
Kini, Sharon berserta beberapa office boy/girl yang lain ditugaskan untuk membawakan air mineral ke arah ruang rapat, karena dua jam lagi rapat akan segera di mulai. Setelah membawa air-air tersebut, mereka kembali membereskan letak kursi di sana.
Seselesainya, mereka kembali pada pekerjaannya masing-masing. Kemudian, seseorang pun mencegah langkahnya dengan berdiri di hadapannya. Sejak tadi, Sharon selalu menundukkan kepalanya, karena orang itu, ia pun menengadahkannya, untuk melihat siapa yang sudah menghadang jalannya.
"Ternyata benar kau." Seorang pria tersenyum ke arahnya.
"Kak Nick? Jadi, Sworth Company juga salah satu pemegang saham di perusahaan ini?"
"Tentu, kami baru bergabung belum lama ini, dan tuan Charles sendiri yang mengajukannya."
"Charles? Belum lama? Aku juga menceritakan masalah keluarga Sworth padanya beberapa waktu lalu. Apakah Charles sengaja mengajukan kerja sama pada mereka? Dia tidak berniat untuk menghancurkannya bukan?" Ashley menundukkan pandangannya, hingga salah seseorang membuatnya terkejut karena menyenggol bahunya begitu saja.
"Hey, berhenti melamun. Kau sungguh tidak berubah." Sambar orang tersebut seraya mencubit kedua pipi Sharon. "Hai kak Nick. Tidak ku sangka akan bertemu denganmu." Timpalnya dengan melambaikan tangan pada pria di hadapannya.
"Kent? Hubungan kalian masih berjalan baik, aku senang melihatnya."
"Tentu saja. Kita akan terus seperti ini, benar tidak?" Imbuh Kent dengan mendekap tubuh gadis di sisinya.
"Lepaskan aku bodoh. Kau ini sudah bertunangan, jadi jaga sikapmu." Sharon melepaskan dekapan tersebut seraya memalingkan wajahnya. Melihat ekspresi tersebut justru membuat Nick, dan Kent tertawa kecil.
"Setelah rapat selesai, aku berharap bisa makan bersama kalian. Aku akan bicara pada Charles mengenai ini. Baiklah aku masuk dulu. Perhatikan jalanmu ketika sedang bekerja, berhati-hatilah." Tutur Nick seraya mengusap puncak kepala saudara sepupunya itu.
"Aku juga masuk dulu. Jangan merindukanku ya gadis kecil." Kent menambahkan dengan meninggalkannya sebuah kecupan kecil di pipi Sharon, kemudian ia pun berlari seraya menjulurkan lidahnya.
Terlihat jelas jika Sharon memakinya ketika mendapat perlakuan tersebut, namun tidak lama kemudian, ia pun tersenyum kecil. Tidak ada urusan lagi di lantai tersebut, Sharon langsung kembali ke lantai bawah.
Pintu lift terbuka, dan ada Charles di dalam sana. Dengan cepat Sharon membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada direkturnya tersebut. Tanpa berkata-kata lagi, Sharon lekas pergi dari hadapannya.
Charles masih memandanginya hingga pintu lift tertutup. Sebenarnya, ia melihat semua apa yang dilakukannya ketika tengah bersama Nick, dan Kent tadi. Hanya saja, dengan cepat ia turun satu lantai, dan kembali naik lagi agar gadis itu tidak tahu.
Melihatnya di cium oleh pria lain tentu saja membuat Charles sangat marah. Bagaimana pun juga, dia masih sangat berharap jika hubungannya dapat kembali seperti dulu, tidak ada pertengkaran, tidak ada air mata kesedihan, yang ada hanya kebahagian, canda, dan tawa.
Rapat sudah hampir di mulai, dan Charles segera bergegas menuju ruang rapat. Setibanya di dalam, para clientnya pun berdiri, dan memberi hormat padanya, kemudian Charles pun meminta mereka untuk kembali duduk.
"Baiklah, langsung saja pada intinya. Rapat kali ini, kita akan bersaing untuk memenangkan tender yang di adakan di London bulan depan. Beberapa bulan terakhir ini, jumlah saham kita teruslah bertambah, dan keuntungan pun tentu sudah kalian rasakan bukan? Jika kita bekerja sama untuk memenangkan tender kali ini, maka nilai usaha kita akan kembali naik."
"Dalam tender ini, berapa keuntungan yang di dapatkan?" Sahut William perwakilan dari Miu Star.
"Sebesar 10 juta dollar."
"Apa CBC Group akan mengikuti tender ini?" Kent menyambar.
"Tentu, dan mereka menjadi salah satu pesaing kita. Tidak peduli, kita harus mampu memenangkannya."
"Aku sendiri yang akan berangkat tuan Nick. Baiklah, apa ada pertanyaan lagi?" Balas Charles seraya menyandarkan tubuhnya. "Jika sudah tidak ada, maka rapat selesai sampai disini."
Mereka pun kembali berdiri ketika melihat Charles berdiri. Kemudian, Charles membungkukkan tubuhnya ke hadapan mereka semua, dan tak lupa untuk berterima kasih atas waktu yang sudah mereka luangkan.
Ketika Charles keluar, Nick pun segera mengejarnya, dan meminta izin padanya untuk membawa Sharon keluar makan siang. Mendengar permintaan tersebut membuat Charles terdiam sejenak, dan rasanya ingin sekali ia menolak permintaan tersebut.
"Silahkan. Namun, bawa dia kembali tepat waktu ketika jam makan siang berakhir." Sahut Charles dengan nada yang terdengar dingin.
"Baiklah, terima kasih tuan Austin."
Tak memperdulikan hal tersebut, Charles segera meninggalkannya. Hingga kemudian, Kent pun datang, dan meletakkan sikutnya tepat di atas bahu Nick. Menyadari itu, membuat Nick menoleh, dan menjitak kepala pria itu.
"Kau menyakitiku. Aku akan adukan perilakumu ini pada gadis kecilku nanti."
"Sharon tidak akan membelamu. Baiklah, apa kau mau ikut makan siang bersama kami?"
"Jika ada Sharon, maka aku tidak akan pernah menolak." Kedua mata Kent terlihat berbinar-binar setelah mendengar semua itu.
"Pantas saja hubungan kalian berakhir begitu cepat. Ternyata sifatmu sangat kekanak-kanakkan."
"Hubungan kami berakhir bukan karena itu, kak." Sambar Kent yang mempoutkan bibirnya.
"Aku tahu. Yasudah, aku temui Sharon dulu."
Sharon yang berada di ruang istirahat office girl pun tengah duduk seraya menikmati secangkir vanilla latte beserta dengan rosti ukuran kecil. Tak lama kemudian, Key memanggilnya atas perintah dari Charles.
Menerima panggilan tersebut membuat Sharon menghela nafasnya dengan berat. Kemudian, ia pun lekas berdiri, dan meninggalkan ruangan tersebut. Dalam perjalananannya, ia berpapasan dengan Nick.
"Ayo kita makan siang bersama. Aku sudah meminta izin pada Charles. Kent juga sudah menunggu di lobby."
"Tuan Austin hendak menemuiku. Kak Nick tunggu saja di lobby, aku akan menyusul."
"Baiklah."
Setelah mengatakan hal itu, Sharon kembali melanjutkan langkahnya, dan memasuki lift untuk pergi ke lantai 16 dimana ruangan Charles berada. Ia mengetuk pintunya ketika tiba di sana, dan masuk ketika mendapat izin darinya.
"Tuan Austin memanggilku?" Gumam Sharon, dan Charles langsung bangkit dari tempat duduknya untuk menghampirinya.
Bersambung ...