
Hari terus berlalu, dan Sharon masih sibuk dengan pekerjaan paruh waktunya. Saat ini ia masih menjadi pelayan di salah satu cafe di tempat yang sebelumnya ia bekerja, dan ketika siang menjelang, beberapa orang yang dikenalinya datang, dan duduk di bangku yang berada di balkon.
Orang tersebut menolak untuk di layani oleh pelayan lain, mereka menginginkan Sharon. Hal itu terdengar hingga telinga manager cafe, dan akhirnya Sharon pun di minta untuk menghampiri pengunjung tersebut.
“Apa kalian menginginkanku di benci oleh pelayan yang lainnya?” Umpatnya kesal seraya mengeluarkan catatan kecil dari kantung apron yang tengah di kenakan olehnya.
“Kita sudah lama tak bertemu, tidak bisakah duduk sejenak bersama dengan kami?” Gerutu orang itu.
“Benar. Setelah di Bern, bukankah kita pun belum bertemu lagi?” Sambar salah seorang lagi.
“Maafkan aku Alice. Aku hanya sedang sibuk." Sharon sedikit terkekeh menanggapi hal tersebut. "Baiklah, kalian mau pesan apa?" Imbuhnya lagi yang kembali memegang pen serta catatan kecilnya.
"Aku permisi sebentar." Sahut Nick yang juga berada di sana.
Tanpa menunggu Nick kembali, mereka segera memesan beberapa minuman serta sedikit dessert yang ada di cafe tersebut untuk mereka santap. Hingga tidak lama kemudian, seseorang merebut catatan pesanan dari tangan Sharon, dan memberikannya ke salah satu pelayan yang berada di dekat sana.
"Kau duduk, dan biar dia yang melayani." Sahutnya yang langsung menarik Sharon agar segera duduk di salah satu bangku disana.
"Kak Nick, apa yang kau lakukan? Aku disini sedang bekerja, dan aku tidak bisa seenaknya seperti itu." Sharon kembali bangun dari duduknya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah meminta izin manager di cafe ini untukmu, dan dengan senang hati ia mengizinkannya."
"Sebaiknya kau duduklah bersama kami, dan aku akan menghubungi Charles untukmu." Kini Kent pun membuka pembicaraan.
"Dia tidak akan datang, dia tengah berada di luar kota. Sebaiknya kalian lanjutkan saja, aku keluar sebentar." Ungkapnya yang langsung meninggalkan mereka.
Merasa kesal dengan sikap mereka yang memaksa, Sharon memutuskan untuk pergi untuk mencari ketenangan. Kemudian, seseorang duduk di sisinya seraya menyunggingkan sebuah senyuman hangatnya.
"Namamu Sharon bukan?" Gumamnya, dan Sharon menganggukkan kepalanya menanggapi hal tersebut. "Kent banyak menceritakan hal tentangmu. Dia selalu berkata jika kita memiliki banyak kemiripan, dan aku rasa memang benar. Bukan hanya itu, ia juga berharap jika kita mampu berteman dengan baik."
"Aku rasa itu bisa terjadi." Tutur Sharon yang kini mulai menatapnya. "Kenapa kau kemari? Bagaimana jika Kent mencarimu?" Sambungnya.
"Mengenai pesan itu, Kent memberitahunya padaku. Maafkan aku, tapi apa pria bernama Charles itu yang telah meninggalkanmu?"
"Dia bahkan tidak pernah singgah, jadi mana mungkin dia meninggalkanku?"
Merasa nyaman, Sharon menceritakan segalanya kepada Natasha. Entah kenapa, pertama kali berbicara dengannya, membuat Sharon merasa sangat mempercayainya. Alice yang melihat hal tersebut dari kejauhan pun, dengan percaya diri melangkah mendekati mereka.
Cemburu, sebenarnya itulah yang di rasakan oleh Alice saat ini. Bagaimana pun, dirinya lah yang lebih lama mengenal Sharon, tapi kenapa Sharon bisa langsung terlihat akrab dengan seseorang yang baru di temuinya? Namun, ia tidak ingin menunjukkan perasaan tersebut pada keduanya. Karena ia tidak ingin pertemanan antar dirinya dengan Sharon merenggang.
"Natasha, terima kasih banyak. Aku senang, karena aku memiliki satu teman baik lagi setelah Alice."
"Terima kasih? Apa yang sudah di lakukan Natasha padamu di pertemuan yang sesingkat ini?" Kent terlihat kebingungan.
"Natasha akan memberitahumu nanti."
"Bolehkah?" Seru Natasha, dan Sharon mengangguk pelan.
Setelah itu, mereka semua pun meninggalkan cafe, dan Sharon kembali pada pekerjaannya. Sebelum memulai kembali pekerjaannya, ia pun mengirimi pesan singkat pada sahabatnya, Alice. Pesan tersebut berisikan bahwa dirinya tidak ingin Nick tahu mengenai hubungannya dengan Charles sedang tidak baik.
Balasan Alice membuat Sharon tenang. Kemudian, ia meminta maaf pada manager serta para pekerja di sana atas ketidak sopanan dirinya. Lalu, pekerjaan kembali di mulai.
Saat sedang mengantar satu pesanan, lagi-lagi matanya menangkap seseorang di meja yang berada dekat dengan meja kasir. Ketika pesanan telah di antar, langkah kakinya membawa dirinya menuju orang itu.
"Ah kebetulan kau datang, aku ingin menambah satu pesanan lagi." Sahut orang itu.
"Sebelum itu, boleh aku bertanya satu hal pada anda tuan?" Gumam Sharon, dan orang di hadapannya berdeham menanggapinya. "Wanita yang barusan, apa dia Evelyn?" Tambahnya lagi.
"Kau benar. Dia Evelyn, tunanganku."
"T-tunangan? B-bukankah d-dia sudah memiliki calon suami?"
"Calon suami?" Sahutnya kebingungan. "Ah itu dia kembali. Evelyn, apa kau sungguh sudah memiliki calon suami selain aku? Apa kau mengkhianatiku? Aku merasa kecewa akan hal itu." Imbuh pria itu lagi seraya bersandar manja di bahu gadis di hadapannya.
"Mana mungkin? Kau sudah cukup untukku, Edward." Wanita itu sedikit terkekeh mengucapkannya.
"Tapi, bukankah kau calon istri Charles Austin? Bukankah dia melamarmu ketika berada di taman?"
"Charles Austin? Bukankah dia saudara kembarnya Charlie? Ah benar, dimana Charlie sekarang? Setelah kakaknya di rawat, dia tidak.."
"... Edward hentikan." Evelyn menyela.
"Apa maksud dari ucapanmu? Kau mengenal Charlie, dan Charles? Di rawat? siapa yang di rawat?" Kini, Sharon menuntut jawaban dari keduanya.
Bersambung ...