
Hari ketika dimana orang-orang yang sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya. Berbeda dengan Kent yang masih menemani tunangannya sarapan di salah satu cafe. Ingin sekali ia segera pergi meninggalkannya, namun bagaimana pun juga, ia tidak bisa membuatnya kecewa.
Hingga kemudian, ia melihat seseorang yang di kenalnya tengah berjalan di luar. Dia tidak sendiri, dan entah kenapa sebuah senyumannya terukir. Lalu, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri keduanya.
"Tuan Austin? Sepertinya kita jadi sering bertemu, ya?" Kent menyahut. "Siapa wanita ini? Aah dia pasti kekasihmu yang kau ceritakan padaku kemarin itu bukan?" Imbuhnya lagi.
"Bukaaann. Dia adalah..."
".. aku adalah calon istrinya. Namaku adalah Maisha." Wanita yang berada di sisinya menyahut begitu saja.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Saat menyebrang, dia tidak lihat-lihat jalan. Tidak sengaja mobilku menyerempetnya. Jika begitu, aku harus segera pergi untuk membersihkan luka-lukanya."
"Baiklah. Hati-hati di jalan." Kent melambaikan tangannya ketika melihat Charles sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa kau pergi begitu saja? Dan pada siapa kau melambaikan tangan?"
"Grace? Sejak kapan kau disini? Itu hanya rekan kerja. Ayo kembali." Sambar Kent yang langsung membawa wanita itu kembali ke cafe.
Berbeda dengan Kent, dan Charles. Sharon sudah mulai menyibukkan dirinya di kantor sejak pagi buta. Bersama dengan beberapa pegawai, mereka membersihkan lantai 20 yang katanya akan di gunakan untuk rapat penting.
Ketika pekerjaan di sana sudah hampir selesai, Sharon kembali menuju lantai 16, dan saat pintu lift terbuka, ia melihat seseorang yang sangat di kenalinya. Ia melihat Charles tengah memapah seorang wanita.
Wanita itu, wanita yang pernah ia temui beberapa waktu lalu. Dia adalah mantan kekasih Charles, melihat keduanya, membuat Sharon berfikir, mungkin keduanya memutuskan untuk kembali.
"Nona Hwang." Panggilan tersebut membuat Sharon menghentikan langkah kakinya, dan mencoba menoleh.
"Ada apa tuan?"
"Charles, bukankah dia gadis yang bersamamu saat itu? Aku tidak salah, 'kan? Ternyata dia hanya pekerja di kantormu, aku fikir dia itu kekasihmu."
"Tidak perlu perdulikan dia, dan nona Hwang, tolong ambilkan kotak obat ke ruanganku, sekarang!" Perintah Charles adalah mutlak, kemudian Sharon pun segera meninggalkan mereka untuk memenuhi permintaan Charles.
"Aku sangat yakin jika gadis itu adalah kekasihnya. Namun, sesuatu pasti tengah terjadi di antara keduanya, dan aku akan memanfaatkan situasi ini agar mereka tidak akan pernah bisa kembali." Maisha tersenyum licik ketika melihat punggung Sharon yang semakin menjauh, dan Charles segera membawanya menuju ke dalam ruangannya.
Sharon telah kembali dengan kotak p3k di tangannya. Tanpa basa basi, ia segera meletakkan kotak tersebut di atas meja kerja milik Charles. Melihat Charles yang tengah mensterilkan luka pada lutut serta dahi wanita itu membuat Sharon mengeraskan rahangnya agar tidak terpancing suasana.
Ketika ia hendak keluar, Charles menahannya untuk menunggu ia selesai menggunakan kotak p3k tersebut. Dengan maksud, agar tidak menjadi pekerjaan dua kali. Ingin rasanya ia menolak, namun ia tidak memiliki alasan yang kuat.
Tidak memandang Sharon sedikit pun, Charles mengambil kotak tersebut, dan kembali ke sofa menuju tempat dimana Maisha duduk. Ia kembali berlutut di hadapan wanita tersebut, dan kembali mengobati lukanya.
"Cengkram bahuku untuk menahan sakitnya, dan tahan sebentar." Sahut Charles yang masih dengan aktifitasnya.
Ketika sedang membenahi luka pada dahinya, Maisha menatap lekat wajah Charles, ia pun mengusap pipi pria itu dengan sangat lembut. Hingga kemudian, ia memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya, dan menciumnya.
Mendapat perlakuan itu sungguh membuat Charles sangat terkejut, ingin melepaskannya, namun tidak bisa. Sadar ada Sharon disana, Charles justru menahannya. Sedangkan Sharon, air matanya sudah menetes ketika melihat hal tersebut.
"Maaf, aku permisi." Tuturnya, dan suaranya terdengar sedikit parau. Setelah tahu gadis itu sudah keluar, Charles mendorong tubuh Maisha, dan melangkah mundur.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sedang mencuri kesempatan?" Nada bicara Charles terdengar meninggi.
"Tapi kau tampak menikmatinya. Aaah, apa karena ingin memanas-manasi office girl itu ya?"
"Kami tidak memiliki hubungan lebih, Maisha. Lukamu sudah selesai ku obati, jika tidak ada urusan lagi, kau boleh pergi. Karena beberapa jam lagi, aku harus melakukan rapat dengan para pemegang saham."
"Lalu, apa aku boleh datang kembali?"
"Lakukan sesuka hatimu." Ungkap Charles tanpa memandang wanita tersebut. Namun, ia tengah membereskan barang-barang yang telah di gunakan ke dalam kotak p3k.
Ketika Maisha sudah meninggalkan ruangannya, Charles mampu bernafas lega. Ia membanting tubuhnya di atas sofa miliknya, dan mendengus kesal. Ia sungguh menyesali perbuatannya tadi.
Hal yang sudah dilakukannya, sudah jelas akan membuat gadisnya semakin membencinya. Namun, ia masih saja melakukan hal tersebut, dengan harapan jika Sharon akan menyekat mereka.
"Apa dia sudah benar-benar membenciku?" Charles merasa frustasi dengan keadaannya kali ini. Bagaimana pun, ia tidak akan terima jika gadis itu membencinya.
Kemudian, Charles beranjak dari tempatnya, dan bergegas keluar seraya membawa kotak p3k tersebut. Langkah kakinya menuju sebuah dapur, dan di sana ia melihat Sharon tengah membersihkan sesuatu.
Tak menyadari kehadirannya. Charles menghampirinya, dan langsung memberikan kotak tersebut padanya. Sharon yang mengetahui hal tersebut pun langsung mengambilnya, dan segera menyimpannya kembali.
Tidak sepatah kata pun yang ia ucapkan, dan hal itu tentu saja membuat Charles semakin frustasi. Gadis ini sungguh pandai menyembunyikan perasaannya, itulah yang ada dalam fikirannya kali ini.
"Tuan Charles, sebaiknya anda segera tinggalkan ruangan ini. Jika ada yang melihat, akan menjadi gosip yang tidak baik." Sahut Larissa yang sejak tadi sudah berada disana.
"Baiklah." Charles masih memandanginya sesaat sebelum ia keluar. "Sekeras apapun kau mengabaikanku. Kau harus tahu, jika aku sangat mencintaimu." Batinnya
Bersambung ...