
Sharon telah kembali menuju ruang tamu. Namun, saat dia kembali, James sudah tidak berada di tempat itu. Lalu, ia melihat Gwen tengah duduk seorang diri tanpa adanya Charlie maupun Bill.
Dengan inisiatif, Sharon menghampirinya, karena ia merasa jika telah terjadi sesuatu hanya saat melihat wajahnya gadis itu. Ketika Sharon duduk disana, Gwen tersenyum pahit ke arahnya, dan senyuman itu mengartikan segalanya.
"Maafkan sikap Charles. Dia seperti itu hanya karena dia takut jika ayahmu memanfaatkanmu untuk kepentingan pribadinya." Tutur Sharon dengan ragu.
"Iya kak, aku paham mengenai hal tersebut. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu." Lagi-lagi Gwen tersenyum ke arahnya.
"Lalu, apa yang tengah kau pikirkan? Kau bisa mengatakannya padaku."
"Ayahku sepakat mengenai syarat yang di ajukan oleh Charles. Namun, aku hanya merasa malu, apa aku pantas bersanding dengan Charlie, dan menjadi anggota keluarga Austin?"
"Kenapa kau bicara seperti itu? Charlie menyukaimu, dia telah memilihmu, dan itu pasti karena dia tahu jika kau pantas bersama dengannya. Selain itu..."
"... Charlie bukan tipe orang yang bisa dengan mudah berhubungan dengan wanita. Dia terkenal dingin pada orang yang baru di kenalnya, sikap kami berkebalikan. Kau satu-satunya wanita yang di pilih olehnya, Gwen! Aku yakin kau gadis baik, dan pantas untuk bersamanya. Maaf atas ke tidak sopananku tadi."
"Tidak-tidak ini bukan kesalahanmu! Jika aku yang berada dalam posisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Bukankah mencegah itu lebih baik?" Kini, Gwen bisa sedikit tersenyum dengan lega setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Charles kepadanya.
"Aku tidak akan bicara sembaran lagi, dan kau tenang saja! Aku akan membuat pernikahan kalian sangat mewah." Charles mengusap puncak kepala Gwen, dan Sharon yang melihat itu pun mempoutkan bibirnya. Ia bahkan menolehkan pandangannya ke arah lain. Kemudian, dirinya memilih untuk berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Yaaakk! Apa yang kau lakukan? Jangan sembarangan menyentuh kepalanya! Gwen itu milikku! Dulu, kau juga tidak membiarkanku untuk menyentuh Sharon sedikit pun." Tiba-tiba Charlie berada di antara mereka, melihat saudaranya menyentuh wanitanya, Charlie langsung menarik tangan Gwen agar berdiri di belakangnya. Bukan hanya itu, ia bahkan memberikan tatapan yang tajam pada Charles.
"Bodoh! Aku pun tahu jika dia milikmu. Mengenai Sharon, dia... Eh...?" Ucapan Charles terhenti ketika menyadari jika istrinya tidak ada disana. Kapan wanita itu pergi? Dirinya bahkan tidak menyadari hal tersebut.
Tidak melanjutkan kata-katanya, dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, Charles pergi meninggalkan mereka untuk mencari Sharon. Saat itu, Charles menyusuri rumahnya, ia pergi ke kamarnya untuk mencari keberadaannya. Namun, dia tidak disana, dan akhirnya Charles harus kembali mencarinya.
Tidak di sangka jika Sharon tengah berada di teras rumah. Ia duduk disana seraya menikmati angin, dan memandangi halaman depan serta berpikir betapa besarnya rumah milik keluarga Austin. Dia sendiri pun masih tidak menyangka jika bisa berada di tengah-tengah keluarga yang unik tersebut.
Saat kakinya hendak melangkah meninggalkan teras rumah, seseorang menarik tangannya, hingga membuat Sharon berputar, dan akhirnya jatuh ke dalam pelukannya. Ia sungguh terkejut akan hal tersebut. Namun, sentuhan tersebut, tentu saja dia mengenalnya.
"Aku disini karena sedang menghindarimu!" Mendengar hal tersebut membuat Charles terkejut hingga ia melepaskan pelukannya, dan menatap wajah wanita di hadapannya. Namun, dengan cepat Sharon memalingkan wajahnya dari pria itu.
"Apa maksudmu? Kenapa kau harus menghindariku? Aku sudah minta maaf padanya. Bukankah itu kemauanmu?" Wajah Charles berubah setelah mengatakan itu. Ia memasang wajah andalannya, dan memelas di hadapan istrinya.
"Sangat bagus jika kau meminta maaf padanya. Tapi, apa harus sampai mengelus kepalanya seperti tadi? Apa kau tidak melihatku yang berdiri disana? Jika aku tidak disana, entah apa yang akan kau lakukan padanya. Mungkin kau bukan hanya mengusap puncak kepalanya, bisa jadi kalian.... hmmmph." Tidak tahan mendengar ocehan Sharon yang tak kunjung berhenti, Charles membungkam bibirnya dengan cara menciumnya, dan tak lama kemudian, Sharon mendorong tubuh Charles. "Bodoh! Apa yang kau lakukan?" Protesnya kesal.
"Jika kau terus bicara, aku akan membuatmu bungkam dengan cara seperti tadi!" Kemudian, Charles membawa wanita itu ke dalam pelukannya, hingga Sharon pun menjadi luluh kembali atas tindakan suaminya. "Maafkan aku! Aku juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini sangat sulit mengendalikan emosiku. Lalu, percayalah! Aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang lebih pada Gwen meski kau tidak disana sekali pun. Hanya kau yang dapat membuat hatiku bergetar, hanya kau!" Tuturnya lagi, dan mendengar itu membuat Sharon sedikit tenang.
Di tempat lain, Kent tengah berada di sebuah taman yang berada di Bern, ia berbaring di paha Natasha, dan menutupi wajahnya dengan buku tebal yang terbuka. Sedangkan Natasha, sesekali ia menyuapi sedikit makanan ringan ke dalam mulut suaminya.
Kemudian, Kent menyingkirkan buku itu dari wajahnya, dan menengadah ke atas agar mampu menatap wajah istrinya. Melihat tatapan itu, membuat Natasha menaikkan sebelah alisnya, dan Kent tersenyum kecil melihat hal tersebut.
"Ada apa?" Tutur Natasha yang hendak memberikan satu stik biskuit.
"Aku tidak menginginkan itu!"
"Lalu?" Kemudian, Kent mengangkat tangan kanannya ke arah belakang leher istrinya. Ia memintanya untuk menunduk, ketika wajah keduanya sudah begitu dekat, dengan cepat Natasha kembali dengan posisi semula, dan tak lupa mencubit hidung pria yang tengah berbaring dalam pangkuannya. "Bodoh! Apa yang mau kau lakukan? Tempat ini begitu ramai, mana mungkin..."
"... jika begitu ayo kita pulang! Dengan begitu kita bisa melakukan hal yang lebih, dan..."
"... aku rasa kau melupakan satu hal. Kau lupa akan kehamilanku, ya?" Natashanya menatapnya tajam, dan Kent mempoutkan bibirnya setelah mendengar ucapan istrinya. Namun, ia segera bangun dari baringannya serta menatap lekat wajah Natasha. Kemudian, pria itu mencium dahi istrinya, dan hal itu membuat jantung Natasha berdebar tak karuan.
"Jika seperti itu, tidak apa-apa 'kan?" Kent tersenyum ke arahnya. Karena merasa malu, Natasha langsung berhambur ke dalam pelukannya, dan Kent pun membalas pelukan tersebut dengan menyunggingkan senyum terbaiknya. "Aku menyayangimu, Natasha." Ulasnya lagi.
Bersambung ...