
Karena rasa khawatir, dan rasa yang tidak mengenakkan terasa di hatinya, Sharon langsung menyambar ponselnya untuk segera menghubungi Charles. Bagaimana pun dua jam sudah berlalu, dan seharusnya pria itu memang sudah tiba di rumah bukan?
Panggilan pertama tak mendapatkan jawaban, hal itu sungguh jarang terjadi. Sesibuk apapun pria itu, jika dirinya melakukan sebuah panggilan, tanpa berfikir panjang, dia pasti akan segera menerimanya lebih dulu.
"Charles, dimana kau sekarang?" Sahut Sharon yang sadar ketika panggilan tersebut telah di terima.
"A-aku dirumah, ada apa?" Balas seseorang di seberang sana.
"Apa kau baik-baik saja? Tiba-tiba aku mengkhawatirkanmu."
"Aku tidak apa-apa. Aku sedang bicara dengan ayah, aku akan matikan sekarang."
"Sebentar! Lalu, apa besok kau jadi menjemputku untuk bekerja?"
"Aku akan menghubungimu kembali besok. Sampai jumpa." Tuturnya yang langsung mematikan panggilan tersebut.
Panggilan tersebut, dan suara itu terasa begitu aneh di telinga Sharon. Bagaimana mungkin Charles setegang itu, dan sedingin itu ketika bicara dengannya? Namun, ia mencoba menyingkirkan fikiran negatif tersebut, dan berfikir jika mungkin pria itu memang benar-benar tengah membicarakan hal penting dengan ayahnya.
Di samping itu, seseorang menyimpan kembali ponsel milik Charles di atas nakas yang berada tepat di samping ranjang milik Charles. Matanya terus menatap wajah pria yang tengah terpasang sebuah oksigen di hidungnya.
"Kak, kau harus bangun! Entah apa yang akan aku katakan pada kekasihmu itu jika kau harus sampai koma." Racau Charlie yang merasa frustasi.
"Apapun yang terjadi jangan sampai dia mengetahuinya, Charlie!" Imbuh seseorang dengan suara yang terdengar lemah, dan Charlie langsung menatapnya.
"Kak, kau sadar? Aku akan panggilkan ayah sekarang."
"Charlie." Sahut Charles yang menahan langkah adiknya. "Tolong ambilkan satu amplop yang berada dalam laci nomor 2." Tuturnya lagi, dan Charlie segera mengambilnya.
"Apa isi amplop itu?"
"Jika memang sampai terjadi sesuatu, berikan amplop ini, dan aku akan memberitahumu apa yang harus kau lakukan setelah memberikannya."
"Kau pasti akan baik-baik saja, kak. Tidak akan terjadi apa-apa padamu, percayalah padaku!"
"Bodoh! Apa kau berfikir aku juga tidak ingin hal baik datang padaku? Bagaimana pun, aku ini masih muda, dan aku juga lebih populer darimu 'loh."
"Kau sedang sakit seperti ini, bisa-bisanya kau masih memiliki rasa percaya yang begitu tinggi."
Ingin rasanya Charlie memukulnya, tapi ia tak bisa melakukan hal demikian. Jika saja Charles mengatakan semua itu dalam keadaan sehat, mungkin sebuah tinjuan kecil sudah sampai di wajahnya.
Mendengar sebuah keributan membuat Bill mencari sumber tersebut. Setibanya di kamar Charles, dengan cepat pria paruh baya itu memeluk kedua putranya yang tengah bertengkar kecil, kemudian mereka membalas pelukan tersebut.
"Ayah, maafkan aku." Gumam Charlie yang memejamkan matanya ketika menikmati pelukan ayahnya.
Sejak kecil, keduanya memang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Meski begitu, mereka sama sekali tidak pernah kekurangan kasih sayang, karena Bill selalu memberikan semuanya untuk mereka. Maka dari itu keduanya begitu menyayangi sang ayah, dan tidak pernah mengeluh sedikit pun terhadapnya.
"Dokter Albert dari Paris akan membantu mencarikanmu pendonor, namun ayah tidak bisa pastikan kapan dia mendapatkannya."
"Ayah tidak perlu khawatir. Mencari pendonor hati sangatlah sulit, aku juga tidak berharap lebih dengan operasi atau pendonor itu. Jika memang tidak berhasil mendapatkannya, bukankah ada ibu di atas sana?" Charles tersenyum, dan merasa kesal dengan perkataannya itu, Charlie langsung pergi meninggalkan kamar tersebut dengan membanting pintu.
"Kau tidak boleh berhenti berharap. Aku yakin jika kau akan kembali seperti sedia kala, dan saat itu terjadi, aku akan memberikan semua yang kau inginkan."
"Terima kasih, ayah."
Hari sudah malam, dan seorang pelayan mengantarkan makanan ke kamar Charles. Ia menanyakan keberadaan saudaranya, namun pelayan tersebut mengatakan jika Charlie belum kembali sejak siang tadi. Setelah menyimpan makanan itu, pelayan tersebut segera permisi untuk keluar.
"Ada apa dengannya? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Apa ada kata-kataku yang melukainya?"
Charles segera mengambil ponselnya untuk mencoba menghubunginya. Namun, orang di seberang sana tampak tak menggubris panggilannya. Hingga ia pun segera mengalihkan panggilannya ke orang lain.
"Key, bisakah bantu aku untuk menemukan Charlie? Setelah itu jemput aku untuk membawanya kembali."
"Tuan, kau sudah sadar? Aku sangat panik ketika mengetahui kau tak sadarkan diri selama perjalanan pulang. Aku juga.."
"... terima kasih karena telah mengkhawatirkan aku. Tapi, bagaimana dengan tugas yang ku berikan padamu barusan?" Timpah Charles.
"Aku akan melacaknya, dan akan segera memberitahumu tuan."
"Aku tunggu kabar darimu secepatnya."
Bersambung ...