
Di tempat yang berbeda, terlihat seseorang tengah duduk di sebuah butik tanpa ada rasa semangat sedikit pun. Berulang kali ia mendengus, dan berdecak kesal dengan apa yang tengah ia lakukan saat ini. Beberapa menit kemudian, seseorang memanggilnya, dan mau tak mau mengharuskan dirinya untuk menghampiri orang tersebut.
"Bagaimana Kent? Apa tuxedo yang sekarang sudah terasa pas?"
"Sudah. Jika tidak ada lagi, aku harus segera ke kantor. Ibu, lanjutkan saja dengan Grace." Sahutnya yang langsung melepaskan tuxedo itu dari tubuhnya, dan segera pergi meninggalkan butik tersebut.
Dengan kesal ia menginjak pedal gas mobilnya, dan langsung menuju kantornya. Disana ia mencoba menyibukkan dirinya untuk mengalihkan pikirannya saat ini. Pernikahannya sudah tidak lama lagi, dan semua persiapan pun sudah hampir selesai, hanya dirinya saja yang belum mampu mempersiapkan diri, mungkin sampai kapan pun tidak akan pernah siap.
•••
Hari berlalu, dan Sharon sudah siap untuk pergi saat itu. Kali ini, ia mendapatkan izin dari Charles untuk tidak bekerja, kenapa begitu? Yah, tentu saja karena janji yang sudah di buat oleh keduanya. Mendengar suara mobil yang datang, dengan cepat Sharon keluar, dan tersenyum ke arahnya.
Charles turun dari mobilnya, ia membalas senyuman hangat itu. Bagaikan seorang pangeran istana yang menyambut sang putri, Charles membungkukkan tubuhnya seraya menyodorkan salah satu tangannya ke hadapan gadis tersebut, dan hal itu sungguh membuatnya tersipu.
Ketika pintu mobil terbuka, ia segera masuk kedalam, dan mereka pun pergi bersama. Selama perjalanan, Sharon terus menatap keluar jendela, melihat hal tersebut langsung membuat Charles membuka atap mobilnya.
Menikmati setiap desiran angin, membuat Sharon sangat menikmatinya. Dengan cepat ia berdiri seraya merentangkan kedua tangannya, dan berteriak melawan angin, sedangkan Charles segera mengenakan kacamata serta topinya.
"Arrgghh tidak, syalku." Seru Sharon yang langsung menoleh ke belakang, menatap ke arah syalnya pergi, seketika ia terduduk lemas begitu saja.
Charles meminggirkan mobilnya, dan menatap ke belakang. Kemudian, ia segera memutar arah ketika matanya masih mendapati letak syal itu terbang, syal itu tersangkut di ranting pohon, dan meminta Sharon untuk ikut turun.
"Itu sangat tinggi, kita tidak mungkin mencapainya bukan?" Sharon menatap ke arah syalnya.
"Naiklah ke bahuku, dan kau bisa meraihnya." Dengan cepat Charles berjongkok di hadapannya.
Meski adanya keraguan, Sharon mencoba untuk menaiki bahu Charles, dan Charles memegangi tangannya ketika ia hendak berdiri. Ketika hendak melepaskan satu tangannya, Sharon justru berteriak histeris, dan memejamkan matanya.
"Cepatlah kau raih!"
"Tidak bisa." Racaunya yang masih menggenggam erat tangan Charles.
"Kenapa? Masih belum bisa mencapainya?" Kemudian, Charles sedikit melompat, dan hal itu semakin membuat Sharon histeris.
"Tidak ada cara lain. Sekarang biarkan aku yang naik ke bahumu, cepat berlutut." Titah Charles dengan smirknya.
"Apa? Haruskah aku melakukannya?"
"Mau bagaimana lagi? Kau tidak berani meraihnya, jadi aku yang harus melakukannya."
"Baiklah." Kemudian, Sharon mencoba berlutut, belum menyentuh tanah, Charles segera menarik lengannya, dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Kenapa kau begitu bodoh, hah? Jika itu terjadi pun memang kau sanggup untuk mengangkatku?" Charles menatapnya lekat, dan gadis itu segera menggelengkan kepalanya. "Kita pikirkan cara lain."
"Tidak apa-apa, kita pergi saja."
Mereka pun pergi dari sana sesuai permintaan Sharon, meski merasa menyesal meninggalkan syalnya, namun tidak ada cara lain, ia tidak mungkin membahayakan dirinya atau pun Charles untuk hal tersebut.
Terlihat sedikit murung, Charles langsung mengusap puncak kepala gadis itu, dan berjanji akan membelikan yang baru untuknya. Walau yang baru tidak akan bisa menggantikan kenangan yang berada di syal lamanya, ia tetap mencoba tersenyum untuk menghargai niat baik pria di sisinya.
Zurich Botanical Garden, keduanya telah tiba di salah satu taman yang suasananya dipenuhi dengan koleksi flora yang beragam. Mereka memasuki setiap kubah disana, dan menyaksikan setiap tanaman yang ada.
"Jangan sentuh itu." Sahut Charles yang langsung menarik tangan Sharon. "Kau ingin menyentuh kaktus? Kau akan terluka." Sambungnya lagi.
"Siapa yang ingin menyentuhnya? Aku ingin menyentuh mawar yang di sampingnya." Merasa malu, Charles sedikit terkekeh menanggapinya.
Hampir dua jam sudah mereka berkeliling di tempat itu, dan keduanya juga sudah mengambil banyak foto di setiap sudut tempat. Merasa lelah, Sharon memilih untuk duduk di salah satu bangku taman, dan Charles segera memberikan satu kaleng softdrink kepadanya.
"Aku bosan disini, kita tidak mungkin seharian disini bukan?" Gumam Sharon seraya menyandar pada lengan pria yang ada di sisinya.
"Tentu saja tidak, setelah ini kita akan segera pergi menuju suatu tempat."
"Kemana?" Kini mata gadis itu menatap lekat wajah Charles, dan Charles hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
Bersambung ...