
Hari telah berganti, dan Charles menunggu kabar dari Sharon dengan begitu gusar. Kenapa semalam harus Nick yang memberi kabar padanya, kenapa tidak Sharon saja langsung? Berulang kali ia mengirimi pesan, juga panggilan, namun ia masih belum mendapat balasan sedikit pun.
Kemudian, ia mencoba menghubungi Nick, sayangnya nomor Nick pun sibuk. Sebenarnya apa yang tengah terjadi disana? Lalu, Charles memanggil saudaranya untuk mencari tahu keberadaan Sharon saat ini, lacak semua rumah sakit, dan cari data pasien yang berhubungan dengan keluarga Sworth.
Di waktu yang bersamaan, Sharon baru saja membuka matanya, dan disana ia melihat Nick tengah tertidur dengan posisi duduk. Posisi yang sudah di pastikan sangat tidak nyaman. Dirinya merasa terkejut, kenapa juga dirinya harus di infus seperti sekarang, dia bahkan lupa apa yang sudah terjadi padanya.
Tidak ingin mengganggu waktu tidur Nick, Sharon mencoba meraih ponselnya yang ada di atas nakas. 98 panggilan tak terjawab, dan 35 pesan masuk, semua itu berasal dari Charles. Pria pasti sangat mengkhawatirkannya, namun ia tidak bisa mengatakan mengenai apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Lalu, ia memutuskan untuk menghubunginya, karena ia tahu akan jadi merepotkan jika Charles mulai merasa cemas.
"Dimana kau sekarang? Apa yang sedang kau lakukan?" Pria itu berteriak melalui telfon, dan hal tersebut sungguh membuat Sharon terkejut.
"Aku masih di rumah sakit, masih menunggu kelanjutan kondisi bibi. Setelah itu, aku akan segera kembali, untuk sekarang sebaiknya kau beristirahat agar kau bisa cepat pulih."
"Apa yang ingin kau lakukan ketika aku pulih?"
"Bagaimana jika jalan-jalan? Seharian?" Gumam Sharon.
"Baiklah, kita akan lakukan hal tersebut, dan kita akan habiskan satu hari untuk bersenang-senang." Sahut Charles yang mengukir senyumnya, meski ia tahu jika Sharon tidak akan bisa melihatnya. Namun, dirinya tahu bahwa Sharon akan bahagia mendengar kabar tersebut.
Menyadari Nick yang sudah bangun, Sharon pun mencoba mengakhiri panggilan tersebut, dan kini Nick tengah memandangnya. Setelah memutuskan panggilan, Sharon segera meraih gelas yang berisikan air, karena tidak sampai, Nick pun langsung membantunya untuk meraih gelas itu.
"Kak, apa yang terjadi padaku? Lalu, bagaimana keadaan bibi?" Ucap Sharon setelah menenggak air itu, dan Nick kembali menyimpannya di atas meja yang berada tepat di sampingnya.
"Kau kekurangan nutrisi, dan kau pingsan setelah melakukan transfusi. Ibuku sudah melewati masa kritisnya, aku sangat berterima kasih padamu, Sharon. Saat menghubungimu, aku sangat takut saat itu. Mengingat apa yang telah terjadi dulu, aku berfikir jika kau tidak akan datang untuk membantu."
"Bukankah aku sudah mengatakannya saat itu? Ayah, dan ibuku tidak mengajariku untuk menyimpan dendam pada seseorang."
Mengerti dengan alasan itu, Nick pun tidak memaksanya, dan berjanji akan kembali setelah memastikan kondisi ibunya. Sharon hanya tersenyum menanggapi hal tersebut, lalu ia kembali membaringkan tubuhnya, dan mencoba untuk kembali beristrihat, berharap ia bisa meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Rumah sakit adalah salah satu tempat yang di benci olehnya, karena di rumah sakit lah ia harus menyaksikan langsung kepergian dari kedua orang tuanya. Meski begitu ia merasa yakin, jika keduanya akan terus mengawasi dirinya walau dari dunia yang berbeda.
Hari sudah semakin sore, dan Sharon yang sempat tertidur tadi pun mencoba membuka matanya secara perlahan. Ia mengerjapkan matanya ketika melihat seseorang yang ada di ruangannya, bukan hanya Charles yang ada disana, melainkan nenek, dan juga bibinya. Merasa tidak enak, dengan cepat Sharon mengubah posisinya untuk duduk menyandar.
"Tidak perlu bangun jika kau masih merasa tidak enak." Sahut Iriana, dan mendengar ucapan yang lembut itu sungguh membuat Sharon terkejut.
"Ada apa datang kemari? Seharusnya aku yang datang ke ruanganmu." Sharon ragu dengan pertanyaannya, ia bahkan tidak berani untuk menatap matanya.
"Mana mungkin aku membiarkan penyelamatku yang datang? Akulah yang seharusnya yang datang, dan berterima kasih padamu. Jika bukan karena dirimu, mungkin aku sudah tidak akan ada di dunia ini lagi. Terima kasih banyak, aku selalu mencancimu, tapi dengan ringannya kau mau memberikan darahmu untukku. Aku sungguh merasa malu dengan sikapku kepadamu dulu." Iriana menggenggam tangan Sharon.
"Sudahlah bi, tidak perlu menoleh ke belakang, biarkan itu menjadi masa lalu atau anggaplah kesalahan itu tidak pernah terjadi. Dari pada sibuk memikirkan masa lalu, sebaiknya menata kembali masa akan yang terjadi ke depannya." Sahut Sharon seraya tersenyum.
"Selama ini aku sudah salah sangka terhadapmu, dan ibumu. Aku selalu kesal karena dialah yang membuat kakakku meninggalkan rumah. Namun aku salah, ternyata ibumu adalah orang yang begitu baik sehingga melahirkan putri yang baik juga. Tidak ku sangka jika orang tuamu mendidikmu dengan benar."
"Sharon, apa kau bersedia jika memintamu untuk tinggal bersama dengan kami?" Bella Sworth selaku orang tertua disana pun membuka suara, dan lagi-lagi Sharon di buat terkejut oleh hal itu. "Sebenarnya, aku sudah sangat menginginkan hal ini sejak lama, namun karena kakekmu tidak pernah merestui hubungan Ozan, dan ibumu, maka dari itu aku tidak berani untuk membawamu. Setelah, suamiku meninggal, Iriana juga sangat tidak menyukaimu, hal itu kembali membuatku menahannya, karena aku tidak ingin kau terluka dengan kata-katanya."
"Selama ini neneklah yang tidak pernah bicara padaku, aku fikir nenek membenciku."
"Mana mungkin aku membencimu? Bagaimana pun kau adalah cucuku. Sejak awal, aku tidak pernah memaksa Ozan untuk menikah dengan siapa pun, selama putraku bahagia, maka aku akan selalu mendukungnya. Jadi, apa kau mau tinggal bersama dengan kami?"
Bersambung ...