My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 149



"Lihat ini, dan ini!" Yarry menunjuk ke arah monitor, dan Charles melihatnya secara seksama. Sedangkan, Sharon hanya mampu menatap monitor melalui layar led yang terdapat di dinding. "Di rahimmu terdapat dua bayi." Pungkasnya lagi dengan senyuman.


Mendengar 'dua bayi' membuat Charles terperangah, kedua matanya terbelalak, dan sungguh tak terduga bagi keduanya jika mereka akan mendapatkan dua sekaligus. Air mata menetes di kedua mata Sharon, lalu Charles langsung mencium kening istrinya.


"Bukankah kau juga memiliki saudara kembar? Gen darimu lah yang membuat Sharon memiliki anak kembar."


"Bukan Sharon, tapi kami. Karena anak ini bukan hanya miliknya saja." Sambar Charles, kemudian mereka pun tertawa.


Setelah itu, Yarry membereskan peralatannya, dan Charles membantu Sharon untuk bangun dari bed stretcher. Kemudian, memapahnya untuk duduk di kursi. Yarry kembali, dan memberikan hasil usg mereka, serta memberikan resep vitamin untuk Sharon.


Saat usg telah selesai di lakukan, saat mereka telah selesai dengan Yarry, mereka segera berpamitan. Sebelum mereka pergi, Yarry mengingatkan mereka untuk kembali pekan depan. Hari sudah semakin malam, dan dalam perjalanan, Sharon tampak tertidur pulas.


Menyadari itu membuat Charles tersenyum, saat menggenggam tangan Sharon, tangannya terasa begitu dingin, sehingga ia mematikan pendingin di mobilnya, dan menggantikan penghangat agar tubuh Sharon kembali normal.


Malam itu sungguh malam yang membahagikan untuknya. Ia sungguh tak sabar menunggu kelahiran buah hatinya, ia tak sabar melihat keduanya, membayangkannya saja sudah sangat menggemaskan baginya, bagaimana jika sudah benar-benar terjadi?


Mereka telah tiba di villa, Charles mengusap pipi Sharon seraya mengatakan jika keduanya telah tiba. Tampaknya Sharon masih tak mendengar ucapan Charles, ia hanya menggeliatkan kepalanya, dan hal tersebut kembali membuat Charles tersenyum.


"Pantas saja kedua pipimu semakin menggemaskan, ternyata kau membawa dua bayi di dalam perutmu." Charles tertawa kecil. Lalu, ia memutuskan untuk turun, dan tidak mengganggu waktu tidurnya.


Perlahan Charles menggendong tubuh Sharon. Setelah berada dalam gendongannya, kepala Sharon kembali menggeliat masuk ke dalam pelukannya, dan itu sungguh membuat Charles merasa gemas. Tidak berpikir panjang lagi, Charles segera membawanya masuk ke kamar agar istrinya bisa beristirahat dengan nyaman.


Setelah berada di atas ranjang, Sharon memiringkan tubuhnya seraya memeluk tangan Charles. Hal tersebut sungguh mengejutkan untuknya, namun ketika melihatnya kembali membuat Charles tersenyum. Ia mengusap puncak kepalanya, lalu mencium keningnya.


•••


Hari berlalu begitu cepat. Kehamilan Sharon pun sudah menginjak 7 bulan, dan sampai saat itu mereka menyembunyikan identitas kedua anaknya. Bahkan, Bill, Charlie serta keluarga Sworth tidak diberitahu mengenai kelamin anak kembar mereka. Keduanya melakukan hal tersebut karena ingin membuat kejutan untuk semuanya.


Namun, di saat usia kandungannya yang sudah membesar, keduanya belum sama sekali menyiapkan perlengkapan untuk kedua anak mereka. Sharon sering kali mengatakan hal tersebut pada Charles, namun suaminya hanya tersenyum menanggapinya.


Berbeda dengan Kent, ia justru sudah siap dengan segala kebutuhan putrinya. Yah, hasil usg mengatakan jika Kent akan memiliki seorang anak perempuan. Bahkan, dirinya sudah memutuskan untuk tidak masuk ke kantor serta mempercayakan pekerjaannya pada Louis.


"Aku sungguh tidak sabar menanti putri kita."


"Apa kau sudah memikirkan nama untuknya?" Natasha menyahut seraya menyandar pada bahu suaminya.


"Nama ya? Tentu saja aku sudah memiliki nama yang cocok untuknya." Kent tersenyum, lalu mencium puncak kepala Natasha. "Aileen Edbert, itulah nama yang ingin ku berikan untuknya. Apa kau setuju?" Imbuhnya lagi yang kemudian menatapnya dengan lekat.


"Nama yang cantik."


"Aileen memiliki arti menyenangkan, dan bercahaya. Aku berharap, Aileen kita bisa membuat kebahagiaan untuk orang-orang yang di sekitarnya."


Kebahagiaan bukan hanya terjadi pada mereka yang tengah menanti kelahiran buah hati mereka. Di tengah penantian Kent, dan Charles. Kabar bahagia pun menyelimuti keluarga Sworth saat mendengar kehamilan Alice. Nick sampai menggendong Alice mengelilingi halaman rumahnya, hingga membuat seluruh pegawai di sana tertawa akan hal tersebut.


"Astaga, apa kau tahu? Setelah keponakanku lahir nanti, tidak lama kemudian anakku akan lahir. Aaah itu sangat menyenangkan." Tutur Nick dengan nada yang sumringah.


"Bagaimana jika kita memberitahu Sharon mengenai hal ini?" Alice menyunggingkan senyumnya, dan dengan cepat Nick menyambar ponselnya.


"Cincin pernikahan kita akan selesai di buat lusa, sepulang mengambil cincin, kita akan langsung menuju butik untuk mengetahui sampai mana proses gaunmu." Charlie menyeru seraya menatap catatan yang terdapat di ponselnya.


"Aku sungguh tak sabar menanti hari itu. Akhirnya Charles setuju dengan hubungan kita, dan tak membahas soal yang terjadi dulu lagi."


"Ini semua berkat Sharon. Jika bukan dia yang bicara pada Charles, mungkin sampai saat ini..."


"... aku mengerti. Meski begitu, aku tetap bahagia." Gwen tersenyum, dan Charlie membalas senyuman itu, lalu memeluknya erat.


Di waktu yang bersamaan, di malam yang sudah hampir larut. Charles baru tiba di villa, dan Sharon masih terjaga untuk menanti kepulangannya. Setibanya di kamar, Charles langsung mengendurkan simpulan dasinya, kemudian ia menyambar lemarinya untuk mengambil pakaian ganti.


"Akhir-akhir ini kau pulang telat, apa sedang ada banyak pekerjaan?" Sharon menyahut, dan Charles hanya berdeham membalas pertanyaan tersebut.


"Aku mandi dulu, sebaiknya kau tidur duluan. Tidak sehat jika kau tidur larut terus menerus." Timpalnya yang langsung memasuki toilet.


Tidak mendengarkan ucapan Charles, Sharon masih tetap menunggunya hingga suaminya selesai mandi. Charles yang baru keluar pun hanya menghela napasnya menyadari hal tersebut. Lalu, ia berjalan ke ranjang, dan berbaring disana.


Melihat Charles yang sudah berbaring lebih dulu, lekas membuat Sharon melakukan hal yang sama. Miring ke kanan, miring ke kiri. Posisi yang serba salah untuk kehamilannya sekarang ini. itu semua bukan hanya soal posisi, namun ia sedikit gusar dengan sikap Charles belakangan ini.


"Ada apa?" Gerutu Charles.


"Aku tidak bisa menemukan posisi yang nyaman untuk tidur."


"Kau gunakan bantalku saja sebagai tambahan." Charles menyerahkan bantalnya, dan membiarkan Sharon untuk memeluk bantal miliknya.


"Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu?" Imbuh Sharon. Charles yang sudah memejamkan kedua matanya pun harus kembali membukanya. "Usia kandunganku sudah 7 bulan, sebentar lagi 8 bulan, lalu 9 bulan. Sampai saat ini, kita belum membelikan apapun untuk mereka. Apa..."


"... kita bicarakan besok bagaimana? Saat ini aku lelah." Charles tersenyum ke arahnya, dan kembali memejamkan kedua matanya.


"Ini sudah ketiga kalinya ia berkata seperti itu. Entahlah besok yang di maksudkan itu kapan." Sharon menggumam seraya menatap lekat wajah Charles. Lalu, ia memutuskan untuk memunggungi suaminya.


Bersambung ...


Don't be silent readers guys💙


Tinggalkan jejak kalian setelah membaca, dengan begitu kalian sudah memberikan dukungan serta semangat untuk kami para author💘


Jangan lupa untuk baca novelku yang lainnya dengan cara search id kyushine di kolom search😍


Thank you all,,


Regards,


@kyu_shine