My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 14



Lampu operasi masih menyala. Sudah 2 jam ia menunggu, dan operasi masih belum selesai dilakukan. Alice yang mendengar kabar mengenai operasi ibu Sharon pun langsung datang ketika jam makan siang. Melihat


Sharon yang tidak dapat duduk dengan tenang, ia segera menghampirinya, dan memeluknya.


Kemudian, Alice meminta sahabatnya untuk duduk, dan memberikannya satu botol air mineral. Tak hanya itu, Alice juga mencoba menghibur sahabatnya agar dapat sedikit tenang. Ketika jam makan siang hampir selesai,


Alice meminta maaf untuk segera pamit.


“Hari ini aku akan lembur. Aku yang akan menggantikan shiftmu hari ini di toko. Hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu.” Sahut Alice, dan Sharon mengangguk pelan untuk menanggapinya.


Fikiran, dan hati Sharon kembali kacau ketika Alice pergi. Dia pun duduk disana, wajahnya tertunduk dengan penuh rasa kekhawatiran. Seorang yang ditunggunya pun tak kunjung datang, janji yang dibuatnya pun tidak


ditepati. Dia membutuhkan seseorang untuk mendukungnya kali ini.


Disaat Sharon sedang risau di rumah sakit. Ternyata Charles tengah mengadakan pekerjaan besar di kantornya, dan hal itu tak bisa ia tinggalkan. Kali ini, ia tengah menunggu hasil dari asistennya. Setelah


mendapat telfon darinya, Charles segera bergegas untuk pergi menuju Escape Group dengan kecepatan tinggi.


“Kenapa rapat masih belum di mulai?” Ucap direktur Escape Group kepada para pemegang saham lainnya.


“Maaf tuan Albert. Mana mungkin kami mengadakan rapat tanpa petinggi dari Escape Group?”


“Apa maksud anda tuan Darel? Bukankah aku sudah disini, dihadapan kalian?”


“Maaf. Tapi mulai hari ini, tuanku lah yang memegang kendali penuh atas Escape Group. Nilai saham terbesar yang ada di perusahaan ini sebesar 15%. Menurut penilaian bisnis, siapa yang memiliki saham tertinggi,


dialah yang berhak memegang kendali perusahaan tersebut.” Key menjelaskan.


“Tentu saja, dan 15% itu milikku. Jadi, apa hakmu menyebutkan jika tuanmu lah yang berhak memegang kendali?” Tuan Albert tidak terima dengan semua ocehan Key yang menurutnya tidak masuk akal.


“Aku mengatakan itu, karena tuan Charles memiliki saham 30% disini. Itulah alasanku mengatakannya.”


“Mana mungkin? Sejak kapan dia mendapat nilai sebanyak itu?” Albert Caster semakin kesar ketika mendengar semuanya.


“Kenapa tidak mungkin tuan Albert? Bagiku memutar balikkan kondisi bukanlah hal yang sulit. Bukankah kau berniat bermain-main denganku? Apa menurutmu taktik murahan seperti itu akan mudah membodohi kami orang-orang Austin Industries?” Dengan bangganya Charles masuk ke dalam ruang rapat tersebut, dan para pemegang saham lainnya pun lekas berdiri untuk memberi hormat padanya.


“Kenapa nilai sahammu bisa naik drastis?”


“Maafkan kami tuan Albert. Masing-masing dari kami membantu tuan Charles dengan memberikan saham kami kepadanya sebesar 3%. Kami membutuhkan pimpinan sepertinya, jika tanpa bantuan darinya, maka Escape Group akan mengalami kebangkrutan, dan kami akan mengalami rugi yang sangat besar.”


“Jadi, kalian meminta rapat hanya untuk mengenalkanku pada direktur baru Escape Group?”


“Benar sekali. Jadi, bagaimana tuan Albert? Apa kau sudah faham? Tapi kau tenang saja. Aku tidak akan merebut kursi direkturmu, dan aku akan tetap memberimu izin untuk menjadi pemimpin disini, namun tetap di bawah pengawasanku. Jika kau tidak setuju, silahkan keluar dari perusahaan ini, dan aku hanya mengembalikkan saham milikmu sebesar 5%.”


“Aku akan tetap berada disini.”


“Keputusan yang bijak tuan Albert. Selanjutnya, jika terjadi masalah. Kalian bisa langsung menghubungi asistenku, Key Edgar. Maaf, aku harus segera pergi, masih ada banyak urusan yang menantiku di luar sana.”


miliknya, ia pun sedikit mengacak-ngacak letak rambutnya.


Setibanya di rumah sakit, Charles meminta Key untuk segera kembali kantor, dan menangani masalah disana. Setelah Key pergi, dengan cepat Charles berlari ke dalam, mencari-cari ruang operasi, dan ruang operasi


sudah tidak ada orang lagi. Hingga kemudian, ia berpapasan dengan dokter Brian, dokter yang bertanggung jawab atas ibunya Sharon.


Ketika melihat Charles, dokter Brian mengantarnya untuk menemui Sharon. Gadis itu pingsan, dan kali ini ada di ruang rawat. Melihat gadisnya terbaring membuat Charles menyesal, menyesal karena dia tidak


datang di waktu yang mana Sharon membutuhkannya. Ia bahkan sudah mengingkari janji yang sudah dibuatnya sendiri.


“Ibu.” Gumam Sharon dengan mata yang masih terpejam, dan air matanya pun menetes di dalam tidurnya. Kemudian, Charles langsung menggenggam tangan gadisnya.


“Sharon, ada apa denganmu?”


***


Lampu operasi sudah padam, dan menyadari hal tersebut, Sharon bergegas untuk berdiri. Ia menunggu dokter keluar untuk meminta penjelasan, dan berharap jika ia mendengar kabar baik mengenai operasi tersebut. Dokter Brian yang sudah keluar pun langsung menemui Sharon, dan mengatakan mengenai hasilnya.


“Operasi berjalan lancar. Namun, saat ini masih belum di pastikan, apakah tubuh ibumu akan menerima sumsum barunya atau sebaliknya. Terlebih lagi, saat ini ibumu..”


“... Kenapa dokter? Ada apa? Katakan padaku sekarang juga.”


“Ibumu mengalami koma.” Mendengar pernyataan itu membuat Sharon kehilangan kesadarannya, dan dokter Brian meminta sebagian perawat untuk menyiapkan ruangan baru.


Sedikit demi sedikit Sharon membuka matanya secara perlahan, Charles senang ketika melihat gadisnya telah sadar, dan Sharon yang menyadari kehadiran Charles pun langsung bangun memeluknya. Tangisannya pecah


saat itu juga, dan Charles semakin merasa bersalah.


“Yang ku takutkan menjadi kenyataan, bagaimana ini? Aku sudah menjerumuskan ibu.” Isaknya yang masih dalam dekapan Charles.


“Tenanglah, aku yakin jika bibi akan sadar.”


“Aku ingin menemuinya.”


“Tidak sekarang. Tubuhmu masih sangat lemah, sekarang kau harus beristirahat dulu.”


“Tapi..”


“Aku tidak mau mendengar penolakkan, sekarang berbaring, dan istirahat.” Ucapnya tegas, dan Sharon pun kembali berbaring yang kemudian langsung membuat Charles menyematkan selimut ke tubuh gadisnya.


 


 


Bersambung ...