
Dalam perjalanan pulang, mereka tetap bergandengan tangan. Sesekali Charles menghela nafasnya, dan setiap ia melakukan hal tersebut, Sharon selalu mendelik ke arahnya.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya seraya bersandar manja di lengannya.
"Lusa aku harus pergi ke London untuk mengurus tender bisnis, dan aku disana selama satu minggu." Charles menghentikan langkahnya.
"Sejak tadi kau gelisah karena ingin mengatakan ini?" Ujarnya, dan Charles mengangguk pelan. "Pergilah. Selama kau pergi, aku akan mencari kerja paruh waktu untuk menyibukkan diri." Gadis itu tersenyum, kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Tidak boleh. Kau tidak boleh bekerja diluar. Tetaplah dirumah! Jika kau ingin bekerja, bagaimana kalau kau ikut saja bersamaku?"
"Aku tidak mau. Kau sibuk mengurus pekerjaanmu, dan pasti akan sangat membosankan. Jika aku ikut pun, aku tidak ingin membuatmu kehilangan fokus."
"Pft. Kau tahu saja jika aku sering kehilangan fokusku ketika tengah memikirkanmu. Baiklah, kau boleh mencari paruh waktu. Tapi, tidak boleh sampai menyita waktumu."
"Tentu saja." Gadis itu kembali tersenyum riang. "Setelah ini antarkan aku pulang ya, dan kau harus istirahat setelah mengantarku."
"Tapi, kau akan mengantarku ke bandara bukan?" Mendengar hal itu tentu saja langsung membuat Sharon menganggukkan kepalanya.
Setelah kembali dirumah besar itu, Sharon masuk ke kamar Charles untuk mengambil tasnya, ia merogohnya, dan mengambil ponselnya. Memiliki satu pesan baru, ia lekas membukanya.
"Besok, bisakah menemaniku makan siang untuk terakhir kalinya? Jika bisa, temui aku di cafe saphire." -Kent
"Aku akan datang nanti." Sharon membalas pesan tersebut. Ketika Charles memanggilnya, ia segera keluar dari kamar tersebut, dan pulang bersama dengan Charles.
Ia mencari keberadaan Bill, dan Charles mengatakan jika ayahnya pasti sedang keluar di jam-jam seperti itu. Keluarga Austin bukan hanya memiliki dua perusahaan, namun mereka pun memiliki banyak anak usaha, dan Bill lah yang sesekali mengecek kestabilan tempat tersebut.
•••
Siang itu, Sharon sudah berada di tempat dimana Kent membuat janjinya. Sudah hampir 15 menit ia menunggunya, dan pria itu masih belum tiba juga. Merasa tidak enak pada orang-orang di cafe, Sharon pun memesan satu vanilla latte.
"Maaf terlambat, aku terjebak macet." Ungkap pria itu dengan nafas yang tersengal. "Kau memesan kopi? Apa kau sudah makan sebelumnya? Aku tidak ingin kau..."
"... Tidak apa-apa, Kent. Pagi tadi aku sudah sarapan."
"Itu pagi tadi. Jika begitu aku akan pesankan makanan sekarang."
"Aku pesan cheese fondue saja, aku masih merasa kenyang untuk saat ini."
Sesuai permintaan sang gadis, Kent pun ikut memesan makanan yang sama. Keduanya hanya memakan dessert, dan hingga makanan itu habis, tidak ada yang mereka bicarakan.
Keduanya masih bungkam, dan terlihat begitu canggung. Kent bingung harus bicara apa, tidak mungkin kan jika ia ingin bertemu karena merasa tengah merindukan gadis tersebut? Kemudian, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jadi, kau akan kembali ke Bern?" Sharon membuka pembicaraan, dan Kent yang mendengar itu pun langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap gadis di hadapannya.
"Katakan! Aku akan melakukannya jika aku mampu."
"Sebelum aku kembali ke Bern. Boleh tidak pergi jalan-jalan bersamaku? Menghabiskan waktu seharian untuk bersenang-senang denganku. Setelah aku meninggalkan tempat ini, mungkin aku tidak akan bisa menemuimu lagi." Kent menundukkan kepalanya, ia sungguh merasa tertekan dengan perjodohan tersebut.
"Baiklah." Sahut Sharon dengan mantap, dan pria itu langsung menatap matanya, mencari tahu apa dia bersungguh-sungguh mengatakannya atau sebaliknya. "Lusa. Kita bisa pergi mulai lusa."
"Baiklah. Aku akan menjemputmu pada saat itu. Terima kasih Sharon, terima kasih." Ingin sekali rasanya ia memeluk gadis itu. Namun, jika itu ia lakukan, ia hanya takut tak bisa mengontrol kembali perasaannya.
Mereka pun kembali. Sharon kembali ke rumahnya dengan di antar oleh Kent. Setibanya, ia memikirkan cara untuk memberitahu pada Charles, dan besok ia akan mencoba mengatakannya.
•••
C.C Twins terlihat tengah mengemas barangnya untuk berangkat. Karena keduanya adalah saingan untuk memperebutkan sebuah tender. Bill meminta Charles untuk memberi tanggung jawab ini pada yang lain, karena dia mengkhawatirkannya. Namun, Charles tetap bersih kukuh untuk tetap pada pendiriannya.
"Bagaimana jika kau menyerahkannya pada Nick saja? Bukankah dia juga sangat cerdik?" Sahut Charlie.
"Nick? Nick Sworth?" Bill menyahut, dan Charles maupun Charlie mengangguk bersamaan. "Charles, bagaimana kau bisa menjalin kerja sama dengan mereka?" Kini Bill pun penasaran.
"Awalnya karena aku ingin menghancurkan mereka." Charles duduk, dan menyeruput minuman yang ada di hadapannya.
"Menghancurkan?" Sahut Charlie, dan Bill dengan kompak.
"Karena mereka berani merendahkan Sharon."
"Memang apa hubungan Sharon dengan keluarga Sworth?" Charlie pun mulai mencari tahu.
"Sharon adalah anak Ozan Sworth. Jadi, dia adalah cucu dari Duke Sworth."
Mendengar pernyataan dari Charles, membuat mereka begitu terkejut. Bagaimana mungkin hal sebesar itu bisa di sembunyikan dengan baik oleh mereka?
Sworth Company merupakan perusahaan yang memiliki koneksi yang sangat luar biasa, meski ia masuk dalam jajaran perusahaan di urutan 3 besar, tetap saja hal besar seperti itu akan sulit di sembunyikan.
Kini Charles mulai menceritakan semua kronologisnya antara Sharon, dan keluarga Sworth pada ayah serta saudaranya. Ia juga menceritakan soal pembagian harta warisan. Setelah mendengar semua itu, Bill semakin kagum dengan gadis itu.
Ponsel Charles berdering, dan saat tahu siapa yang menghubungi, dengan cepat Charles meninggalkan saudara serta ayahnya untuk menerima panggilan itu.
"Kenapa? Tidak bertemu setengah hari, apa kau sudah begitu merindukanku?" Charles menggodanya.
"Hm. Kenapa aku jadi merasa menyesal ya sudah menghubungimu?" Balas Sharon, dan Charles terkekeh ketika mendengar jawaban itu.
Bersambung ...