My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 46



Mereka pun pergi dari sana, dan Charles mengajaknya untuk makan malam terlebih dulu sebelum mengantarnya pulang. Mereka mencari makan di dekat taman tersebut, dan sengaja memilih untuk berjalan kaki.


Dalam perjalanan, keduanya banyak membicarakan banyak hal, bahkan tawa pun menjadi bumbu obrolan mereka. Sesekali Sharon mencolek-colek pipi Charles saat itu juga, hingga membuatnya kesal, dan Sharon pun langsung berlari seraya tertawa kecil.


"Aku mencintaimu, dan akan selalu begitu sampai kapan pun." Gumam Charles seraya tersenyum, kemudian ia pun berlari mengejar gadis tersebut.


Ketika berhasil menangkapnya, Charles langsung membawanya ke dalam gendongannya. Sharon masih tertawa saat itu, lalu ia pun menyandar manja pada dada bidang pria tersebut.


"Bagaimana keadaan tadi? Apa kau merasa takut?" Gumamnya, dan Sharon mengangguk pelan. "Lalu, apa mereka menyakitimu?" Timpalnya seraya menundukkan kepalanya agar mampu menatap wajah gadis tersebut.


"Tidak. Selain memberiku 25%, dan 15% saham Sworth Company, kakek juga memberiku star royal beserta sertifikatnya."


"Apa? Star royal? Vila besar itu?"


"Kau tahu dimana letak villa tersebut?"


"Tentu saja. Bagaimana aku tidak tahu? Villa tersebut memiliki pemandangan yang begitu indah, dan dulu banyak sekali yang mengincarnya. Namun, tidak ku sangka jika itu milik keluarga Sworth."


Hampir tiba di salah satu restaurant, Charles segera menurunkan gadis tersebut dari gendongannya. Kemudian menggandengnya untuk masuk ke dalam.


Meski sudah menariknya, Sharon masih terdiam membeku di tempatnya. Ketika hal itu terjadi, Charles selalu gemas dengan ekspresi gadisnya, ingin sekali ia melahapnya saat itu juga.


"Bodoh, memikirkan apa? Ayo masuk! Aku sangat lapar." Charles mendorong kening gadis tersebut, kemudian senyuman pun terukir di bibirnya.


Ketika berada didalam, pria tersebut segera memesan dua porsi berner platte, dan satu porsi alplermagronen beserta minumannya, strawberry blush, dan kiwi splash.


Wajah Sharon terlihat begitu khawatir, dan entah apa yang tengah di khawatirkan olehnya. Charles yang menyadari hal tersebut pun langsung menggenggam erat tangan gadis di hadapannya seraya tersenyum hangat.


Perlakuan pria itu selalu berhasil membuatnya tenang. Hingga makanan pun tiba, mereka segera menikmatinya sebelum menjadi dingin. Sesekali mata Sharon memperhatikan hidangan di sana, dan juga memandang ke arah pelayan seolah ia membutuhkan sesuatu.


Mengerti akan hal tersebut, Charles pun terkekeh melihatnya. Lalu, ia memanggil satu pelayan, dan memesan cheese fondue.


"Itu kan yang kau mau?" Sahut pria itu seraya memandanginya, dan gadis tersebut pun terkekeh menanggapinya.


•••


Di tempat yang berbeda, Kent mengurung dirinya didalam kamarnya selama beberapa hari. Dirinya merasa sungguh merasa tertekan, dan menyayangkan hubungannya dengan Sharon.


"Disaat aku sudah berhasil memperbaiki hubungan kami, kenapa selalu saja ada yang berhasil membuat hubungan kami renggang kembali? Hanya menjadi temannya saja, apa tidak bisa?" Gerutu Kent seraya memandangi foto Sharon yang berada di ponselnya.


Mengingat ancaman sang ibu yang akan menyakiti gadisnya, dengan berat hati Kent akan mengikuti seluruh keinginan sang ibu. Semua dia lakukan demi keamanan gadis itu.


Setelah mengemas barang-barangnya, ia mengambil ponselnya, dan menekan beberapa digit nomor, kemudian mengiriminya sebuah pesan singkat.


"Aku tidak tahu, apa kau akan mengacuhkan pesanku atau tidak." Gerutu Kent yang kemudian membanting tubuhnya ke atas ranjang.


Disaat yang bersamaan. Sharon, dan Charles bergegas untuk kembali pulang. Sejak tadi, ada yang ingin di sampaikan oleh Charles, namun melihat gadisnya yang terus melamun, membuatnya tak bisa mengutarakannya.


Hatinya terus meronta, dan memaksanya untuk segera mengatakan semua itu pada Sharon. Jika di katakan mendadak, akan terjadi salah faham lagi, dan Charles sungguh tak menginginkan hal itu terulang kembali.


Ingin membuka suara, namun Sharon tampak terlelap di dalam mobil, kemudian membuatnya menghela nafasnya dengan berat. Gadisnya terlihat begitu lelah, kemudian ia memutar arah mobilnya, dan membawanya pulang ke kediaman keluarga Austin.


Setibanya disana, ia pun segera turun dari mobilnya, dan membuka pintu untuk gadis tersebut. Lalu, ia membiarkan bodyguardnya untuk memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


"Charles, apa yang kau lakukan pada gadis polos ini?" Charlie terkejut ketika melihat saudaranya menggendong seorang gadis yang tengah tak sadarkan diri.


"Berisik." Serunya, dan langsung membawa gadis tersebut ke dalam kamarnya.


"Charlie, ada apa? Dengan siapa kau bicara?"


"Ayah, Charles menggendong Sharon dalam kondisi tak sadarkan diri, dan dia langsung membawanya masuk ke dalam kamar. Entah apa yang akan Charles lakukan." Bisik Charlie pada sang ayah.


"CHARLIE! Apa bergosip merupakan hobi barumu?" Entah kapan Charles keluar dari kamarnya, ia bahkan menjitak kepala saudaranya kala itu.


"Uuhh, aku kan tidak bergosip, aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Kini Charlie mengusap-ngusap kepalanya.


"Apa benar yang dikatakan oleh adikmu? Kau membawa Sharon ke rumah ini?"


"Benar ayah. Aku rasa dia sedang memiliki banyak fikiran, dia tertidur ketika dalam perjalanan pulang. Karena tidak tega meninggalkannya dirumah seorang diri, aku memutuskan untuk membawanya kemari."


"Lalu kenapa membawanya masuk ke dalam kamarmu? Kau pasti mau berbuat macam-macam padanya kan? Mengaku!" Sahut Charlie.


"Bodoh! Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu. Malam ini, aku akan tidur di kamarmu."


"Aku tidak mengizinkanmu. Tidur saja sana di ruang tamu." Charlie memalingkan pandangannya seraya menyilangkan kedua tangannya, dan Charles memberikannya sebuah tatapan tajam. "Jika kau mau minta maaf padaku, aku akan mempertimbangkannya." Sambungnya lagi.


"Tidak akan. Aku akan tidur di ruang tamu." Kemudian Charles menghentakkan langkah kakinya, dan menuju ruang tamu dengan kesal. Sedangkan Bill hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat semua itu.


Bersambung ...