
Selang 45 menit, Key telah tiba di rumah Charles, dan dengan perlahan ia turun dari ranjangnya untuk pergi bersama dengan asistennya. Bill yang melihat putranya pergi dengan terburu-buru itu pun langsung menahannya.
"Kemana kau akan pergi? Kau masih belum pulih."
"Charlie belum kembali sejak tadi, dan Key menemukan lokasinya jika ia tengah berada di bar."
"Bar? Apa yang anak itu lakukan disana? Tidak biasanya dia pergi ke tempat seperti itu."
"Karena itu aku harus memastikannya, dan membawanya kembali, ayah."
"Tidak. Biar ayah saja yang menjemputnya, dan kau kembalilah beristirahat!"
"Aku yang harus membawanya. Ayah tidak perlu khawatir, Key pergi bersama denganku."
Dengan terpaksa Bill menyetujui permintaan putranya, dan setelah mendapat izin darinya, Charles segera meninggalkan rumah untuk menuju tempat yang di maksud oleh Key.
Setibanya di tempat tersebut, Charles, dan Key masuk ke dalam secara bersamaan. Mata mereka meluas, mencari keberadaan Charlie yang terlacak tengah berada di tempat tersebut.
Benar saja, Charlie tengah duduk di meja bartender dengan menggenggam segelas bir. Charles yang melihat hal tersebut pun langsung mengambil paksa gelas itu, dan menarik sang adik untuk keluar dari bar.
Menolak pergi bersama dengannya, Charlie terus memberontak layaknya anak kecil. Namun, Charles, dan Key tetap menyeretnya keluar untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau minum-minum seperti itu?" Charles menyahut dengan nada kesalnya ketika mereka telah berada di luar.
"Itu semua karena aku kesal denganmu!"
"Kesal denganku?"
"Aku, ayah, bahkan asistenmu itu berusaha mencarikan pendonor untukmu agar kau bisa tetap bersama dengan kami. Namun, apa yang kau katakan terakhir kali? Kau justru berhenti berharap, dan ingin berjumpa dengan ibu. Apa kau tidak menghargai segala usaha kami? Apa kau ingin meninggalkanku, dan juga ayah, hah?" Charlie meracau.
"Tuan, benarkah yang dikatakan oleh tuan Charlie?" Kini Key pun membuka suara, dan Charles mengangguk pelan. "Orang-orang di sekeliling tuan sungguh mengkhawatirkan kondisi tuan, dan meski sulit, kami terus berusaha untuk mencarikan pendonor. Lalu, kenapa tuan ingin menyerah?"
"Baiklah, maafkan aku, aku memang salah. Namun, aku melakukan itu bukan karena aku berhenti berharap. Aku hanya tidak mau berharap lebih dengan apa yang belum pasti terjadi. Jika hari itu memang datang, jika ada pendonor yang datang, tentu saja aku pasti akan sangat bahagia, dan aku akan memberikan apapun yang orang itu inginkan. Aku minta maaf pada kalian karena telah mengecewakan kalian, dan aku berjanji agar tidak menyerah." Ungkap Charles.
•••
Di sore hari yang begitu damai, Kent tampak berjalan santai di pesisir pantai dengan menikmati semilir angin yang menerpa. Angin yang begitu sejuk menerpa kulitnya, dan banyak pasangan yang datang ke pantai meski hari sudah semakin sore, bahkan malam pun hampir tiba.
"Dari mana saja kau? Matahari hampir terbenam." Kent menyeru seraya bertolak pinggang.
"Aku membeli ini." Orang itu menyodorkan satu buah kelapa. "Mari kita minum bersama." Lanjutnya lagi yang langsung duduk, dan menghisap minumannya melalui sedotan.
"Natasha, sikapmu ini sungguh mengingatkanku pada seseorang." Tuturnya seraya tersenyum kecil, dan duduk di samping wanita tersebut.
"Siapa? Apa orang itu spesial untukmu?" Wanita itu masih tampak menikmati minumannya.
"Sangat spesial. Namun, dia bukan lagi milikku, aku yakin jika dia sudah memiliki kebahagiaannya sendiri, melihat dia mendapatkan semua kebahagiaan yang seharusnya ia dapatkan sejak lama, aku sungguh ikut merasa bahagia untuknya."
Kent terus mengukirkan sebuah senyumannya ketika membahas orang yang menurutnya spesial. Mendengar pria itu terus bercerita tentang orang lain, membuat Natasha terdiam seraya menatap ke arah matahari yang kini sudah terbenam.
"Kau pasti sangat mencintainya, ya?" Natasha menoleh ke arahnya, dan pria itu berdeham menanggapi pertanyaan itu. "Lalu, kenapa kalian berpisah? Apa dia mencampakkanmu?" Sambungnya.
"Tentu tidak. Justru akulah yang membiarkannya pergi, dan aku sungguh tidak berguna untuknya."
"Lalu, apa kau menyesal?" Gumam Natasha yang membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Menyesal tentu ada. Namun, ketika melihatnya lebih bahagia, aku mulai berfikir 'jika dia bersamaku, belum tentu dia bisa mendapatkan kebahagiaan sebanyak itu, dan belum tentu aku bisa memberikannya seperti apa yang diberikan oleh pria yang sekarang'. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi, agar mampu mengubur perasaanku terhadapnya."
"Dia sungguh beruntung karena memilikimu yang masih sangat mencintainya. Seandainya aku berada di posisinya, aku pasti akan sangat merasa bahagia."
"Ha Ha Ha. Sudahlah, setiap orang memiliki takdir yang berbeda. Tuhan menjauhkan kita dari seseorang, pasti Tuhan juga sudah menyiapkan seseorang yang lebih tepat untuk kita. Jadi, kita jalani saja dengan semangat. Ayo kita pulang!" Kent berdiri, dan menyodorkan tangannya ke hadapan wanita di hadapannya dengan sebuah senyuman hangatnya.
Bersambung ...