My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 42



"Jika kau berani melakukan itu, dan kau tidak kembali minggu depan. Jangan salahkan ibumu jika sesuatu terjadi pada gadis itu." Nyonya Edbert menyahut, kemudian langsung meninggalkan tempat tersebut bersama dengan Grace.


Ketika sudah memastikan kepergian ibunya. Kent pun langsung membalikkan tubuhnya, dan menyentuh pipi Sharon yang terlihat sedikit memar.


Menanggapi itu, lekas membuat Sharon menepis sentuhannya. Ia hanya tidak ingin kesalahfahaman itu semakin dalam, dan mendapat respon penolakan dari Sharon, tentu membuat Kent semakin merasa bersalah.


"Ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Sahut Sharon.


"Kau selalu bisa menebak fikiranku. Tapi, semua ini terjadi karena aku sering menemuimu."


"Sering? Aku tidak merasa begitu. Sudahlah tidak perlu memikirkannya lagi, aku baik-baik saja." Sharon membagikan senyum hangatnya dengan harapan dapat membuat pria di hadapannya sedikit merasa tenang.


"Aku tidak ingin melukaimu lagi, ucapan ibuku juga tidak bisa di anggap main-main. Jika begitu, mulai hari ini, aku akan menjarak denganmu. Maafkan aku Sharon."


"Apa kau bahagia menjalin hubungan dengannya?" Alice menyahut.


"Aku tidak tahu. Yang jelas, saat ini, dihatiku masih tersimpan nama Sharon."


"Lambat laun, kau akan menerimanya, Kent." Ucap Sharon, dan Alice bersamaan.


•••


Malam hampir tiba, dan Charles menjemput Sharon di rumah Alice, karena memang dia tengah berada disana. Setibanya disana, Charles begitu terkejut ketika melihat seseorang yang berada di balik pintu tersebut.


"Hey, aku ini Alice, bodoh." Alice meninju pelan lengan Charles.


"Ha Ha Ha. Aku hanya bergurau saja. Dimana dia?"


"Dia ada dikamarku. Dia bilang padaku, jika ia malu bertemu denganmu, karena ini adalah pertama kalinya ia menggunakan make up. Dia takut kau tidak menyukai riasannya, dan.." Belum menyelesaikan ucapannya, Charles langsung berjalan ke arah kamar Alice, dan menemui gadisnya langsung. "... pria tidak sopan." Gerutu Alice dengan kesal.


"Charles, kau?" Sharon terkejut ketika melihat orang yang datang bukanlah Alice. Kini, Charles terdiam membeku. "Kenapa? Apa ini terlalu berlebihan?"


"Kau lebih cantik dari biasanya."


Kaki Charles membawanya untuk mendekat pada gadisnya. Kemudian, melihat ada sesuatu yang aneh pada pipi gadisnya, tentu membuat Charles mengernyitkan keningnya.


Dengan spontan tangan Charles mencoba untuk meraih itu, ia mengusap pipi Sharon dengan lembut, kemudian ia menatap gadisnya.


"Apa yang terjadi padamu hari ini? Kenapa pipimu memar?"


"Gawat. Aku sudah berusaha menutupinya dengan make up, tapi tidak berhasil menutupi ini darinya. Kenapa dia begitu jeli, sih." Rutuk Sharon.


"Sharon. Jawab aku! Bagaimana kau bisa mendapatkan luka memar ini?"


"Ibunya Kent yang melakukan itu siang tadi." Alice yang secara spontan mengatakan hal tersebut langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.


"Tidak, ini hanya salah faham saja. Dia sudah minta maaf padaku, dan Kent juga sempat menolongku tadi. Aku mohon jangan perpanjang masalah ini, boleh kan?" Sharon mengeluarkan wajah memelasnya, dan mengedipkan matanya berkali-kali di hadapan pria itu.


"Sial. Kenapa dia justru terlihat imut?" Gerutu Charles. "Baiklah, ini karena permintaanmu. Jika begitu ayo berangkat."


"Alice, aku pergi dulu. Terima kasih untuk hari ini, aku mencintaimu." Sahut Sharon seraya melambaikan tangannya, dan Alice cukup senang melihat keduanya dapat kembali.


Kini, mereka pun berada dalam perjalanan menuju rumah Charles, dan saat itu kegugupan menyelimuti seluruh perasaan Sharon. Bahkan tangannya menjadi dingin dalam sekejap.


Menyadari hal itu, lantas tak membuat Charles diam saja. Ia menggenggamnya dengan satu tangannya yang tidak ia gunakan untuk mengemudi, dan ia sempat tertawa kecil ketika mengetahui tangan Sharon memang benar-benar dingin.


Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba, dan seperti biasa, bodyguard penjaga gerbang akan membungkukkan tubuhnya ketika melihat mobil Charles terparkir disana.


Charles membukakan pintu mobilnya untuk Sharon, dan Sharon masih diam tak bergeming. Keringat pun mulai bercucuran, dengan cepat Charles menghiburnya seraya mengatakan jika semua baik-baik saja.


"Bukankah kau sudah mengenal ayah? Dia juga tampak menyukaimu. Ayo masuk, mereka pasti sudah menunggu lama." Charles membungkukkan tubuhnya agar mampu melihat wajah Sharon.


"Mereka? Selain ayahmu, ada siapa lagi?"


"Tentu saja adikku. Ayo!" Tutur Charles seraya mengulurkan tangannya.


Setelah menarik nafas panjang, Sharon menggenggam tangan Charles, dan berjalan bersamanya untuk masuk ke dalam rumahnya. Melihat besarnya rumah Charles, sangat membuat Sharon kagum. Bahkan rumah dari orang tua sang ayah pun tidak sebesar milik Charles.


Beberapa pelayan dirumah yang mengetahui kedatangan Charles, lekas membukakan pintu rumahnya, dan keduanya langsung berjalan ke ruang makan.


Setibanya disana, Sharon langsung menahan langkahnya ketika melihat Charlie berdiri di sisi meja makan seraya menatapinya dengan lekat. Saat mengetahui pria itu berjalan menghampiri mereka, Sharon langsung melangkah mundur, dan bersembunyi di balik punggung Charles.


"Calon kakak ipar. Maafkan aku, tidak seharusnya aku merusak hubungan kalian saat itu. Aku sungguh tidak bermaksud melakukan semua itu pada kalian. Kau mau memaafkan ku bukan? Jika tidak, maka Charles akan membunuhku." Rengek Charlie menggenggam tangan Sharon.


"Hah?" Sharon sungguh bingung dengan sikap pria yang satu itu. Tadi, tatapan dia terlihat begitu dingin, dan menyeramkan. Kenapa dia justru berlaku sebaliknya.


"Kau tidak perlu heran. Dia ini laki-laki berhati hello kitty." Bisik Charles yang langsung mengundang tawa kecil dari Sharon


"Apa kau bilang?" Sahut Charlie dengan kesal ketika masih mampu menangkap suara pelan dari saudaranya.


Bersambung ...


Boleh bantu di follow juga IG baruku: @kyu_shine 😋


Masih hangat tentunya, dan bisa dm untuk di follback😚


Thank You Dear💙