My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 38



Dua minggu telah berlalu. Selama itu juga Sharon maupun Charles tidak melakukan tegur sapa ketika bertemu. Sesekali, ketika pulang kerja, Kent selalu datang menjemputnya, dan Charles pun melihat semua itu. Hingga membuatnya merasa gelisah dengan hubungan mereka.


Charles hanya takut jika gadisnya akan kembali bersama masa lalunya, dan ia akan ditinggalkan olehnya. Bahkan sikap Sharon padanya lebih dingin dari sebelumnya.


"Kau mau pulang?" Charles mencoba menegur Sharon yang berada di lobby.


"Tentu, bukankah ini sudah jam pulang?"


"Bagaimana jika ku antar? Kebetulan aku ada perlu di daerah dekat rumahmu. Jadi, bisa sekalian melewatinya."


"Maaf tidak perlu. Itu akan merepotkan anda, lagi pula sebentar lagi teman saya akan datang." Ulasnya tanpa memandang pria itu sedikit pun. Ketika melihat Alice datang dengan sepeda motornya, ia segera bergegas menghampirinya. "Satu lagi, anda tidak perlu lagi memperdulikan saya, sebaiknya urusi saja kekasih anda itu. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan kalian, permisi." Lanjutnya.


Ketika Sharon sudah pergi, Charles mengepalkan kedua tangannya, dan menggerutu kesal. Ia menyesal dengan sandiwara yang telah ia lakukan beberapa waktu lalu.


Alice yang melihat hubungan antara Sharon, dan Charles pun sungguh bingung. Hubungan keduanya sungguh rumit, bahkan rencananya saja tidak berhasil di jalankan oleh Sharon.


Kini, Charles sudah berada di rumahnya. Wajahnya terlihat begitu lesu, dan ia pun membanting tubuhnya di atas sofa seraya mengendurkan simpulan dasinya.


"Apa yang terjadi? Apa ada masalah di kantor?" Bill menghampiri putranya, kemudian Charles hanya menggelengkan kepalanya. "Apa masalahnya masih dengan gadis itu?" Tambahnya lagi.


"Kesalahfahaman kami semakin meluas, ayah. Semua ini karena ulahku lagi, saat itu aku seolah terlihat memiliki hubungan dengan Maisha, dan aku mamerkannya di hadapan dia. Aku melakukan itu hanya ingin tahu, apa perasaan yang dia miliki sudah benar-benar hilang atau sebaliknya."


"Lalu apa yang kau dapatkan?"


"Kebencian. Aku rasa dia membenciku kali ini."


"Beri dia waktu atau hubungi teman dekat yang ia miliki. Bicarakan padanya, dan tanyakan pada dia mengenai perasaan gadis itu. Kemudian, kau temui gadis itu di saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya."


"Begitu ya? Tapi, apa dia mau mendengarkanku?"


"Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, nak. Berjuanglah jika kau memang mencintainya." Bill menepuk bahu putranya seraya tersenyum. "Besok, aku juga akan berkunjung ke Austin Industries, setelah itu antar ayahmu ini menuju CBC Group." Sambungnya lagi, dan Charles menganggukkan kepalanya.


•••


Pagi telah kembali, dan hari itu adalah hari dimana Sharon libur bekerja. Jarang memiliki kesempatan untuk berolahraga, maka pagi itu ia gunakan untuk berlari kecil.


Terdapat car free day di pusat kota. Tidak ingin melewatkannya, ia juga menuju tempat tersebut agar lebih leluasa, dan bisa berlari kecil di tengah keramaian.


Merasa lelah, ia segera duduk di salah satu bangku yang berada di pinggiran jalan, dan menenggak air mineral yang di genggamnya sejak tadi. Keringat pun bercucuran, lalu ia menyekanya dengan handuk yang sengaja di lingkarkan di lehernya.


"PPPAAAMMMAAANN~" Sharon meneriakinya, namun suaranya tidak terdengar karena kebisingan kendaraan yang lewat. "Tidak ada waktu lagi." Ungkapnya lagi, dan segera berlari ke arah orang itu.


Sharon berlari dengan cepat, ia berharap jika mampu menyelamatkannya, dan hanya berjarak beberapa centi meter, Sharon langsung loncat, dan mendorong orang tersebut.


Orang itu berhasil di selamatkan. Namun, barang yang ada di genggaman orang tersebut menjadi berantakkan. Kepala Sharon terbentur trotoar jalan, hingga mengeluarkan darah, namun ia masih mendapatkan kesadarannya.


"Tuan? Apa anda baik-baik saja?" Seorang pria dengan jas hitamnya menghampiri orang tersebut.


"Aku baik-baik saja. Tapi, cepat tolong nona yang disana."


"Paman, maafkan aku karena tiba-tiba mendorongmu, dan barang-barang itu..." Sharon memandangi barang yang berserakan.


"Tidak perlu minta maaf, dan tak perlu perdulikan barang itu, itu hanya hadiah kecil untuk kedua putraku. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Dahimu terluka, biar ku antar kau ke rumah sakit."


"Terima kasih banyak. Tapi, aku akan mengobati lukanya di rumah saja. Aku permisi paman. Lain kali berhati-hati lah." Sharon tersenyum seraya menekan darah di dahinya dengan handuk kecil yang ia bawa tadi.


Setelah mengucapkan semua itu, Sharon segera pergi. Namun, beberapa langkah kemudian tubuhnya pun ambruk. Ia jatuh pingsan, dan orang tadi langsung meminta supirnya membawanya menuju rumah sakit.


Ketika berada di rumah sakit, orang itu langsung menghubungi seseorang untuk datang menemuinya. Sharon telah selesai di obati, namun ia masih belum sadar dari pingsannya. Hingga seseorang pun datang memasuki ruang rawat tersebut.


"Ayah? Aku fikir kau terluka." Orang tersebut langsung menghampiri sang ayah dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


"Aku hampir terluka jika gadis itu tidak menolongku." Pria paruh baya itu menunjuk ke arah Sharon yang tengah berbaring, dan membuat putranya menoleh ke belakang.


"Gadis itu..." Ucapannya menggantung, dan kakinya membawanya untuk mendekati ranjang. "... dialah yang selama ini aku maksudkan, ayah. Dia Sharon Hwang. Gadis yang aku cintai."


"Benarkah begitu, Charles?"


"Benar. Ayah, maukah kau membantuku?" Charles menatap sang ayah seraya menggenggam tangannya.


"Katakan." Tutur Bill, dan Charles mulai menjelaskan rencana miliknya.


Bersambung ...


Readers tercinta, jangan lupa juga untuk kunjungi novelku yang berjudul 'Dont Give Me Hope!" ya^^