My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 41



"Besok, aku akan mengundangmu untuk makan malam dirumahku, sekaligus membahas hubungan kita ke depannya bersama ayah."


•••


Saat itu nyonya Edbert tengah mengunjungi putranya, dan ia datang bukan tanpa berita. Ia hanya ingin memberitahu putranya, jika pernikahannya dengan Grace akan di langsungkan 6 bulan lagi.


Mendengar pernyataan tersebut membuat Kent sungguh tidak terima. Meski hubungannya dengan Grace cukup dekat, dan baik-baik saja, bagaimana pun juga dia tidak mencintainya.


Grace yang mendengar berontakkan Kent terlihat begitu kecewa. Memang benar Grace sangat menantikan pernikahan tersebut, karena Grace memang menyukainya, namun tidak dengan Kent.


"Baiklah Kent. Jika kau menolak pernikahan ini, maka ibu akan bunuh diri." Ibunya menggertak.


"Tidak. Aku mohon jangan. Baiklah aku menyetujuinya."


Kent memang tidak menyukai keputusan sepihak yang sudah di ambil oleh ibunya. Meski begitu, ia tidak mungkin bisa kehilangan sang ibu jika harus mengikuti keegoisannya.


Dengan terpaksa Kent menerima semuanya. Namun, dengan cepat ia meminta mereka untuk meninggalkannya sendiri. Dirinya butuh waktu untuk mencerna semua kejadian tersebut.


"Minggu depan, kau harus kembali ke Bern untuk melakukan foto pernikahan, dan memesan design baju pernikahan kalian." Sahut ibunya sesaat sebelum keluar dari villa milik putranya.


"Bukankah pernikahan akan berlangsung 6 bulan lagi? Kenapa harus melakukan hal itu dengan cepat? Masih banyak waktu, dan aku tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan hal yang tidak penting. Beli atau sewa saja beberapa pakaian, tidak perlu melakukan hal yang merepotkan."


"Tidak penting katamu? Kau adalah putra keluarga Edbert, dan pewaris tunggal Edbert Group. Mana mungkin kita menyiapkan pesta biasa saja? Kita harus melakukan pesta yang mewah, karena yang undangan yang datang bukanlah orang biasa."


"Haaah, terserah ibu saja." Kent mendengus kesal saat itu, dan Grace hanya mampu menundukkan kepalanya mendengar pertengkaran antara ibu-anak saat itu. "Yasudah, kalian bisa pergi sekarang, aku butuh waktu sendiri saat ini." Imbuhnya lagi yang langsung masuk ke dalam kamar, dan membanting pintunya.


"Ibu, apa Kent sangat tidak menyukaiku, ya? Aku rasa dia masih terbayang-bayang dengan masa lalunya, beberapa kali juga aku pernah melihatnya masih menemui wanita itu."


"Grace, apa yang kau katakan? Jadi, wanita itu ada di kota ini juga?" Ungkap nyonya Edbert, dan Grace mengangguk pelan. "Kau tenang saja, aku akan mengurus wanita itu."


Saat itu juga nyonya Edbert meminta orang untuk mencari keberadaan Sharon. Tidak peduli dengan cara apapun, mereka harus bisa menemuinya saat itu juga.


Kent yang tengah berdiam diri di dalam kamar hanya mampu memandangi fotonya ketika bersama dengan Sharon. Sampai saat ini, galeri fotonya masih dipenuhi dengan foto-foto gadis itu.


Hari semakin siang, dan Kent masih tidak beranjak dari kasurnya. Ia merindukan gadis itu, perasaannya justru semakin mendalam, ketika ia hendak menghubungi Sharon, justru ponselnya berdering lebih dulu.


"Kent? Kau dimana? Ini gawat. Kau harus datang sekarang." Orang di seberang sana terdengar begitu panik.


"Aku, dan Sharon sedang makan siang bersama. Ibumu, entah sejak kapan dia datang, dan tidak tahu bagaimana ia menemukan kami, lalu ia membuat keributan dengan Sharon."


"Katakan padaku dimana lokasinya, aku segera datang." Kent pun tak kalah panik mendengar soal tersebut. Ia menyambar jaket serta kunci mobilnya, dan saat mendapatkan pesan lokasi yang dikirimkan oleh Alice. Kent langsung menambahkan kecepatan mobilnya.


Disaat yang bersamaan, Sharon mendapat sebuah tamparan keras dari ibu Kent di pipi kanannya, kemudian di lanjut oleh Grace yang menarik rambut bagian belakangnya.


Alice yang selesai menelfon pun datang untuk melerai mereka, namun dengan cepat Grace mendorongnya menggunakan tangan yang satunya. Hal tersebut membuat Sharon sangat geram, dan mencengkram kuat tangan Grace.


Tatapannya berubah, cengkraman Sharon membuat Grace melepaskannya, kemudian ia menampar wanita itu, dan mendorongnya.


"Kau boleh melukaiku, namun aku tidak mengizinkanmu untuk melukai temanku nona Olsen." Sahut Sharon yang langsung membantu Alice untuk bangun.


"Beraninya kau melukai menantuku."


"Menantu?" Gumam Sharon.


"Dengar ini baik-baik. Grace Olsen, dan Kent Edbert akan menikah dalam waktu 6 bulan. Jika kau masih berani untuk mendekati putraku, aku tidak akan memberimu ampun sedikit pun."


"Maaf nyonya Edbert. Sejak kejadian itu, aku sudah tidak berniat lagi untuk mendekati putramu. Maka dari itu aku pergi meninggalkan Bern, dan datang ke Zurich. Namun siapa sangka jika putramu menemukanku disini."


"Sialan. Jadi, maksudmu putraku yang berusaha mendekati, dan mengejarmu? Kau fikir putraku itu pria murahan?" Lagi-lagi nyonya Edbert melayangkan tangannya, namun semua itu di tahan oleh seseorang.


"Jika ada wanita murahan, kenapa tidak ada pria murahan, ibu?" Kent langsung berdiri menghadang ibunya, dan menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Sharon. "Apa yang kalian lakukan disini? Apa kalian tidak malu membuat keributan di tempat umum seperti ini?"


"Kent syukurlah kau datang, wanita itu, dia tadi menamparku, dan mendorongku." Grace mengadukan semua sikap Sharon padanya.


"Dengar Grace. Aku mengenal Sharon sudah sejak lama. Dia tidak akan melakukan hal itu jika tidak ada yang memancingnya." Ucapannya terdengar dingin, dan tatapannya pun terlihat mematikan.


"Benar. Sharon melakukannya, karena wanita itu mendorongku lebih dulu." Alice menyahut, dan Kent melirik ke belakang ketika mendengar perkataannya.


"Grace. Jika kau melakukan hal yang bisa menyakiti Sharon lagi, maka dengan tegas aku akan memutuskan pertunangan kita, dan tidak akan pernah untuk menyetujui pernikahan tersebut. Sampai kapan pun." Kent juga melepaskan tangan ibunya saat itu. "Sekarang tinggalkan tempat ini." Imbuhnya lagi.


Bersambung ...