My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 115



Tidak lama setelah itu, sebuah bel yang ada di villa mereka berbunyi, dan Charles segera meminta Sharon untuk segera bersiap, karena dirinya akan mengajaknya pergi ke bandara. Selagi Sharon membersihkan tubuhnya, Charles bergegas membukakan pintu untuk seseorang yang datang ke villanya.


Raeya, Erina, dan bibi Rey kembali secara bersamaan. Seharusnya bibi Rey kembali sehari setelah kepergian Raeya, dan adiknya, namun siapa sangka mereka justru kembali bersama. Awalnya Charles ingin sekali marah kepada Raeya, namun mendengar kabar jika ayahnya masuk rumah sakit, ia memendam itu, dan langsung meminta mereka untuk kembali bekerja.


"Tuan, apa kau ingin minum kopi?" Pungkas Erina.


"Ya buatkan saja. Aku menunggu di ruang tengah." Balas Charles yang duduk di sofa miliknya seraya membuka lembaran koran yang berada di atas meja.


Selang 5 menit, Erina kembali seraya meletakkan kopi tersebut, mereka sedikit berbincang, saat itu Charles tengah bertanya soal ayah mereka yang tengah di rawat, apa beliau sudah merasa baikkan atau belum. Namun sayangnya, ayah mereka gagal di selamatkan setelah operasi yang di lakukan.


Sharon melihat kedekatan keduanya, dengan langkah yang berusaha ia percepat, ia langsung merangkul lengan Charles seraya menatap Erina. Menyadari kembalinya Sharon, membuat Erina semakin tak menyukainya.


Kenapa dia harus datang di waktu yang tidak tepat? Begitulah fikir Erina saat ini. Kemudian, Erina memilih untuk kembali pada pekerjaannya, namun sedikit menatap Sharon dengan begitu tajam.


"Kita pergi sekarang!" Sharon menarik lengan suaminya untuk menuju garasi, dan Charles kebingungan mendapati sikap Sharon yang begitu aneh. Kemudian, ia menghentikkan langkahnya saat berada di luar rumah. "Aku tidak ingin kau dekat-dekat dengannya lagi." Gerutunya yang langsung menatap wajah Charles.


"Siapa yang kau maksud? Erina?" Tanya Charles, dan Sharon mengangguk pelan menanggapi pertanyaan tersebut. "Tapi kenapa? Aku melakukan kontak bukan hanya dengan dia, tapi ke semua pegawai di villa ini, dan kedekatan apa yang kau maksud itu? Hhmm, apa kau tengah cemburu kali ini?" Tuturnya lagi yang justru hal itu membuat Sharon menatapnya kesal.


"Apa kau tidak merasa? Tatapannya padamu itu adalah tatapan rasa suka. Dia menyukaimu, Charles! Dia bahkan memandangku ketus ketika aku datang tadi. Aku tidak ingin kau terlalu banyak bicara dengannya!"


"Begitukah? Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan. Aku tidak akan melakukan kontak dengannya, dan akan berusaha menghindarinya jika dia menghampiriku." Gumam Charles seraya mengusap lembut puncak kepala Sharon. "Baiklah ayo kita berangkat, 1 jam lagi Charlie akan check-in, aku ingin memastikan sesuatu dengannya."


Mereka pun berangkat meninggalkan villa, dan Erina masih tampak kesal dengan Sharon yang tiba-tiba datang mengganggunya. Bibirnya terus menggumam, namun Raeya selalu mengingatkan agar adiknya bisa membuang perasaannya, karena itu tidak seharusnya ia rasakan.


Sedangkan Charles, dan Sharon yang sudah tiba di bandara pun segera menghampiri Charlie. Melihat ada kursi tunggu, Charles meminta Sharon untuk duduk lebih dulu, karena ada hal yang ingin ia bicarakan ada saudaranya, ia bahkan menyuruh sang ayah untuk tidak ikut dalam pembicaraannya.


Charlie merasa bingung ketika kakaknya menarik pelan dirinya untuk menjauh beberapa langkah dari ayah serta kakak iparnya. Setelah itu sebuah jitakan mendarat di kepalanya, dan hal tersebut kembali membuatnya semakin bingung.


"Katakan yang sebenarnya padaku sekarang! Sebenarnya untuk apa kau pergi ke Jerman? Aku sangat yakin jika kau kesana bukan karena urusan bisnis, tapi karena hal lain 'kan?" Sahut Charles yang langsung menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya.


"A-apa maksudmu? Aku kesana sungguh ada urusan bisnis."


"Kau saudaraku, kita tumbuh besar bersama, kedua matamu menjawab segalanya padaku. Kau tengah menyembunyikan sesuatu dariku, Charlie. Katakan! Untuk apa kau pergi ke Jerman?"


"Berjanjilah untuk jangan mengatakannya pada ayah. Aku pasti akan memberitahunya, tapi tidak untuk saat ini."


Saat itu, Charlie mengatakan segalanya pada Charles. Yang di katakannya memang benar, sulit untuk menyembunyikan sesuatu darinya. Sekeras apapun dirinya berbohong, Charles selalu menangkap basah dirinya, namun sangat sulit baginya untuk menangkap basah Charles jika dia tengah berdusta.


Mendengar pengakuan saudaranya membuat Charles begitu terkejut, ia sungguh tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya. Namun, Charlie berjanji akan memberitahunya lagi setelah dirinya kembali dari Jerman, lebih tepatnya setelah ia tahu penyebabnya.


"Ingat! Jangan beritahu ayah soal ini! Jika aku kembali, dan ayah menanyakan hal yang macam-macam, aku tidak akan memaafkanmu, kak." Ancamnya, dan Charles tertawa menanggapinya.


"Baiklah ayo kita kembali. Sebaiknya kau segera berangkat sebelum pesawatmu meninggalkanmu, jika kau terlambat, maka kau tidak akan tahu penyebabnya." Ejek Charles, dan secara bersamaan, Charlie langsung memberikan tatapan tajamnya.


Mereka kembali, dan Charlie segera berpamitan pada ayah serta kakak iparnya. Tidak lupa untuknya memeluk sang ayah, ketika ia hendak memeluk Sharon, justru Charles lah yang datang menyambut pelukannya itu, dan hal itu membuatnya kesal.


Setelah melepaskan pelukan Charles, Charles kembali menatapnya tajam, seolah ia berkata 'jika berani macam-macam, aku akan memberitahu segalanya pada ayah', dan Charlie sangat mengerti akan tatapan itu.


Kemudian, ia segera berjalan meninggalkan mereka. Saat sudah tidak terlihat, baik Charles maupun ayahnya pun ikut pergi meninggalkan bandara, dan kembali pada aktifitasnya masing-masing.


Dalam perjalanan, Sharon terus menatap Charles dengan seksama. Hal itu sungguh mengganggunya, hingga ia meminggirkan mobilnya, dan membalas tatapannya.


"Sebenarnya ada apa? Tatapan apa itu? Apa kau tengah terpesona dengan ketampananku pagi ini?" Ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Kau sungguh tidak berubah, rasa percaya dirimu semakin hari semakin meningkat."


"Justru itulah daya tarikku. Buktinya aku bisa mendapatkanmu." Charles menggodanya seraya mencolek dagu wanita di sisinya.


"Berhenti bermain-main, sebenarnya apa yang kau bicarakan pada Charlie sehingga kau harus menjauh dariku, dan juga ayah?"


"Oh tidak, ternyata istri kecilku ini menyadari sesuatu."


"Katakan padaku! Jika tidak, maka aku akan turun sekarang, dan menginap di rumah Alice, hingga kau memberitahuku baru aku akan kembali."


"Kau sungguh pandai mengancam, istriku. Kau sangat tahu kelemahanku, aku sungguh tidak bisa jauh darimu. Baik aku akan mengatakannya, hanya padamu! Tapi, tungguh kita sampai di suatu tempat."


"Sungguh kau akan memberitahuku? Dan kemana kita akan pergi?" Tuturnya, dan Charles menanggapinya dengan senyuman terbaiknya. Lalu, ia kembali melajukan mobilnya.


Bersambung ...