
Hari telah berlalu, dan semua yang terjadi tetaplah terjadi. Sharon pun mencoba untuk bangkit dari segala kesedihan, juga kekecewaannya. Meski perasaannya itu masih mengalir kuat untuknya, baginya itu adalah kesalahan. Kesalahan bukan karena pria itu mempermainkannya, namun pria itu telah memutuskan pendamping hidupnya.
Kini, ia kembali pada rutinitas sebelumnya, mencari kerja paruh waktu untuk mengisi kekosongannya. Hal itu ia lakukan agar dirinya mampu melupakan segala yang sudah terjadi. Ketika keluar dari villa, seseorang berdiri di depan gerbang, dan menatap Sharon dengan begitu tajam.
"Apa yang telah terjadi? Apa maksud dari pesanmu kemarin?" Sahutnya dengan nada tegasnya.
Sharon terkejut ketika orang itu langsung menyambarnya. Yah, pesan yang di kirimkannya saat itu, bukan hanya ia kirimkan kepada Kent seorang. Namun, ia mengirimkan itu kepada dua orang sekaligus.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengingatkan kak Nick untuk menjaga Alice. Jaga dia! Dan jangan sampai membuatnya kecewa." Sharon mencoba mengukir senyuman di bibirnya.
"Lalu, kau mau pergi kemana? Apa kau tidak bekerja? Dimana Charles? Dia tidak menjemputmu?"
"Charles? Dia..."
"... ya, dimana dia? Tidak biasanya kau tak bersamanya? Jika dia memang tidak menjemputmu, aku bisa mengantarmu menuju Austin Industries." Nick menyambar ketika mendengar sepupunya tampak gagap.
"Tidak perlu kak. Aku sudah tidak bekerja disana lagi."
"Apa maksudmu? Apa Charles mengizinkan hal itu? Jika begitu kau bisa bekerja di tempatku."
"Aku akan bekerja seperti dulu. Aku tidak ingin dengan mudahnya mendapat pekerjaan yang langsung ke tahap yang tinggi seperti itu. Aku ingin memulainya dari bawah, maka dari itu aku memutuskan untuk keluar."
"Tapi, aku harap kau jangan terlalu memporsir waktumu seperti dulu. Kau harus tetap memberi waktu tubuhmu untuk beristirahat."
"Aku mengerti. Jika begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa."
"Aku merasa ada yang aneh. Apa yang sebenarnya sudah aku lewatkan? Wajahnya pun terlihat tidak begitu semangat." Nick terus membatin seraya menatap punggung sepupunya yang semakin jauh.
"Maafkan aku kak Nick. Untuk saat ini, aku tidak bisa memberitahu siapa pun mengenai hubunganku dengan Charles. Karena aku takut jika kau akan membuat masalah dengannya." Batin Sharon.
•••
Sore hampir tiba, dengan waktu yang cepat, Sharon sudah mendapatkan satu pekerjaan paruh waktu di salah satu cafe yang memang selalu ramai dengan pengunjung. Ketika hari libur menjelang, cafe tersebut terus saja terlihat laris, maka dari itu pemilik cafe membutuhkan seseorang untuk mengisi kekurangan tersebut.
"Nona Hwang. Kau sudah bekerja keras sejak siang tadi. Bagaimana jika kau beristirahat sejenak? Biar aku yang menggantikanmu."
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini." Tutur Sharon seraya membagikan senyumannya.
"Nona Hwang. Tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor 38."
"Baiklah." Sharon mengambil baki tersebut, dan membawanya menuju meja yang di maksudkan oleh orang bagian dapur.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sudah waktunya untuk Sharon pulang, karena sebenarnya waktu ia bekerja di cafe tersebut hanya dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore. Namun, karena cafe masih membutuhkan tenaganya, ia pun dengan senang hati membantu mereka.
Saat berada di salah satu halte dekat cafe, ia melihat seseorang yang tampak tak asing di matanya. Ia bahkan mengerjapkan matanya berulang kali, berharap jika dia memang tak salah lihat.
Kemudian, ia merogoh ponselnya, dan mengambil sebuah foto melalui ponsel yang berada dalam genggamannya. Bibirnya terukir sebuah senyuman. Setelah berada di dalam bus, ia segera mengirimkan foto itu kepada salah satu kontaknya.
"Aku menangkapmu bersama dengan seorang gadis. Meski begitu, aku ucapkan selamat datang kembali di Zurich. Aku harap kau bisa mengenalkannya padaku secara langsung."
Orang tersebut membaca pesan yang di kirimkan oleh Sharon. Benar, orang itu adalah Kent. Dia telah kembali ke negaranya, dan ia sengaja datang ke Zurich karena memang ingin menemuinya, menemui Sharon.
Setelah bertemu dengannya, ia pun akan kembali ke Bern untuk mengenalkan Natasha kepada kedua orang tuanya, dan ia berharap jika orang tuanya mau menerima Natasha dengan baik.
"Mari kita bertemu besok, dan aku akan mengenalkannya padamu. Aku harap kau tidak patah hati karena aku sudah mencintai orang lain." Kent membalas pesan tersebut, tak lupa juga ia mengirimkan sebuah emoticon pada akhir pesannya.
"Kita sedang di jalan. Apa tidak sebaiknya kau simpan dulu saja ponselmu?" Natasha menyahut.
"Baiklah, aku mengerti." Dengan cepat Kent menyimpan ponselnya. "Besok siang, mari bertemu dengannya. Aku yakin jika kalian pasti akan cocok satu sama lain, dan aku yakin jika kalian bisa berteman baik." Imbuhnya lagi dengan sebuah senyuman hangatnya.
"Aku harap juga begitu." Natasha membalas senyuman pria di hadapannya.
Bersambung ...