
"Ternyata ini lah gadis yang sering kau ceritakan ya? Kakak. Ternyata lebih cantik dari foto yang pernah ku lihat." Sahut Charlie seraya menekankan kata 'kakak' padanya.
"Kakak? Apa maksud dari semua ini?" Sharon masih tidak memahami situasinya, dan Charles hanya mampu menghela nafasnya seraya memijat pelan dahinya.
"Nona. Kau bekerja disini sudah berapa lama? Apa kau sungguh tidak mengetahui siapa direktur dari perusahaan tempatmu bekerja? Kau ini sungguh lucu." Charlie tersenyum mengejek.
"Pertama kali saya masuk, saya dengar jika direktur tengah berada di luar negeri. Setelah mendapat kabar dia sudah kembali, saya sama sekali belum pernah menemuinya. Yang saya tahu, direktur perusahaan ini memang memiliki..." Ucapan Sharon terpotong, dan kembali menatap Charles, juga Charlie. "... kembaran."
"Lalu apa kau mengetahui siapa nama mereka?" Charlie masih mengintrogasinya.
"Charlie, sudah cukup!" Kini Charles membuka suaranya.
"CC Twins, itu julukkan yang pernah saya dengar. Jadi, CC Twins itu adalah Charles Austin, dan Charlie Austin, ya?" Sharon menghela nafasnya dengan berat. "Saya sangat minta maaf pada anda semua, tidak seharusnya saya masuk tanpa izin. Maafkan kelancangan saya ini tuan." Sharon memundurkan langkahnya seraya membungkukkan tubuhnya berulang kali.
"Jika sudah mengerti, bisakah kau keluar sekarang? Aku yakin jika kau masih memiliki banyak pekerjaan bukan?" Charlie kembali melemparkan ucapan ketusnya.
"Sekali lagi saya minta maaf, saya permisi." Sharon berjalan meninggalkan ruang tersebut dengan pandangan yang tertunduk. Ketika melewati Charles, Charles langsung menggenggam lengannya.
"Tetaplah disini." Gumam Charles.
"Maaf tuan, saya harus kembali bekerja. Atas kelancangan saya ini, saya siap menerima hukumannya. Anda juga boleh memotong gaji saya jika anda mau. Permisi." Sharon melepaskan genggaman tersebut, dan keluar dari sana.
"Setelah apa yang kau ucapkan. Aku rasa, kau pasti tahu bukan? Siapa yang harus berangkat?" Sahut Charles seraya menatap Charlie dengan tatapan yang sangat tajam.
Terlihat jelas jika Sharon tengah menahan air matanya. Ia kembali menuju lokernya, dan membereskan barang-barangnya. Kemudian, ia keluar dari sana, dan berlari meninggalkan perusahaan dengan hati yang hancur.
Tak lama Sharon meninggalkan ruangannya, Charles pun bergegas untuk mengejarnya. Namun, ia tak mampu menemukannya, gadis itu sudah tak terlihat.
"Tadi aku melihat nona Hwang berlari meninggalkan kantor." Sahut Larissa.
"Baiklah, terima kasih."
Hujan turun, dan Sharon masih duduk diam di halte. Tak perduli sudah berapa kali bus yang berhenti, Sharon tidak menaikinya satu pun. Mengingat kejadian tadi, membuatnya merasa di bodohi. Kemudian, ia memutuskan untuk meninggalkan halte, dan menerjang hujan.
Entah kemana langkah kakinya akan pergi. Namun, ia sungguh bersyukur, berkat hujan, ia mampu menyembunyikan air matanya. Kekecewaan yang dirasakannya saat ini sangat menyesakkan hati, dan jantungnya.
Hujan semakin deras, dan matahari pun sudah mulai terbenam. Tak di sangka ia tiba di tempat favoritnya, taman Zurichhorn. Kali ini, ia memutuskan untuk kembali duduk disana. Memandangi air sungai yang terguyur air hujan, dan air matanya kembali menetes saat itu juga.
Tak sampai di situ, orang tersebut melempar payungnya, dan mengejarnya dengan langkah seribu. Ia menariknya ke dalam pelukannya, dan dengan cepat Sharon mendorong tubuh orang tersebut.
"Maaf karena saya meninggalkan kantor di saat masih jam kerja. Untuk itu, anda juga boleh memotong gaji saya. Besok, saya akan berangkat lebih pagi untuk mengganti jam hari ini." Sahut Sharon yang sama sekali tak memandang wajah orang yang berada di hadapannya.
"Apa kini kau membenciku?"
"Tuan Charles? Apa yang anda katakan? Dengan alasan apa saya harus membenci anda? Semua ini sudah jelas adalah karena kebodohan saya. Lagi pula, bukankah memang semua orang besar seperti kalian sangat senang mempermainkan orang kecil seperti saya ini?" Sharon kembali melangkah pergi dari sana.
"Aku mohon dengarkan penjelasanku." Lagi-lagi Charles menahan lengan gadis itu.
"Hujan semakin deras, sebaiknya anda segera kembali." Sharon kembali melepaskan genggaman tersebut. Meski hujan semakin lebat, dan seberapa keras gadis itu menyembunyikan tangisannya. Charles masih mampu mendengar suara parau serta isakkan kecilnya.
•••
Pagi harinya. Sharon kembali pada aktifitasnya. Ia mengerjakan pekerjaan tugasnya seperti biasa. Ketika hendak menyimpan minuman-minuman pada meja karyawan, ia berpapasan dengan Charles.
Sudah tak mengenakan pakaian office boy. Kini Charles mengenakan setelan kantornya, lengkap dengan jas serta dasi yang melingkar di lehernya. Menyadari itu, Sharon tersenyum kecut, kemudian membungkukkan tubuhnya, dan segera meninggalkannya.
Key yang melihat semua kejadian tersebut pun merasa ngeri. Posisi yang begitu canggung baginya, dan melihat keduanya tidak saling menyapa, terasa sangat aneh untuknya.
"Tuan, besok lusa ada yang ingin menemui anda."
"Siapa, dan atas keperluan apa?"
"Tuan Kent Edbert dari E.KChamp. Untuk mengajukan kerja sama."
"E.KChamp? Bukankah Kent Edbert memegang kendali Edbert Group?"
"Menurut informasi, E.KChamp sudah berada di bawah kendali tuan Kent, dan tuan besar Edbert kembali menangani Edbert Group dengan alasan agar lebih dekat rumah."
"Kent Edbert ya? Kebetulan sekali ada yang ingin ku pastikan dari orang itu. Aku akan menemuinya besok lusa."
"Baiklah, aku akan memberitahu tuan Louis selaku asistennya."
Bersambung ...