
Acara pun di mulai. Natasha tampak berjalan anggun dengan balutan gaun putih yang begitu cantik. Design yang begitu sederhana, namun terlihat mewah nan elegant. Semua mata para undangan memandangnya terpesona.
Bahkan Nick pun begitu terpikat ketika melihatnya, dan Alice langsung berdeham ketika menyadarinya. Nick yang mengerti akan dehaman itu pun sedikit terkekeh serta menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
Dengan di iringi ayahnya Kent, Natasha pun di serahkan pada putranya saat ia telah tiba di sana. Senyuman terukir di bibir keduanya, dan terlihat begitu jelas jika keduanya tampak gugup.
"Baiklah. Sekarang, tamu undangan di persilahkan untuk duduk selama upacara pernikahan berlangsung." Sahut pembawa acara yang berada di sisi sebelah kanan mereka.
Janji pun di ucapkan oleh keduanya. Keduanya saling berhadapan, dan saling menyahut, dan seketika air mata menetes begitu saja dari kedua pelupuk mata Natasha.
"Aku mencintaimu, Natasha." Sahut Kent yang kemudian mencium lembut Natasha, lalu para tamu undangan pun bertepuk tangan atas sahnya pernikahan mereka.
Tepuk tangan terdengar semakin meriah. Sharon tersenyum hangat menyaksikan hal tersebut, dan Charles mencuri-curi pandang ke arah wanita di sisinya. Dia tersenyum saat melihat Sharon tersenyum, kemudian, ia mencium pipinya secara sekilas, yang mana hal tersebut langsung mendapatkan tatapan darinya.
Tatapan itu di balas dengan kedipan sebelah mata dari Charles, dan Sharon merasa tersipu akan hal tersebut. Lalu, ia merangkul pinggang suaminya, dan Charles merangkul bahunya.
"Aku mencintaimu." Bisik Charles, dan Sharon semakin mengeratkan pegangannya.
Saat upacara telah selesai, mereka pun menikmati pestanya. Kent, dan Natasha berjalan menghampiri tamu spesial mereka, siapa lagi jika bukan Charles-Sharon, juga Nick-Alice.
Ketika melihat Sharon, secara spontan Kent melepaskan pegangannya dari pinggang ramping Natasha. Tanpa sadar langkahnya semakin mendekat ke arah Sharon, dan Charles yang sadar akan hal tersebut pun langsung mendorong tubuh istrinya agar berdiri di belakangnya.
"Selamat atas pernikahanmu, Kent. Aku harap pernikahan kalian bertahan hingga di kehidupan kalian selanjutnya." Sahut Charles seraya menepuk sebelah bahu Kent.
"Terima kasih, Charles. Terima kasih juga untuk kalian karena sudah menyempatkan diri agar dapat hadir di acara bahagia ku dengan Natasha."
"Mana mungkin kami tidak datang? Kau sudah seperti keluarga untuk kami." Jawab Nick.
"Natasha, kau terlihat begitu cantik. Aku sungguh menyukai tema pernikahan kalian, seandainya aku bisa menggunakan tema seperti ini di acara pernikahanku nanti." Gumam Alice, dan Nick yang mendengar itu pun langsung merangkulnya.
"Kita tidak akan menggunakan tema yang sudah di gunakan oleh orang lain, calon istriku. Masih banyak tema yang jauh lebih indah dari ini, dan kau bisa menyatukan tema yang kau inginkan dengan tema yang di inginkan Sharon." Imbuh Nick, dan Natasha terkekeh mendengar hal tersebut.
"Bukan pesta pernikahan, namun pernikahan. Aku akan melakukan ulang pernikahan kami."
"Mengulang? Bukankah kau hanya mengatakan pesta pernikahan saja?"
"Apa kau tidak ingin merasakan debaran di jantungmu ketika kita mengucapkan janji? Apa kau tidak ingin merasakan bagaimana rasa bahagianya saat kita sudah di nyatakan menjadi suami istri? Apa kau tidak..."
"... aku ingin merasakannya, Charles. Terima kasih karena sudah berfikir sampai sejauh itu untukku." Sambar Charles.
Air mata Sharon menetes mendengar kepedulian Charles yang semakin kuat. Tidak ingin merusak suasana bahagia dari pernikahan Kent, Charles segera memeluk Sharon, dan mengajaknya untuk keluar dari gedung tersebut.
Saat berada di luar gedung, Charles mengusap cairan bening yang membasahi pipi wanita di hadapannya, lalu ia mencubit gemas kedua pipi Sharon hingga membuatnya menggelengkan kepalanya.
"Aargh itu sakit." Sharon meringis, lalu Charles menariknya ke dalam dekapannya. "Kenapa kau mencubitku? Apa kau lelah melihatku meneteskan air mata?" Sambungnya lagi, dan ucapannya itu membuat Charles kembali melepaskan dekapannya.
"Lelah? Bersamamu aku tidak mengenal lelah sedikit pun. Justru sebaliknya, bersamamu seakan penat dalam diriku hilang begitu saja. Tetaplah disini! Bersamaku! Di sisiku untuk sekarang, besok, dan seterusnya." Tutur Charles yang mendapat anggukkan dari Sharon. Kemudian, Sharon langsung memeluk erat suaminya. "Kembali ke dalam?" Lanjutnya, dan Sharon segera menganggukkan kepalanya.
Setelah menghapus jejak cairan itu, keduanya kembali ke dalam, dan menikmati pesta tersebut. Tidak ada jarak antar keduanya, Charles terus berada di sisinya, agar tidak seorang pun dapat mendekati istrinya.
Di waktu yang bersamaan, di tempat yang berbeda. Charlie tampak tengah menunggu seseorang di sebuah danau. Hari itu cukup terasa dingin, hingga ia memasukkan kedua tangannya di kedua saku jaket tebalnya.
Tidak lama setelah itu, seseorang yang di tunggunya pun tiba, dan Charlie menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan tanya.
"Maaf karena sudah membuatmu menunggu, Charlie. Banyak akses jalan yang di tutup akibat akan terjadi badai." Gumamnya dengan nafas yang tersengal akibal dingin.
"Kau tidak perlu mengatakan maaf atas keterlambatanmu. Bahkan saat kau tidak hadir pun, aku akan tetap menunggumu untuk hari ini, besok, dan..." Charlie menggantungkan ucapannya, dan menghela nafasnya secara perlahan. ".... seterusnya, Gwen." Sambungnya lagi yang berjalan menghampirinya.
Bersambung ...