
Kini, upacara pemakaman telah selesai di lakukan, dan saat itu juga Nick meminta Sharon untuk ikut dengannya menuju ke kediaman Sworth.
Tawaran itu membuat Sharon terdiam, tentu saja dia enggan untuk pergi ke sana lagi. Setelah apa yang sudah dilakukan mereka pada dirinya saat itu.
"Kau harus ikut denganku Sharon. Surat yang kakek titipkan berada di brankas ruang bacaku."
"Tidak bisakah mencari tempat lain?"
"Kita akan pergi, aku yang akan menemanimu." Charles langsung merangkul bahu Sharon saat itu juga. "Bagaimana tuan Nick, apa anda keberatan?" Timpalnya seraya menatap wajah pria yang ada di hadapannya.
"Aku tidak keberatan. Baiklah, ayo berangkat sekarang."
Nick, beserta ibu, dan neneknya telah pergi lebih dulu. Tampaknya nyonya besar Sworth tidak pernah mengambil pusing tentang keberadaan Sharon. Sejak awal mereka bertemu, beliau tidak pernah mengatakan apapun padanya.
Setelah memastikan mereka telah berangkat, Charles segera berjalan menuju mobil. Namun, ia tidak melihat Sharon berada di sampingnya. Langkahnya pun terhenti, hingga ia pun menoleh, dan gadis itu masih diam mematung.
Sebuah senyuman terukir di bibir Charles, ia menghela nafasnya, dan kembali melangkah menghampiri gadisnya.
"Apa lagi yang kau khawatirkan?"
"Hah? Tidak ada, ayo pergi." Ucap Sharon yang langsung merangkul lengan Charles.
30 menit kemudian mereka sudah tiba. Iriana yang melihat kehadiran Sharon di sana pun memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Jika tidak ada Charles disana, mungkin ia akan mengeluarkan ucapan kasarnya.
Kemudian, Nick langsung mengajak keduanya menuju ruang baca miliknya. Mereka di persilahkan duduk sejenak, dan Nick pun memberikan surat tersebut pada Sharon.
"Ozan, putraku. Sejak kecil, kau selalu menjadi putra kebanggaanku, sejak kecil kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan melalui semua kerja kerasmu. Kau juga merupakan pewaris sah dari Sworth Company. Namun, kau selalu menolak memimpin perusahaan tersebut, dengan alasan jika kau belum pantas."
"Apa benar ini untukku?" Gumam Sharon membulak-balikkan kertas tersebut.
"Bacalah sampai akhir." Sahut Nick yang duduk di hadapannya.
"Hingga kau memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang tidak tahu jelas asal usulnya, dan aku menentang hubungan kalian pada saat itu. Namun, ketika aku melihat putrimu datang dengan air mata ketulusannya, aku senang melihatnya. Putrimu begitu menyayangimu. Saat itu aku tersadar, jika aku telah melakukan kesalahan. Namun, ketika aku hendak datang untuk menemui kalian, aku telat. Kau telah pergi, dan saat itu juga aku menyesali semuanya. Seandainya, ayahmu ini sadar lebih awal, ayahmu bisa datang lebih cepat, dan seandainya ayahmu ini tidak menahan keponakanmu untuk pergi, mungkin kau tidak akan meninggalkan kami."
Air mata Sharon menetes saat itu juga, dan dengan cepat Charles mendekapnya untuk menenangkannya gadis di sisinya tersebut. Isakkan kecil terdengar disana, dan Sharon kembali mengatur nafasnya.
"Bahkan ketika pemakamanmu, kami tidak datang kesana untuk memberi penghormatan terakhir padamu. Karena ayahmu ini merasa malu untuk bertemu dengan istri, dan putrimu. Lagi-lagi, keegoisanku menahan semua itu. Demi menebus semua kesalahanku padamu, dan keluargamu, aku akan meninggalkan 25% harta warisanku, dan 15% saham perusahaan untuk putrimu. Dengan begitu, aku harap kau bisa memaafkanku kelak. Untuk Sharon Sworth cucuku, dengan surat ini, aku ingin meminta maaf padamu atas kata-kata yang menyakitimu saat itu. Aku harap kau juga mau memaafkan kakekmu ini." -Duke Sworth
Seselesainya, Sharon kembali mengusap air matanya. Ia juga langsung melipat kertas tersebut, dan menyimpannya di atas meja. Isakkannya begitu dalam, kemudian membuat Charles memeluknya.
"Setelah kakek tahu tentang kematian paman Ozan, beliau langsung jatuh sakit. Dalam tidurnya, tiada henti-hentinya kakek memanggil nama putranya. Aku pun tidak tahu kapan kakek menulis ini, beliau memintaku untuk memberikan surat itu padamu, dan satu jam kemudian kakek pun pergi meninggalkan kami."
"Sharon, apa yang ingin kau lakukan sekarang?" Imbuh Charles.
"Besok pengacara keluarga Sworth akan tiba, dan aku harap kau bisa hadir disana. Pengacara Stev akan membacakan wasiat kakek."
"Untuk apa aku hadir?"
"Karena kau salah satu pewaris dari keluarga ini. Jika kau tidak hadir, maka pengacara tidak akan membacakannya."
"Tapi, aku tidak bisa menghadirinya. Aku tidak memiliki keberanian untuk berhadapan dengan nenek, dan juga bibi."
"Kau tidak perlu mencemaskan hal tersebut. Besok pagi, aku yang akan menjemputmu, dan melindungimu."
"Terima kasih kak Nick."
•••
Hari mulai gelap, dan Sharon masih tidak ingin meninggalkan taman saat itu. Fikirannya masih mencerna segala hal yang tertulis di dalam surat tersebut. Bagaimana mungkin itu terjadi?
"Kubelikan rosti untukmu. Makanlah dulu." Sahut Charles yang menampilkan rosti tepat di depan wajah Sharon.
"Terima kasih." Gumam Sharon yang lekas menyantapnya. "Menurutmu, apa semua ini masuk akal?"
"Kenapa tidak? Mungkin itu bentuk penyesalan dari kakekmu. Besok kau harus datang, Nick sudah berjanji untuk menjagamu. Dengan begitu, kau akan aman, dan tidak akan membuatku khawatir."
"Apa kau tidak bisa menemaniku?"
"Mana boleh begitu? Itu urusan internal, aku ini hanya orang luar. Lagi pula, besok aku harus mengurus persiapan tender yang akan dilakukan dua minggu lagi. Setelah jam pulang, aku akan langsung menemuimu."
"Janji?"
"Aku berjanji." Balas Charles yang mengacak-ngacak rambut Sharon.
Bersambung ....