
Mereka menaiki kereta uap disana, dan penumpang di dominasi oleh anak-anak. Meski begitu mereka tetap menikmati perjalanan tersebut. Ada sebuah boneka kecil yang sengaja disandarkan di atas pagar, dan Sharon tersenyum melihat itu.
Berbagai macam kereta sudah mereka tumpangi. Kemudian mereka berjalan kaki seraya menikmati permen kapas yang berada dalam genggaman Sharon.
Saat berjalan, Charles terus saja menautkan jemarinya dengan jemari gadis yang berada di sisinya, sesekali mereka menggigit permen kapas itu secara bersamaan, dan tawa kecil pun selalu menyertainya.
Melihat sisa permen itu di sudut bibir Sharon, pria itu tersenyum seraya mengusapnya menggunakan ibu jarinya. Lalu, mereka melanjutkan perjalanannya lagi.
"Besok kau akan berangkat. Ada yang ingin ku katakan padamu." Sharon menghentikan langkahnya, dan hal itu membuat Charles menatapnya.
"Katakan."
"Akhir pekan ini, Kent akan kembali menuju Bern untuk mengurus pernikahannya. Sebelum dia pergi, dia memintaku untuk menemaninya berjalan-jalan."
"Apa kau sedang meminta izinku untuk berselingkuh selama aku pergi, hah?" Dengan gemas Charles mencubit kedua pipi gadis di hadapannya.
"Tentu saja tidak." Gumam Sharon seraya mempoutkan bibirnya.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi dengannya. Jika kau bersih keras, sebaiknya kau ikut denganku besok." Charles langsung melangkahkan kakinya lebih dulu, dan gadis itu segera mengejarnya.
"Tapi aku sudah berjanji padanya. Lagi pula hanya beberapa hari saja bukan? Dan hanya sebagai salam perpisahan."
"Sharon." Gumam pria itu seraya menghentikkan kembali langkahnya dan Sharon hanya berdeham menanggapinya. "Apa kau masih menyimpan perasaan pada dia?" Sambungnya lagi dengan menatap kedua mata gadis di sisinya.
"Kenapa kau bisa berfikir seperti itu? Apa selama ini kau tidak pernah mempercayaiku?" Sharon menundukkan kepalanya. "Baiklah, tak apa jika kau tidak mengizinkannya. Aku akan berikan alasan lain padanya nanti."
Setelah mengatakan itu, Sharon berjalan meninggalkan Charles. Kemudian, pria itu pun mengejarnya, dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Maaf, aku bukannya tidak mempercayaimu. Aku hanya merasa khawatir jika ibunya Kent melukaimu lagi. Apakah tamparan itu masih belum cukup?"
"Bukankah ada dirimu yang akan selalu melindungiku? Aku berjanji, jika mereka melakukan sesuatu padaku, maka aku akan langsung memberitahumu."
"Aku memang akan selalu melindungimu, dan mendukungmu apapun yang terjadi. Hanya saja, aku tidak selalu bisa berada di sisimu. Ketika penyakitku kambuh, aku begitu takut, takut jika aku harus pergi meninggalkanmu, dan akhirnya membuatmu kecewa. Selama belum mendapatkan pendonor, aku masih belum merasa tenang sedikit pun." Charles membatin.
Hari itu adalah hari keberangkatan Charles, dan Charlie menuju London. Sharon, juga Bill berada disana untuk mengantar keduanya. Sebelum check in, Charlie memeluk ayahnya, dan hampir saja memeluk Sharon. Namun, hal tersebut segera di cegah oleh Charles, ia menarik lengan saudaranya itu untuk menjauh.
"Aku hanya ingin melakukan salam perpisahan dengan kakak ipar saja tidak boleh. Dasar pelit." Gerutu Charlie dengan kesal.
"Aku masih mampu mendengar yang kau katakan itu loh, Charlie." Sahut Charles yang kini tengah memeluk sang ayah, dan Charlie langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Melihat hubungan persaudaraan mereka, selalu berhasil membuat Sharon tertawa kecil. Mereka memiliki hubungan yang begitu menarik, saling menggoda, mengejek, mencela, namun keduanya memiliki kasih sayang yang sama besarnya.
Kini, Charles memeluk Sharon, memeluknya begitu erat, seolah tak ingin melepaskannya, dan mendapat pelukan itu, membuat Sharon memejamkan matanya.
"Jadi, apa hari ini akan menjadi hari pertama perselingkuhanmu?" Bisik Charles, dan mendengar itu, ia langsung mendapatkan sebuah cubitan di pinggangnya. "B-baiklah, hanya salam perpisahan. Cubitanmu itu benar-benar menyakitkan loh."
"Maaf." Gumamnya.
"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Jangan melakukan hal yang ceroboh selama aku pergi." Charles mengusap puncak kepala gadis itu, dan mendapat perlakuan itu langsung membuatnya menganggukkan kepalanya.
Keduanya mulai check in. Ketika pesawat mereka telah diberangkatkan, Sharon beserta Bill meninggalkan bandara. Tidak bisa mengantar, Bill meminta maaf pada gadis itu, karena ia masih memiliki beberapa urusan dengan bisnisnya.
Tidak keberatan, Sharon pun membiarkan Bill untuk pergi lebih dulu. Kemudian, ponselnya pun berdering, Kent menghubunginya, dan menagih janji yang sudah di buat oleh gadis itu tempo hari.
Lalu, Sharon memberitahu keberadaannya, dan saat itu juga Kent langsung meluncur menuju bandara untuk menjemput gadis itu. Perasaan bahagia memenuhi perasaan Kent, meski hanya sementara, ia berharap jika ini akan menjadi kenangan yang indah untuk terakhir kalinya.
"Aku akan melakukan yang terbaik untukmu, Sharon. Lakukan ini seolah kita masih menjadi pasangan, seperti dulu." Wajah Kent benar-benar terlihat begitu bahagia ketika mengingat semua memorinya dulu bersama dengan gadis itu.
~
"Maafkan aku, Charles. Aku pastikan, jika aku tidak akan mengkhianatimu." Sharon memejamkan matanya seraya memegang dadanya dengan kedua telapak tangannya.
Bersambung ...