
"Villa ini terlalu besar jika kau tinggali sendiri, dan aku pasti akan merasa khawatir untuk hal itu." Gumamnya, dan kini ia mulai menatap gadis di sisinya.
"Untuk hal itu kau tenang saja. Bibi Iriana sudah menyiapkan beberapa penjaga, dan pelayan untuk membantuku sekaligus menemaniku."
Tidak bicara lagi, Charles segera turun dari dalam mobil, dan membukakan pintu untuk Sharon. Keduanya berjalan dengan Charles menarik koper milik Sharon untuk di bawa masuk ke dalam. Setibanya di dalam, ada dua pelayan, dan 4 bodyguard yang menyambut mereka. Melihat hal tersebut membuat Sharon begitu tertegun.
"Sepertinya mereka sudah benar-benar menyayangimu." Bisik Charles, takut terdengar oleh Iriana, dengan cepat Sharon mencubit lengan Charles, dan hal itu membuat pria tersebut merintih.
"Ikut aku! Aku sudah merapihkan kamar milikmu, Sharon." Tanpa izin, Nick langsung menarik lengan Sharon, sedangkan Charles yang menyadari hal tersebut pun langsung menahannya.
"Tuan Nick, bisakah untuk tidak sembarang menariknya? Aku masih berada disini? Apa kau berencana untuk mengalihkan perhatian Sharon dariku?" Charles menatap Nick dengan tajam.
"Ha Ha Ha. Tuan Charles, kau tidak perlu khawatir, aku tidak berniat melakukan hal tersebut. Aku hanya merasa bersemangat untuk itu." Nick hanya terkekeh seraya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal. "Baikah ayo ikuti aku." Sambungnya lagi yang langsung memimpin jalan.
Ketika berjalan ke arah kamar yang ingin di tunjukkan oleh Nick, Sharon menatap tajam Charles, dan Charles yang mengerti maksud dari tatapan itu hanya mampu menghela nafasnya dengan berat. Nick membuka pintu kamar tersebut, dan lagi-lagi design kamar yang di buat sangat sesuai dengan seleranya.
Kamar tersebut bernuansa indah dengan warna dinding sapphire blue, yang di tempeli wallpaper bunga dandelion yang seakan berterbangan disana, bunga itu adalah bunga favoritnya. Terlihat juga beberapa stiker bintang pada langit-langit, yang akan memantulkan cahaya ketika kamar tersebut menjadi gelap.
"Apa kau menyukainya?"
"Aku sangat suka, bagaimana kau tahu hal yang sangat ku inginkan?"
"Sesekali aku pernah bertemu dengan paman Ozan dulu, dan paman sering menceritakan banyak hal tentang dirimu. Kau sangat menginginkan kamar yang memiliki hiasan dandelion, karena kau sangat takut dengan gelap, kau juga berharap ada bintang yang bisa menerangi kamarmu ketika gelap datang."
"Itu ucapanku saat kecil, dan ketika aku besar aku berfikir, mana mungkin bisa ada bintang yang bersinar di dalam kamar. Tapi, kau mewujudkannya, meski bukan bintang asli. Terima kasih, kak Nick." Sharon berhambur memeluk pria itu, dan Charles tidak berani untuk menariknya kala itu.
"Jika bintang yang asli yang masuk ke dalam kamarmu, itu tidak akan masuk akal gadis bodoh. Yang akan terjadi adalah kau akan tertimpa bintang itu." Celetuk Charles dengan sedikit nada ketusnya.
"Astaga, sepertinya tuan Charles sedang cemburu. Aku rasa dia memang benar-benar mencintainya." Nick membatin, dan langsung melepaskan pelukan tersebut.
Tidak membantunya sampai selesai, Charles membanting tubuhnya di atas ranjang seraya menatapi gadis tersebut yang tengah sibuk membereskan segala perlengkapannya. Lalu, dengan cepat Charles menarik lengannya ketika gadis itu hendak mengeluarkan pakaian terakhirnya.
Sharon terjatuh tepat di sisi Charles, lebih tepatnya jatuh dalam dekapannya, keduanya terlentang bersama, namun Charles tampak memeluknya dengan erat. Mencoba meloloskan diri dari sana, tapi usahanya sia-sia, pria itu justru semakin mengeratkannya.
"Tuan Charles, aku tengah mengeluarkan barang-barangku. Bisakah lepaskan aku untuk sejenak?" Mata Sharon melirik wajah Charles yang terlihat memejamkan matanya.
"Tidak akan, meski sejenak sekali pun." Pungkasnya yang kembali mengeratkan pelukannya. "Ini adalah hukumanmu karena berani membuatku menahan rindu, dan tidak mengatakan apapun soal kejadian yang di rumah sakit."
"Aku 'kan sudah berikan alasannya padamu, aku juga sudah minta maaf."
"Maaf saja tidak cukup untukku."
"Jika kau tidak mau memaafkanku, dan tidak melepaskanku, aku akan membatalkan janji kencan kita besok."
"Jangan lakukan itu." Sahut Charles yang langsung melepaskan pelukannya, dan Sharon terkekeh melihat reaksinya. Merasa sudah di lepaskan, dengan cepat Sharon kembali mengeluarkan barang-barangnya.
Pria ini sungguh lemah dengan ancaman yang di berikan oleh Sharon, meski itu hanya ancama kecil, ia tidak pernah berani untuk mengambil resiko jika bersangkutan dengannya. Namun, sesekali ia akan sangat merasa khawatir padanya, apa yang akan terjadi jika gadis itu mengetahui tentang penyakit yang tengah ia rasakan? Akankah gadis tersebut merasa sedih? Atau justru pergi meninggalkannya?
Kedua hal tersebut sungguh tak berani ia bayangkan, karena keduanya sama-sama menyakitkan untuknya. Ia tidak ingin melihat Sharon sedih untuk dirinya, dan di sisi lain, ia juga tidak akan sanggup menerima kenyataan jika ia harus di tinggal olehnya.
"Hal itu akan ku fikirkan nanti. Namun, aku tidak akan membiarkanmu sedih sedikit pun. Jika memang tidak ada cara lain yang bisa ku lakukan, aku akan pikirkan cara lain, cara yang terbaik untukmu." Charles melangkahkan kakinya ke arah Sharon, dan mencium keningnya dengan begitu lembut.
"Hm? Ada apa?" Gumam Sharon seraya menatap wajah pria di hadapannya.
"Ketahuilah satu hal, apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu, dan mendukung apapun yang kau lakukan." Ungkapnya seraya mengusap lembut pipi Sharon.
Bersambung ...