My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 60



Charles maupun Sharon telah tiba di Zurich, tepatnya di kediaman Austin. Entah kenapa pria itu mengajaknya ke rumahnya, dan tidak langsung mengantarnya pulang. Melihat kedatangan keduanya, membuat Bill menyambut mereka, ia menghujani banyak pertanyaan pada Sharon pada saat itu, hingga Charles menyelanya, dan segera mengantar gadis itu masuk ke dalam kamarnya.


"Beberapa hari ini, tinggallah dulu di rumahku." Kemudian, Charles bergegas berjalan keluar kamar, namun dengan cepat gadis itu menahan pergelangan tangannya. "Ada apa lagi?" Charles membalikkan tubuhnya, dan duduk di tepi ranjang seraya mengusap kepala Sharon.


"Kau sungguh tidak marah denganku? Jika kau mau menghukumku tidak apa-apa. Aku akan menerimanya."


"Setelah apa yang sudah terjadi, tentu saja kau harus di hukum. Hukumannya adalah kau harus menjadi sekretarisku, di perusahaan maupun di luar perusahaan, tanpa ku bayar sedikit pun."


"Apa? Bagaimana mungkin kau tidak membayarku? Jika begitu, aku tidak akan melakukannya." Sharon mengalihkan pandangannya seraya menyilangkan kedua tangannya.


"Bukankah tadi kau berkata akan menerima hukuman dariku? Kenapa kau berubah fikiran?"


"Kau tidak membayarku. Jika kau tidak membayarku, bagaimana aku bisa mengumpulkan uang untuk melunasi hutangku pada sosok misterius itu?"


"Kau masih memikirkan orang itu?"


"Tentu saja. Bagaimana pun, dia sudah membantuku untuk melunasi semua biaya rumah sakit ibu, dan aku berharap jika orang itu selalu di penuhi kebahagiaan dalam hidupnya."


Mendengar penuturan darinya sungguh membuat Charles tersenyum, dan ia kembali mengusap lembut puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.


Sudah tidak ada lagi kebohongan yang ia tutup-tutupi padanya. Ternyata ia melewatkan satu ini, ia masih tidak memiliki keberanian untuk memberitahunya jika dirinya lah orang yang sudah membayarkan semua biaya rumah sakit itu.


Lalu, pria itu segera meminta Sharon untuk segera berbaring, dan beristirahat. Tidak memberontak, Sharon mengikuti apa yang di ucapkan olehnya. Setelah itu Charles keluar kamar untuk menemui ayahnya.


Ketika dia berada di ruang tengah, secara kebetulan Charlie, dan Key datang bersamaan. Melihat kedatangan Key yang telah selesai mengurus pekerjaannya di London, Charles langsung memintanya untuk segera pulang, dan beristirahat. Dia juga di izinkan untuk mengambil libur selama dua hari.


"Terima kasih tuan. Jika begitu, aku permisi."


Key telah pergi meninggalkan kediaman keluarga Austin, dan Charlie langsung duduk di sofa, lalu menatap saudaranya dengan begitu tajam. Mendapat tatapan itu membuat Charles mengerti, ia menghela nafasnya, dan mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Kita tidak akan membongkarnya sekarang. Tapi, kita akan membongkarnya nanti, pada saat pernikahannya tengah berlangsung. Bagaimana pun, dia harus merasakan kehilangan orang yang ia cintai." Charles sedikit membungkukkan tubuhnya, menautkan kedua tangannya, dan menutup sebagian wajahnya.


"Kau sungguh akan melakukan itu?" Charlie menatap mata saudaranya, ambisius yang begitu besar, dan memang tidak ada kebohongan di kedua matanya.


"Memang siapa yang melakukan hal ini pada calon menantuku?" Kini Bill pun membuka suara.


"Grace Olsen, tunangan sekaligus calon istri dari Kent Edbert." Ungkap Charlie.


"Bukankah Austin Industries bekerja sama dengan Edbert Group? Apa itu tidak akan merusak hubungan kerja sama kalian?"


"Ayah, sejak awal Kent pun tidak sama sekali menyukai tunangannya. Semua ini adalah paksaan dari ibunya, karena sampai hari ini Kent masih menyimpan perasaan pada Sharon. Perasaan dia itulah yang mencelakakan wanitaku." Pandangan Charles menjadi dingin saat itu juga.


"Jika Sharon tahu, apa dia..."


"... aku memang berjanji untuk tidak memperpanjang masalah ini padanya. Namun, aku tidak bisa diam saja melihatnya di sakiti terus menerus oleh mereka. Maka dari itu, setelah masalah ini berakhir, aku akan menikahinya." Sahut Charles yang menyela ucapan Charlie


•••


Dua hari sudah berlalu, dan Sharon sudah merasa baikkan dengan kondisinya. Kakinya pun sudah terasa pulih. Namun, ia masih berada di dalam keluarga Austin, berkali-kali ia memohon pada Charles untuk mengizinkannya pulang, tapi semua itu di tentang oleh pria tersebut.


Bukan hanya Charles, Bill juga memintanya untuk tetap tinggal disana. Meski mereka begitu menerima kehadirannya, tetap saja dirinya merasa tidak enak hati, karena bagaimana pun, ia hanyalah orang luar.


Pagi itu, Charles sudah siap dengan setelan kantornya, begitu pun dengan Sharon. Melihat gadis itu berpakaian sama, tentu saja membuat Charles bertanya-tanya. Dia juga memandangi penampilannya itu, dan menatapnya dengan lekat.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menggunakan pakaian kantor sepertiku? Dari mana kau mendapatkan pakaian itu?" Charles mengelus sekitar rahangnya menggunakan jari telunjuknya.


"Aku merasa bosan jika di rumah terus menerus, dan ayahmu lah yang memberikan pakaian ini padaku. Paman juga mengatakan jika aku boleh ikut denganmu." Sahut Sharon seraya menjulurkan lidahnya.


"Ikut denganku?"


"Tentu. Bukankah kau juga akan menjadikanku sebagai sekretarismu?"


"Astaga, jadi kau menganggap serius ucapan itu ya?" Charles terkekeh. "Atau kau memang tidak bisa jauh dariku? Dan begitu ingin selalu bersamaku? Begitukah?" Kini ia membungkukkan tubuhnya agar mampu mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis di hadapannya, dan hal tersebut sungguh membuat wajah Sharon merona.


Bersambung ...