Sharon membalas tatapan tersebut, dan Charles membelalakkan kedua matanya ketika mendengar istrinya menyebutkan nama wanita lain di hadapannya.


Kemudian, Charles kembali duduk di sisi Sharon, bibirnya menyimpulkan sebuah senyuman. Entah apa arti dari senyuman itu, Sharon tak bisa menerkanya sama sekali. Namun, satu yang ia rasakan saat ini, yaitu pilu. Bagaimana tidak? Suaminya bahkan tersenyum hangat di saat dirinya menyebut nama wanita lain.


"Naomi, dia adalah sekretaris baruku, dan usianya lebih muda 5 tahun dariku. Dia sungguh gadis yang lugu, manis, juga sangat polos. Dapat di katakan, jika dia adalah gadis yang cerdas, aku senang karena memiliki sekretaris sepertinya." Charles mencondongkan tubuhnya ke belakang, menumpu tubuhnya menggunakan kedua tangannya yang berada di sisi kanan kirinya, dan pandangannya menatap ke langit-langit kamarnya.


"Senang?" Mendengar Charles memuji wanita lain di hadapannya membuat Sharon meremas ujung pakaian yang ia gunakan.


"Ya. Kau tahu? Walau hanya sebulan, dia sudah mengerti banyak hal, aku sungguh terbantu dengan semua itu, dan dia ..."


"... apa yang kau katakan? Mana mungkin aku menyukainya? Hubungan kami hanya sebatas partner kerja, dan tidak lebih."


"Tapi, kau tersenyum di setiap kata yang kau ucapkan tentangnya. Seolah kau merasa senang ketika membahas gadis itu."


"Aku tersenyum? Memang benar aku tersenyum saat membicarakannya, aku hanya merasa heran dengannya. Apa kau tahu? Gadis itu menyukai Key." Lagi-lagi Charles tersenyum simpul, dan Sharon menolehkan kepalanya.


"Sungguh?" Sharon seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Jika kau tahu dia menyukai Key, kenapa kau terus bersama dengannya? Kau bahkan tertawa lepas bersamanya ketika sedang di lobby." Lanjutnya lagi, dan menatap pria di sisinya.


"Kami tengah merencanakan sesuatu untuk ulang tahun Key, dan gadis itu berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada asistenku yang satu itu. Sungguh tidak di sangka jika orang yang selalu bersamaku di sukai oleh seorang gadis lugu."


Sebuah tawa kecil terdengar, dan itu berasal dari Charles. Lalu, dalam sekejap ia membungkam bibirnya, ia tampak berpikir, dan menoleh ke samping dengan senyuman nakalnya. Sharon yang menyadari tatapan itu pun mengernyitkan keningnya.


"Jadi, kau melihatnya? Aku tahu sekarang." Lagi-lagi Charles tersenyum licik.


"A-apa yang kau tahu?"


"Pagi tadi, sebenarnya kau datang untuk menemuiku bukan? Kau ingin memberikan kotak bekal padaku. Tapi, setelah melihatku bersama dengan Naomi, kau memutuskan untuk kembali, dan akhirnya memberikan kotak bekal yang kau bawa pada Key agar tidak mencolok. Astaga, ternyata istriku tengah cemburu dengan seorang gadis." Charles tertawa kecil seraya mengacak-ngacak rambut wanita di sisinya.


"Maafkan aku." Untuk ke sekian kalinya Sharon menundukkan kepalanya. "Seharusnya aku tidak mencurigaimu, dan cemburu seperti ini. Aku..."


"... kenapa harus minta maaf? Akulah yang salah dalam hal ini, jika aku memberitahumu sejak awal, kau tidak akan berpikir sampai sejauh itu. Lalu, bagaimana caraku menebus kesalahanku?" Kemudian, Charles memeluknya. "Aku tahu, bagaimana jika kita belanja untuk kebutuhan si kembar? Aku bahkan selalu mengulur waktu untuk mereka. Jadi, jika kita pergi sekarang bagaimana?" Lanjutnya yang kemudian di balas dengan sebuah anggukkan dari Sharon.


Sharon sudah siap untuk pergi. Selagi menunggu Charles bersiap, Sharon memilih untuk duduk bersandar pada bantal yang ia sandarkan pada dinding ranjangnya. Ia mengusap perutnya, dan sesekali mengajak mereka bicara.


Setiap kali Sharon membuka suaranya, setiap kali ia mengusap perutnya, sebuah tendangan kecil ia rasakan, dan itu sungguh menyenangkan. Bahkan air matanya menetes sesekali ketika dia merasakan hal tersebut. Dia masih tidak menyangka jika di dalam rahimnya terdapat kehidupan, kehidupan kedua buah hatinya.


"Aku sudah siap, kita berangkat sekarang?" Charles tampak membenarkan letak kemejanya yang sengaja tak ia kancingkan. "Hey, kau menangis?" Tuturnya lagi saat melihat Sharon meneteskan air matanya, kemudian ia duduk untuk mengusapnya.


"Aku baik-baik saja." Sharon tersenyum ke arahnya. "Aah mereka menendangku lagi." Ucapnya lagi.


"Benarkah? Aku ingin merasakannya." Charles begitu exited akan hal tersebut. Kemudian, Sharon membawa tangan Charles menuju perutnya. "Ha Ha Ha. Aku bisa merasakannya saat ini, sungguh menggemaskan. Dengar nak! Kalian baik-baik ya di dalam sana, ayah sangat mencintai kalian." Gumam Charles yang kemudian mencium perut Sharon, sedangkan Sharon mengelus rambut suaminya.


Bersambung ...