
30 menit sudah mereka menempuh perjalanan dari danau Lucerne menuju Alpnachstad. Dari sana mereka masih harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan steepest cogwheel untuk menuju puncak gunung.
Gunung Pilatus. Keduanya berada disana, keindahan dalam perjalanan membuat penat yang mereka rasakan hilang. Namun, ini masih pagi hari, dan pria itu mengajaknya menuju sebuah gunung. Entah apa yang di fikirkannya saat itu.
Saat mereka telah tiba di puncak gunung pilatus, mereka sungguh menikmati pemandangan dari atas sana. Tidak ingin mengabaikan keindahan itu, lagi-lagi Kent mengambil foto bersama dengannya untuk ia abadikan.
Keduanya tertawa bersama ketika membicarakan suatu hal. Namun, siapa sangka jika ada yang memotret kebersamaan mereka dari kejauhan. Entah apa niat orang tersebut melakukan semua itu, semoga saja bukan dilakukan untuk hal yang merugikan.
Tidak terasa sudah berjam-jam mereka disana. Akhirnya mereka memutuskan untuk turun dengan menggunakan cable car.
"Hachi." Sharon tampak bersin-bersin setelah turun dari sana.
"Setelah kembali ke kota, kita akan minum coklat hangat untukmu."
Seperti yang sudah di katakan oleh Kent tadi. Mereka menikmati coklat hangat untuk membuat Sharon menjadi lebih baik lagi. Jika gadis itu sampai terkena flu, ia akan menyalahkan dirinya sendiri karena sudah mengajaknya pergi ke tempat yang suhunya sedikit lebih tinggi.
Merasa baikkan setelah meminum coklat hangat membuat Sharon menyandar pada kursi yang tengah ia duduki. Kemudian, Kent menanyakan ketersediaan cheese fondue di cafe itu. Namun, sayangnya mereka tidak menyediakan dessert tersebut.
"Aku memang menyukainya. Namun, jika memakannya terlalu sering, bukankah akan sangat membosankan?" Sahut Sharon seraya mendengus.
"Memang siapa bilang aku memesan itu untukmu?" Kent menjulurkan lidahnya ke hadapan gadis itu. Merasa malu dengan kepercayaan dirinya, lantas membuat Sharon mencubit lengan Kent saat itu juga.
Kent tampak tertawa puas saat berhasil mengusilinya. Sharon yang kesal segera memalingkan wajahnya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Sudah jangan marah lagi. Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi." Ulas Kent yang mencubit gemas kedua pipi Sharon.
Puas melihat pemandangan dari gunung pilatus, mereka berjalan santai di sepanjang tembok tua, dan menjelajahi menara yang ada di sepanjang jalan tersebut.
Keduanya tampak memegang ice cream di tangannya masing-masing. Menara-menara yang terlihat begitu unik di setiap bangunannya, dan itu membuat Sharon begitu tertarik memandanginya lama-lama.
Ketika ice cream Sharon telah habis, ia melihat sesuatu di ujung jalan. Kemudian, ia langsung menarik tangan Kent untuk menuju tempat itu. Kent yang masih menikmati ice creamnya begitu terkejut ketika di tarik secara tiba-tiba.
"Uhuk. Uhuk." Kent menghentikan langkahnya seraya menepuk-nepuk dadanya. "Kau ingin membunuhku ya?" Sambungnya lagi yang masih menepuk dadanya dengan pelan.
Mendapat perlakuan tersebut, membuat Kent begitu tersentak. Lalu, ia menahan pergelangan tangan Sharon, sehingga membuatnya berhenti, dan pandangan mereka bertemu. Kent mendekatkan wajahnya pada wajah gadis di hadapannya. Hanya tersisa jarak sekitar 2 cm, Sharon langsung mengalihkan pandangannya.
"I-itu, aku ingin kesana." Sharon menunjuk penyeberangan bawah tembok.
"Ayo kita kesana." Imbuhnya yang langsung menarik tangan Sharon. "Maafkan aku Sharon, hampir saja aku tidak bisa mengendalikan diriku." Racaunya.
Keduanya menyebrang di bawah tembok menjelajahi kedua sisi menara. Disanalah mereka mampu menyaksikan pemandangan desa yang menakjubkan.
Sharon tampak bersenang-senang dengan perjalanannya, dan karena hal itu juga membuat dirinya melupakan rencananya untuk bekerja paruh waktu selama Charles pergi.
Berbicara soal Charles. Pria itu tampak sibuk menyiapkan segalanya untuk tender yang akan berlangsung besok siang. Jika berjalan lancar, maka ia bisa kembali lusa atau 3 hari lagi.
Ia melakukan rapat melalui panggilan video dengan beberapa rekan kerja yang berada di Swiss menggunakan laptop miliknya. Mereka tengah membahas semua kemungkinan yang akan terjadi. Sedangkan Key, tengah berjaga di luar kamar untuk menjaga keamanan agar tidak terjadi pencurian trik.
Ketika selesai, Charles segera memanggil Key masuk untuk meminta pendapatnya mengenail hasil akhir yang sudah ia dapatkan dari rapatnya tadi. Kemudian, Key membantu Charles untuk menyusun rencana yang akan mereka gunakan besok.
•••
Hari hampir mejelang malam. Sharon maupun Kent sudah berada di jembatan kapel, tempat terbaik di Lucerne untuk menyaksikan matahari tenggelam dengan di temani banyak angsa yang berenang di bawah jembatan tersebut.
Hari itu sungguh menjadi hari yang berkesan untuk Kent pribadi, dan hari itu sungguh menjadi hari yang menyenangkan untuk Sharon. Ia berterima kasih pada Kent karena mampu memanjakan matanya untuk melihat berbagai pemandangan yang indah pada hari itu.
Kemudian, mereka kembali menuju stasiun Lucerne untuk pulang. Merasa lelah dalam perjalanan hari itu, tanpa sadar Sharon memejamkan matanya.
Kepalanya berputar ke kanan, dan ke kiri, terhantuk ke depan, kemudian ke belakang. Melihat hal itu tentu saja membuat Kent tak tinggal diam. Pria itu tersenyum seraya meraih kepala Sharon untuk menyandarkan di bahunya.
"Terima kasih untuk waktumu hari ini." Gumam Kent yang mencuri kesempatan untuk mencium kening Sharon.
Bersambung ...