My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 75



Kent yang masih tak menjawab pun langsung pergi meninggalkan mereka. Namun, Sharon segera mengejarnya untuk menuntut jawaban darinya. Menyadari hal tersebut, tentu saja membuat Kent berbalik, dan menggenggam kedua tangan gadis itu.


"Kau tidak perlu tahu kemana aku pergi. Namun, aku bisa pastikan, jika kau membutuhkanku, jika kau memintaku untuk datang. Aku akan segera kembali, kapan pun, dan dimana pun kau berada." Sebuah senyuman lembut terukir di sudut bibir Kent.


"Tapi, bagaimana aku bisa menghubungimu?"


"Bodoh!" Kent langsung menjitak kepala Sharon saat itu juga. "Bukankah kau menyimpan nomor ponselku? Kau bisa menghubungi nomor itu." Sambungnya lagi.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu."


"Begitu pun denganku. Satu lagi, sampaikan salamku pada Alice ketika kau bertemu dengannya nanti, dan sebelum pergi aku ingin memberitahu satu hal padamu."


"Apa?"


Kini, Kent mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis di hadapannya. Hal tersebut tentu saja membuat orang lain menjadi salah faham ketika menyaksikannya, bahkan Charles pun segera menuruni anak tangga, dan siap menarik Sharon kembali ke sisinya.


Melihat Sharon tertawa kecil setelah itu, lekas membuat langkah Charles kembali terhenti. Ia membalikkan tubuhnya, dan Charlie segera menepuk bahu saudaranya itu.


"Baiklah, selamat tinggal kelinci bodohku." Kent mencubit gemas kedua pipi Sharon. "Selamat tinggal semuanya." Imbuhnya seraya melambaikan tangannya pada mereka semua.


Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Kent menatap Sharon yang tengah menundukkan wajahnya. Ia pun tersenyum, dan mencium kening gadis itu dengan begitu lembut. Mendapati perlakuan tersebut, tentu saja membuatnya begitu terkejut.


"Tetaplah tersenyum untuk ke depannya. Karena senyummu itu selalu menjadi yang terindah." Imbuhnya seraya mengusap pipi gadis itu, kemudian ia benar-benar pergi dari sana.


Dia sudah pergi, dan ia sama sekali tidak memberitahu kemana tujuannya. Cairan bening menetes di kedua pelupuk mata Sharon, dan Charles yang melihat hal tersebut sangatlah terkejut.


Tidak ingin ikut campur, Charlie maupun Nick memilih untuk kembali ke hotel, dan mencari aman dari amukkan yang mungkin akan keluar dari bibir Charles. Sedangkan Sharon, ia segera mengusap cairan itu ketika sadar ada Charles di hadapannya.


"Dalam hati kecilmu, kau masih mencintainya bukan?" Sahut Charles yang menundukkan wajahnya.


"Aku tidak tahu keberapa kalinya kau menanyakan hal yang sama padaku. Bukankah aku sudah sering memberikan jawabannya untukmu?"


"Jujur saja. Aku tidak akan marah, dan aku akan melepaskanmu jika kau memang masih mencintainya. Aku akan membiarkanmu bersama dengannya jika kau menginginkannya. Dengan begitu, mungkin akan terasa aman untukku."


"Apa maksudmu? Kenapa kau bicara demikian?"


"Jika bukan karena ibunya melarang hubungan kalian. Kau pasti masih menjadi miliknya, dan mungkin kita tidak akan pernah saling kenal.


"Kau benar. Namun Tuhan menginginkan hal lain, dia memutar takdirku agar bisa bertemu denganmu, mengenalmu, dan bersama denganmu."


Mendengar pernyataan tersebut, tentu saja membuat Charles langsung mengangkat kepalanya, dan menatap gadis itu. Kemudian, ia menarik Sharon ke dalam pelukannya, pelukan yang sangat erat.


"Tentu saja. Aku akan bersamamu apapun yang terjadi."


•••


Hari berlalu, Charlie, dan Nick sudah meninggalkan Bern. Namun, tidak dengan Charles juga Sharon. Keduanya masih berada di Bern saat itu, dan itu adalah permintaan dari Charles.


Siang itu, Sharon masih bermalas-malasan di kamarnya. Udara di Bern sedang terasa sejuk, dan membuat dirinya ingin terus berada di atas ranjang untuk kembali tidur.


Kemudian, seseorang menggedor pintunya dengan sangat kuat, dan hal itu sungguh mengganggunya. Hingga akhirnya, ia pun bangun dari ranjangnya, dan berjalan dengan malas menuju pintu tersebut.


"Cepat masuk." Ungkap orang itu yang langsung masuk, dan menutup kembali pintunya.


"Apa yang terjadi?" Sharon terlihat cemas melihat reaksi orang di hadapannya.


"Tidak ada. Aku hanya merindukanmu." Bisiknya, dan sebuah jitakkan mendarat di atas kepala Charles. "Ada yang ingin ku tanyakan padamu." Lanjutnya yang masih mengusap-usap kepalanya.


"Katakan!" Balasnya yang langsung berjalan meninggalkannya, dan kembali berbaring di atas ranjangnya.


"Sebenarnya apa yang di lakukan Kent ketika dia mendekatkan wajahnya? Hm, a-apa dia menciummu?"


Mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Charles benar-benar membuat Sharon tertawa lepas. Bagaimana mungkin pria itu bisa berfikir sampai keaana? Dan ekspresi wajahnya kali ini sangatlah menggemaskan.


Kesal dengan reaksi yang di dapatkan, Charles langsung mencubit kedua pipi Sharon agar ia mau menghentikan tawanya. Meski begitu, masih terdengar sisa tawa kecilnya disana.


"Argh ini menyakitkan." Rintihnya seraya menepuk-nepuk tangan pria itu agar ia mau melepaskannya.


"Aku tidak peduli. Aku akan melepaskannya saat kau mau memberitahuku."


"Lepaskan dulu! Bagaimana jika pipiku melar? Lagi pula ini sangat sakit." Tuturnya, dan Charles memilih mengalah. Ia melepaskannya, namun gadis itu kembali tertawa.


"Aku sudah melepaskanmu. Jadi, berhenti tertawa, dan katakan padaku!" Pria itu tampak kesal.


"Dia hanya mengatakan..."


"...apa?" Sambar Charles yang tidak sabaran.


Bersambung ...