My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 81



Natasha menyambut tangan yang Kent sodorkan, ia menggenggamnya dengan membalas senyuman hangat pria itu. Kemudian, keduanya segera meninggalkan pantai, dan memutuskan untuk kembali ke apartment mereka. Dalam perjalanan, keduanya sungguh membicarakan banyak hal, keduanya menjadi begitu akrab walau hanya baru mengenal dua hari.


Pembicaraan mereka pun terbilang begitu terbuka, keduanya saling membicarakan masa lalunya masing-masing. Mulai bagaimana mereka menemukan cinta pertamanya, hingga sampai mereka menjadi seorang diri. Kisah keduanya hampir mirip, hanya saja jika Kent harus berpisah karena tidak ada persetujuan dari ibunya, jika Natasha di khianati. Keduanya, sama-sama di tinggalkan oleh orang yang mereka cintai.


Di tempat yang jauh berbeda, Nick tampak terlihat begitu gelisah. Matanya terus memandangi jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, sesekali ia juga melihat ponselnya, dan menghubungi seseorang, namun tampaknya orang tersebut tak menerima panggilan darinya.


Ketika ia mulai menyerah, dan hendak meninggalkan tempat tersebut. Seseorang tiba di hadapannya dengan nafas yang begitu tersengal. Orang itu membungkukkan tubuhnya sembari mengatur nafasnya.


"Hah, m-maaf, maafkan aku." Serunya yang masih mengatur nafasnya dengan baik, dan melihatnya datang langsung membuat senyuman pria itu terukir. "Wah~ indah sekali." Sambungnya ketika ia sudah berdiri dengan benar. Melihat hiasan indah pada cafe tersebut sungguh membuat orang itu terpana.


Pria itu berjalan menghampiri orang di hadapannya dengan begitu semangat, tanpa berfikir panjang, dengan cepat ia membawa orang itu ke dalam pelukannya, pelukan yang begitu erat hingga membuat orang tersebut kebingungan. Merasa tidak nyaman, orang yang berada dalam pelukannya itu pun segera melepaskan diri, dan sedikit mendorong tubuh pria di hadapannya.


"A-apa ada hal yang ingin kau bicarakan, kak?" Orang itu menundukkan pandangannya.


"Kau tahu? Aku hampir gila menunggumu di sini tanpa ada kabar sedikit pun darimu. Menyiapkan semua ini untukmu, berharap kau menyukainya, dan ketika ponselmu tidak bisa di hubungi, aku merasa putus harapan. Aku berfikir, apa kau tidak akan datang? Atau apa kau melupakannya."


"Maafkan aku. Tidak biasanya cafe tempatku bekerja paruh waktu sangat ramai pengunjung, hingga membuat manager disana memintaku untuk menambahkan jam kerjaku, dan mereka berjanji akan membayar lebih untukku. Maka dari itu aku mengambilnya, tapi tidak ku sangka akan selama itu." Orang itu terkekeh seraya menggaruk pelipis matanya yang tidak gatal. "Tunggu, tadi apa yang kak Nick katakan? Kak Nick sengaja menyiapkan tempat ini untukku?" Lanjutnya dengan kedua mata yang terbelalak.


"Benar. Ada apa? Apa aku tidak boleh melakukannya?" Nick memandang orang dihadapannya dengan begitu lekat.


"B-bukan begitu. Tapi untuk apa? Dan kenapa kak Nick melakukannya?" Orang itu kembali menundukkan wajahnya.


"Karena aku menyukaimu, Alice." Sahut Nick yang langsung membuat gadis di hadapannya menatapnya dengan rasa tak percaya.


Astaga, apa yang dikatakan pria ini? Apa dia sedang bergurau?


Fikiran Alice menjadi kacau seketika. Dia terus berfikir, otaknya terus berputar, mencoba menyerna kata demi kata yang di lontarkan oleh pria di hadapannya. Apa dirinya tidak salah dengar atau sejenisnya?


"Kak, apa yang kau ucapkan itu sungguh-sungguh? Apa kau yakin dengan ucapanmu itu? Kau tidak sedang mabuk, 'kan?"


"Tentu saja aku sangat yakin, dan aku pun tidak mabuk. Kenapa? Apa kau meragukannya?"


"B-bukan seperti itu, tapi aku hanya terkejut saja. Keluarga kalian adalah keluarga terpandang, mana mungkin aku bisa memasukinya? Derajat kita sungguh berbeda."


"Derajat apa? Aku tidak perduli, dan aku pastikan jika ibuku tidak akan melarang hubungan ini. Jadi, apa kau mau menjadi pendampingku?"


"P-pendamping? Pendamping yang bagaimana yang kak Nick maksudkan?"


"Tentu saja pendamping hidupku. Memang apa lagi? Kau sungguh tidak menyenangkan, aku ini sedang melamarmu." Dengus Nick yang sedikit kesal.


Terkejut dengan apa yang di utarakan oleh pria di hadapannya, Alice meneteskan air matanya. Nick yang menyadari hal tersebut pun tentu saja kebingungan, dan berfikiran, apa kata-kata terakhirnya tadi itu membuatnya terluka?


Dengan cepat Nick mendekatkan tubuhnya, dan menggenggam erat kedua tangan gadis di hadapannya. Merasa bersalah, Nick terus menghiburnya, dan memintanya untuk tidak menangis lagi, namun sayangnya tangisan itu semakin menjadi.


"Aku mohon berhentilah menangis! Jika kau terus menangis seperti ini, maka orang-orang akan datang untuk memukuliku. Mereka pasti menyangka jika aku sudah berlaku yang tidak-tidak padamu." Nick mulai panik, dan Alice kini sudah sedikit tenang.


Melihat Alice yang sudah berhenti menangis membuat Nick lega. Sesekali pria itu juga menyeka cairan bening yang tersisa di kedua pipi Alice. Lalu, ia meletakkan kedua tangannya di pipi gadis di hadapannya, memintanya agar ia mau menatap wajahnya.


"Begini lebih baik." Ungkapnya seraya tersenyum. "Jadi, bagaimana? Apa kau menerima lamaranku?" Imbuhnya lagi.


Bersambung ...