
Pagi itu, Kent datang menuju rumah Sharon. Karena hari tersebut adalah hari liburnya, beruntung Kent dapat menemuinya. Kent yang merasa senang dengan pertemuannya, berbeda dengan yang di rasakan oleh Sharon.
Melihat kehadirannya sungguh membuat ia sangat tak nyaman. Tidak lama kemudian, Alice pun datang menyapa, ia juga terkejut ketika melihat Kent berada di sana. Tidak ingin mengganggu, Alice mencoba untuk memberikan mereka waktu, namun Sharon langsung menahan langkah sahabatnya.
"Untuk apa lagi kau menemuiku, Kent? Kau sudah bertunangan, dan hubungan kita hanyalah sebuah kesalahan."
"Kesalahan katamu? Justru perpisahan kita lah yang menjadi kesalahan. Kesalahan terbesar dalam hidupku."
"Jika kau datang hanya ingin memaksaku kembali, aku tidak bisa. Tapi, jika kau datang untuk berteman denganku, maka aku akan memikirkannya."
"Apa kau sungguh membenciku? Sehingga kau enggan untuk kembali padaku?"
"Aku sudah katakan padamu alasannya. Aku tidak ingin merusak hubungan antara ibu, dan anak. Jika tidak ada hal lain lagi, aku permisi." Sahut Sharon yang berjalan menjauh meninggalkannya.
"Jika kau seperti ini terus, Sharon tidak akan mau melihatmu lagi, Kent. Kendalikan perasaanmu, dan jangan melakukan hal yang ceroboh. Di lihat dari segi mana pun, kejadian itu memang sangat menyakitkan untuknya, di hina tanpa ada pembelaan, dan di usir tanpa ada yang memikirkan perasaannya. Kau tahu jelas jika hal itu bukan pertama kali yang ia rasakan?"
"Aku mengerti Alice. Aku akan berikan dia waktu untuk berfikir."
Berulang kali Sharon mengecek ponselnya, dan ia masih belum menerima pesan dari Charles. Terakhir kali menerima pesan darinya, hanya sebuah kata maaf. Entah maaf untuk apa yang ia utarakan itu.
•••
Alice, dan Sharon tengah menikmati makan siangnya. Namun, fikiran Sharon melayang entah kemana, hingga Alice pun harus mencoleknya agar ia sadar dari lamunannya.
"Kau tengah memikirkan Charles?" Alice menyeru, dan Sharon tampak menghela nafasnya.
"Sesekali aku merasa, ada sesuatu yang disembunyikan Charles padaku. Dia tidak pernah memberitahuku mengenai keluarganya, tempat tinggalnya, dan hal lainnya. Hingga ketika aku mencemaskannya, aku tidak bisa datang untuk mencarinya." Gumam Sharon.
"Kau mencurigainya karena hal kecil itu?"
"Aku tidak mencurigainya. Hanya saja setiap aku pergi dengannya. Aku merasa jika barang-barang yang ia gunakan sangatlah mewah. Mulai dari pakaian, topi, hingga sepatunya. Meski aku hanya orang biasa, aku mengenal beberapa brand-brand ternama. Karena aku pernah bekerja di beberapa tempat tersebut."
"Kenapa kau tidak bertanya langsung saja padanya?"
"Apa pantas jika aku menanyakan hal seperti itu? Aku tidak ingin dia berfikir macam-macam padaku."
Alice yang belum mendapat jadwal libur pun harus segera berangkat, dan dengan berat hati, ia harus meninggalkan sahabatnya yang masih menyantap makanannnya. Merasa tidak enak jika makan seorang diri, ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.
Zurichhorn. Taman tersebut menjadi salah satu tempat favoritnya, pohon yang rindang, dan air sungai yang mengalir dengan tenang. Duduk di bawah pohon yang rindang menjadi kebiasannya ketika datang kesana.
Ia menyandarkan tubuhnya pada pohon tersebut seraya memperhatikan orang yang berlalu lalang di hadapannya. Tanpa ia sadari, ia pun memejamkan matanya di sana.
"Terima kasih atas waktu yang sudah di luangkan. Aku harap ke depannya, mampu bekerja sama dengan sangat baik tanpa ada kesalahan sedikit pun."
"Mengetahui tuan Charles sangat cerdas, dan berhati-hati. Aku rasa terjadinya kesalahan hanya sebesar 0,2% saja."
"Anda terlalu memujiku tuan Nick." Ungkap Charles.
"Jika begitu, mulai hari ini, Sworth Company, dan Austin Industries adalah rekan. Selanjutnya, jika terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku."
"Tentu saja. Jika begitu, aku permisi dulu, karena masih ada hal yang harus ku selesaikan." Sahut Charles, dan keduanya pun saling berjabat tangan. "Sekarang, antar aku ke Zurichhorn, Key." Ucapnya yang sudah berada dalam mobil.
"Baik tuan."
Setibanya di Zurichhorn, Charles meminta Key untuk segera pulang. Sudah memakai setelan santainya, ia pun bergegas berjalan meninggalkan mobil. Matanya menangkap seseorang yang sangat di kenal olehnya, kemudian ia pun menyunggingkan senyumnya, dan langsung berjalan ke arahnya.
Yah, dia melihat Sharon tengah tertidur di bawah pohon besar itu. Lalu, ia pun duduk di sisinya seraya menyampirkan kemeja yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Sharon.
"Kenapa kau begitu ceroboh sekali?" Gumam Charles yang mendekap tubuh kecil Sharon seraya mencium puncak kepalanya.
Tidak lama kemudian, Sharon membuka matanya secara perlahan. Merasakan ada seseorang yang mendekapnya, ia langsung mendorong orang tersebut, dan melangkah mundur dengan cepatnya.
"Argh." Ringis Charles karena terkena benturan pohon pada kepala bagian belakangnya. "Jadi, seperti itu balasanmu untuk seseorang yang sudah menjagamu ketika tengah tertidur?" Gerutu Charles seraya mengusap-ngusap kepalanya.
"Sungguhan dirimu? Aku fikir orang lain. Maafkan aku." Ucap Sharon yang berjalan menghampirinya, dan berlutut di hadapan pria tersebut seraya mengusap kepala bagian belakang Charles.
"Kenapa kau bisa tertidur di tempat seperti ini? Jika ada orang lain yang mengerjaimu bagaimana?" Tutur Charles yang melingkarkan tangannya di pinggang Sharon.
"Jika itu terjadi, mungkin kau akan memberinya pelajaran."
"Siapa bilang aku akan melakukannya? Kenapa kau bisa seyakin itu?"
"Memangnya aku salah bicara? Apa kau yakin akan diam saja ketika terjadi sesuatu padaku?" Sharon menatap mata Charles dengan sedikit kecewa.
"Mana mungkin aku bisa diam saja? Aku akan mencari orang itu, dan menghajarnya sampai aku puas."
"Ppffftt. Ternyata kekasihku ini bisa seseram itu ya?" Sharon terkekeh, dan Charles langsung memeluknya.
"Aku berharap, kebahagiaan ini bisa berlangsung dalam waktu yang lama." Gumam Charles dalam batinnya.
Bersambung ...