My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 88



Kini, Sharon terlihat sudah rapih, ia pun siap untuk berangkat. Namun, bukan untuk bekerja, melainkan menuju sebuah bank. Ia hendak menarik sejumlah tabungan yang sudah ia kumpulkan.


Ketika berada di bank, ia segera menandatangani salah satu dokumen. Setelah berhasil di cairkan, ia segera menuju suatu tempat. Saat berada dalam perjalanan, ia tampak melamun, dan masih tak menyangka jika orang yang ia percayai selama ini telah membodohinya.


Austin Industries. Kini, ia telah berada di sana. Setibanya di dalam, Key melihatnya, dan langsung menghampirinya. Tampak terlihat jelas olehnya jika wajah Sharon begitu sembab, dan ia sangat tahu apa penyebabnya, namun ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.


"Apa tuan Austin ada di ruangannya? Bisakah aku menemuinya?" Ucapnya.


"Tuan Charles masih belum datang, aku akan menghubunginya lebih dulu. Sembari menunggu, apa tidak sebaiknya nona Hwang ke ruangannya saja, dan mengerjakan tugas nona sebagai sekretarisnya?"


"Aku akan menunggunya di dekat receptionist. Tolong kabari aku jika dia sudah datang."


Tanpa bicara apa-apa lagi, Sharon langsung meninggalkannya, dan Key segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Hingga 30 menit kemudian, orang yang di hubunginya pun datang, dan langsung masuk menuju ruangan direktur dengan di temani oleh Key.


"Di dalam laci, ada kacamata yang selalu di kenakan oleh tuan Charles ketika tengah bekerja. Sebaiknya tuan Charlie menggunakannya agar tidak membuatnya curiga."


"Baiklah, kau bisa menyuruhnya datang sekarang." Sahutnya, dan Key segera berjalan keluar. "Tunggu sebentar." Tuturnya.


"Ada apa tuan?"


"Apa sampai saat ini kau masih belum mendapatkan pendonor itu?" Gumam Charlie yang tampak frustasi.


"Maafkan aku tuan, aku akan terus berusaha."


"Baiklah."


Key menghampiri Sharon yang tengah duduk dengan menundukkan wajahnya. Dia terlihat begitu sedih, dan ingin rasanya ia memberitahu segala kebenarannya, namun ia tidak memiliki hak atas hal tersebut. Kemudian, ia hanya menyampaikan jika Charles sudah bisa ditemui olehnya.


Setelah menyampaikan itu, Key lekas meninggalkannya. Mendengar pernyataan Key, membuat Sharon merasa gugup, kakinya mulai ragu untuk melangkah menuju ruangannya. Namun, ia harus melakukannya, ia harus menyelesaikan semuanya.


Tanpa memandangnya, Sharon langsung menyimpan sebuah amplop berisikkan uang serta satu amplop yang entah apa isinya. Kemudian, orang di hadapannya mengambil kedua amplop tersebut, dan meminta penjelasannya.


"Sesuai janjiku, ketika aku menemukan orang yang telah membiayai rumah sakit ibuku, aku akan mengembalikkan uangnya, dan aku akan mengundurkan diri dari Austin Industries. Meski semua yang kau lakukan adalah sebuah kebohongan, aku tetap ingin berterima kasih padamu."


"Untuk apa?"


"Karena kau sudah pernah mencoba menyelamatkanku dari penculikkan itu, kau juga selalu menemaniku ketika aku membutuhkan seseorang. Terima kasih banyak. Aku harap kau bisa bahagia bersama dengannya, selamat tinggal."


Air mata menetes di sana, dan ia segera meninggalkan ruangan tersebut tanpa menatapnya sedikit pun. Setelah keluar dari ruangan itu, dengan cepat Sharon berlari dari sana. Key yang melihat gadis itu berlari pun langsung menuju ruangan direktur.


"Dia mengundurkan diri, dan memberiku sejumlah uang. Simpan uang ini, hubungi aku jika terjadi sesuatu di kantor." Ungkap Charlie yang langsung melepaskan kacamatanya.


Setelah meninggalkan Austin Industries, Charlie menuju suatu tempat, disana ia melihat ayahnya tengah tertidur, hingga membuatnya mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Beberapa menit kemudian, orang itu telah berada di lobby, dan dengan berat hati Charlie harus membangunkan ayahnya yang terlihat begitu lelah. Ia memintanya untuk pulang ke rumah, dan Bill enggan meninggalkan tempat tersebut.


"Biar aku yang menjaganya. Jika ayah sakit, bagaimana? Sebaiknya ayah pulang, supir ayah sudah menunggu di lobby."


"Baik, ayah akan pulang. Tapi, segera hubungi ayah jika ada perkembangan apa pun tentangnya." Charlie hanya mampu menganggukkan kepalanya setelah mendengar permintaan ayahnya.


Setelah Bill pergi, Charlie melepaskan jas kerjanya, dan duduk menatap saudaranya yang sampai saat ini masih terbaring tak berdaya. Ingin rasanya ia meninju wajahnya agar ia terbangun dari tidurnya.


"Dia terlihat begitu rapuh, kak. Dia bahkan enggan menatapku saat itu. Apa kau yakin ingin melanjutkan ini? Bukankah kau mencintainya? Bukankah kau berjanji untuk tidak membuatnya menangis? Lalu, kenapa kau tidak menepatinya? Cepatlah sadar, dan jelaskan semuanya pada dia! Aku tidak ingin melanjutkan semua kebohongan ini lagi." Imbuhnya dengan begitu frustasi.


Charlie yang selalu tampak terlihat cool pun mampu meneteskan air matanya, ia sungguh lelah melakukan semua sandiwara yang di inginkan oleh saudaranya. Menjadi dua pribadi sangatlah sulit untuknya, cepat atau lambat, semua ini pasti akan terbongkar, dan jika Sharon tahu, maka dia akan benar-benar membencinya. Begitulah yang berada dalam fikiran Charlie kali ini.


Bersambung ...