
"Katakan padaku lokasinya." Charles menyambar jaketnya, dan langsung mengenakannya saat itu juga.
"Sebelah barat daya Zytglogge terdapat satu gudang kosong yang tersembunyi, dan disanalah dia berada."
Setelah mendengarkan penjelasan Charlie, tanpa mengatakan apa-apa lagi, Charles segera keluar meninggalkan kamarnya. Bill yang melihat putranya pergi dengan kestabilan tubuh yang belum kembali pun sangat mengkhawatirkannya.
"Bisakah untuk menyuruh orang-orang kita saja yang pergi? Tubuhmu masih belum stabil." Bill menahan langkah putranya.
"Benar. Aku yang akan memimpin mereka untuk menuju kesana." Sahut Charlie.
"Tidak perlu, karena aku yang akan membawanya kembali. Aku pergi." Saat itu juga Charles pergi dengan mobil pribadinya menuju Bern.
Di samping itu, ada Kent yang baru saja tiba di rumahnya. Melihat kehadiran Grace yang berada di sana, membuatnya kehilangan moodnya. Ia sungguh bingung dengan sikap wanita itu akhir-akhir ini, bukankah Grace wanita yang polos saat itu? Kenapa dia bisa berubah menjadi wanita yang tidak tahu aturan.
Tidak ingin ambil pusing, Kent memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dan meminta pada mereka agar tidak mengganggu waktu istirahatnya. Setibanya di kamar, pria itu membanting tubuhnya, dan mengambil ponsel miliknya seraya menekan beberapa digit nomor yang ia ingat.
Panggilan kepada nomor tersebut tidak mendapat jawaban, dan Kent segera melempar ponselnya ke sisinya seraya mendengus.
"Apa yang ku lakukan? Bukankah aku sudah katakan padanya tidak akan mengganggunya lagi?" Racau Kent dengan segala kekesalannya.
Grace begitu kesal saat di abaikan oleh pria itu. Kemudian, ia memutuskan untuk keluar dari sana, dan pergi ke tempat dimana ia menyekap Sharon. Entah apa yang akan dia lakukan lagi padanya? Mungkinkah untuk melampiaskan kekesalannya?
Sebelum pergi kesana, ia menuju minimarket terlebih dulu untuk membeli kebutuhan pribadinya. Ia bahkan membeli banyak barang untuk melupakan sikap Kent yang telah mengabaikannya tadi.
Menempuh waktu sekitar satu jam setengah, Charles telah tiba tepat di lokasi dimana saudaranya menemukan keberadaan Sharon. Melihat ada beberapa penjaga disebuah gudang tidak terpakai, mungkin memang benar jika gadisnya berada didalam.
Tidak mengulur waktu lagi, dengan cepat Charles keluar dari mobil, menaikkan hoodie jaketnya, dan melangkahkan kakinya ke arah gedung tersebut. Namun, tiba-tiba seseorang menahan langkahnya.
"Untuk membereskan tikus gorong-gorong seperti mereka tidak perlu harus kau yang turun tangan. Biar bawahan kita yang menyelesaikannya."
"Charlie? Kenapa kau juga datang?"
"Terima kasih." Balasnya seraya mengacak-ngacak letak rambut Charlie.
"Jangan pernah lakukan ini padaku ketika banyak orang, karena akan sangat memalukan." Gerutunya yang langsung menepis tangan Charles dari atas kepalanya. "Bereskan mereka sekarang juga." Sambungnya lagi.
Selagi orang-orang itu di bereskan dengan bawahan dari keluarga Austin. Charles membuka gudang itu, lebih tepatnya dia mendobraknya. Matanya terperangah ketika melihat sosok gadis yang terkulai lemas tak sadarkan diri.
Langkah kakinya membawanya masuk secara perlahan, hingga ia pun lari untuk meraih tubuh gadis tersebut. Ia mencoba mengguncangkan tubuhnya dengan harapan gadis itu mau membuka matanya, dan melihat dirinya telah datang untuk membawanya pergi dari tempat menyeramkan itu.
Perlahan Sharon membuka matanya, melihat seseorang yang ia harapkan berada di hadapannya membuatnya tersenyum lirih, dan Charles bahagia dapat melihat gadis dalam dekapannya kembali mendapatkan kesadarannya.
"Apa aku sudah mati? Hingga melihat bayanganmu ada disini?" Sharon menyahut dengan suara paraunya seraya meraih wajah pria di atasnya.
"Bodoh, apa orang mati ada waktu untuk membayangkan orang yang hidup?" Gerutu Charles yang langsung menggendong tubuh gadis itu untuk keluar dari tempat tersebut.
Saat berada di luar, bawahannya sudah berhasil menjatuhkan orang-orang itu. Melihat sang kakak sudah membawa Sharon dalam dekapannya, Charlie segera menghampirinya.
"Kau urus orang-orang ini. Lakukan mereka seperti yang sudah mereka lakukan pada Sharon." Tatapan dingin itu membuat Charlie, dan bawahannya bergidik ngeri.
Pertama kalinya, Charlie melihat saudaranya bersikap seperti sekarang ini. Tatapan dingin, aura yang menyeramkan, sejak kapan dia memiliki sisi lain yang mengerikan itu? Begitulah yang ada dalam fikiran Charlie saat itu.
Setelah Charles pergi meninggalkan tempat tersebut. Charlie meminta bawahannya untuk membawa orang-orang itu ke dalam, dan mengikatnya secara bersamaan. Mereka harus mendapat balasan yang setimpal, bukan, mereka harus mendapat balasan yang lebih, itu baru benar.
Grace yang saat itu tiba melihat beberapa mobil terparkir tepat di depan gedung membuatnya merasa bingung, dan khawatir. Lalu, ia memundurkan mobilnya agar berjarak dari lokasi tersebut. Setelah itu, ia berjalan, dan melihat ke dalam melalui celah-celah yang ada disana.
"Sial. Aku sudah ketahuan ya? Tapi, siapa orang itu? Kenapa wanita murahan itu bisa mengenal orang-orang seperti mereka? Selain Kent, ada siapa lagi?" Gumamnya yang masih memandangi punggung orang-orang yang ada di dalam. "Sebaiknya aku pergi dulu dari sini. Aku harap mereka tidak membocorkan dalang dari semua ini." Tuturnya lagi, dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung ...