My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 128



Tiga bulan telah berlalu, dan hari pun semakin dekat dengan hari pernikahan. Semua perlengkapan pun telah terselesaikan. Namun, sampai hari itu, Sharon masih belum mengetahui bagaimana bentuk gaun yang akan di kenakan olehnya.


Di tempat yang berbeda, Kent tampak tengah menikmati liburan sekaligus bulan madunya bersama dengan Natasha. Hari mereka terasa begitu indah, dan semakin hari, ia pun mampu untuk menghilangkan segala perasaan yang sempat tersisa untuk Sharon.


Meski perasaan itu telah habis tak tersisa, namun masih sangat sulit untuknya menghapus segala kenangan saat bersama dengannya, dan Natasha tak  mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya, menghapus sebuah kenangan memanglah tidak mudah, dan justru Natasha meminta Kent untuk tetap menyimpannya di dalam memorinya.


Malam itu, Kent terlihat tengah duduk


menyandar di atas ranjang seraya berkutat dengan laptop yang berada di hadapannya. Kemudian, Natasha menghampirinya dengan sebuah senyum yang begitu sumringah, namun Kent terlalu sibuk sehingga tak memperhatikan hal tersebut.


“Kent, aku memiliki sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu!” Seru Natasha.


“Apa itu?” Kent menjawab, namun mata, dan tangannya masih sibuk dengan laptopnya.


“Tidak jadi. Lebih baik aku simpan sendiri saja, dan kau bisa melanjutkan game mu itu!” Tuturnya yang langsung berbaring membelakangi Kent, tak lupa ia juga menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya, lalu segera memejamkan matanya.


Kent menoleh ke arahnya, dan tersenyum kecil saat melihat tingkahnya yang begitu menggemaskan. Kemudian, Kent menutup laptopnya, dan mengesampingkannya. Setelah itu, ia menaruh dagunya di atas lengan Natasha mencoba untuk membujuknya.


Segala ucapan sudah ia lontarkan, dan segala cara sudah ia lakukan, namun Natasha tak menggubrisnya sama sekali. Ia mendesah ketika tak mendapat respon sedikit pun darinya, kemudian Kent menyusul Natasha untuk berbaring, dan mencoba untuk tak memperdulikannya, sama seperti yang di lakukan oleh wanita itu kepadanya.


Beberapa saat kemudian, Natasha membalikkan tubuhnya, dan terkejut saat melihat Kent tidur dengan membelakanginya. Merasa kesal, Natasha menarik lengan Kent untuk mengubah posisi tidurnya. Menyadari itu membuat Kent tertawa kecil, karena dirinya memang belum tertidur, dan ia juga tahu jika hal itu akan terjadi.


“Kau sungguh tak pandai merayu wanita yang tengah marah, menyebalkan!” Natasha memukul pelan lengan Kent pada saat itu.


“Ha Ha Ha. Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan padaku?” Gumamnya seraya membawanya ke dalam pelukannya, dan Kent sengaja memejamkan kedua matanya.


“Tunggu sebentar!” Natasha melepaskan pelukan itu, kemudian bangun dari baringannya. Ia membuka laci pada nakasnya, lalu duduk menghadap ke arah suaminya. Sedangkan Kent langsung merubah posisinya, ia berbaring miring, dan membiarkan tangannya untuk menyanggah kepalanya. “Pejamkan matamu terlebih


dulu!” Pintanya, dan Kent mengikuti permintaannya.


“Sudah atau belum?” Sahutnya.


“Sekarang buka matamu!” Natasha tampak tersenyum saat menyodorkan benda tersebut ke hadapannya. Sedangkan Kent, ia berulang kali mengerjapkan kedua matanya saat melihat sesuatu yang di berikan oleh istrinya.


“Lepaskan aku, Kent! Kau memelukku begitu erat, dan itu terasa menyesakkan.” Gerutunya.


“Ah maafkan aku, maafkan aku juga anakku. Aku hanya terlalu senang mendengar berita ini.” Ujarnya yang mencium dahi Natasha berulang kali.


•••


Bukan hanya Kent, dan Natasha yang tengah berbahagia. Selain mereka, kebahagiaan pun di rasakan oleh Charlie, dan juga Gwen. Mendapat restu dari semua orang atas sebuah hubungan sungguh hal yang sangat membahagiakan. Mereka pun tampak tengah berada di sebuah butik untuk memesan satu pasang gaun juga pakaian pesta untuk Charlie yang akan dikenakan oleh keduanya ketika pesta pernikahan Charles nanti.


Sedangkan Nick, dan Alice tampaknya mereka pun sudah siap dengan persiapan mereka. Keluarga Sworth pun banyak menyiapkan sesuatu untuk Alice, dan juga untuk Sharon di hari pernikahan mereka nanti. Hal tersebut sengaja mereka lakukan untuk menebus segala kesalahannya pada Sharon di masa lalu, meski Sharon sungguh tak mempermasalahkannya.


Berbeda dengan mereka semua yang sibuk akan hal ini, dan itu. Charles tampak santai dengan semuanya, ia sungguh tak ambil pusing, karena dirinya memang sudah mematangkan rencananya, dan meminta seluruh bawahannya untuk menyelesaikan semuanya. Dengan begitu ia bisa menghabiskan banyak waktu oleh pujaan hatinya.


“Hey, apa kau sudah benar-benar tidur?” Bisik Charles pada wanita yang berada dalam pelukannya.


“Ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu?” Balasnya yang masih memejamkan kedua matanya.


“Benar, aku menginginkan sesuatu.” Mendengar itu, Sharon lekas membuka kedua matanya, dan menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya. Namun, tatapannya itu hanya di balas oleh sebuah senyuman usil darinya.


“Ada apa dengan senyummu? Apa yang kau inginkan?”


“Aku menginginkanmu!” Ungkapnya seraya tertawa, kemudian mengadukan dahinya dengan dahi Sharon pada saat itu.


“Bodoh! Aku pikir kau menginginkan hal lain.” Sharon membalas tawanya, namun ia kembali memejamkan kedua matanya, dan memeluknya kembali.


“Kenapa? Apa kau kecewa mendengarnya, dan menginginkan hal lebih?” Kini nada suaranya terdengar begitu licik, dan dengan cepat Sharon mencubit pinggang suaminya di waktu yang bersamaan.


“Jangan macam-macam!” Titahnya, dan Charles terkekeh mendengarnya. Kemudian, ia membalas pelukannya, dan akhirnya keduanya pun terlelap bersama.


Bersambung ...