
Pagi harinya. Sharon tengah sibuk dengan sepasang kaus kaki yang berada dalam genggamannya. Sesekali dia menghela napasnya, dan Charles yang baru keluar dari kamar mandi itu pun sedikit tertawa melihat tingkah istrinya.
Masih berusaha, Sharon mencoba meraih kakinya agar bisa memasangkan kaus kaki tersebut. Namun, itu semua sia-sia, bahkan keringat di dahinya pun sampai menetes, dan Charles kembali menggelengkan kepalanya.
"Biar ku bantu!" Charles merebut kaus kaki itu. Kemudian, ia berlutut di hadapan Sharon, ia meletakkan kaki istrinya di salah satu pahanya, dan mulai memasangkannya.
Perlakuan Charles membuat Sharon tersenyum, setelah kaus kaki terpasang, dengan cepat ia berhambur memeluknya, hingga Charles tersungkur ke belakang. Namun, untungnya kedua tangan Charles mampu menahan tubuhnya, dan tubuh istrinya, hingga mereka tidak jatuh.
"Lihat apa yang kau lakukan? Jangan lakukan itu lagi! Berat badanmu itu sudah berlipat ganda, jika aku mati tertindih karenamu bagaimana?" Celetuk Charles, dan mendengar penuturannya membuat Sharon melepaskan pelukan itu seraya mendorong pelan tubuh pria di hadapannya.
"Apa tubuhku sudah seberat itu sampai bisa membunuhmu?" Sharon mengalihkan pandangannya dengan raut wajah yang kesal.
"Astaga, ketika sedang marah, ternyata kedua pipimu semakin bertambah besar." Timpalnya yang mencubit gemas kedua pipi Sharon.
"Aaargh!" Rintihnya.
Sebuah senyuman terukir di bibir Charles. Kemudian, ia memeluk wanita di hadapannya, dan Sharon membalas pelukan itu. Kedua matanya terpejam saat Charles memeluknya. Selepas itu, Charles segera berdiri seraya membenarkan letak pakaiannya.
"Baiklah! Ayo kita jalan sekarang! Bukankah kau ingin berkeliling komplek?"
"Bantu aku bangun!" Sharon menyahut seraya melayangkan kedua tangannya ke arah Charles. "Perutku sudah begitu besar, dan aku kesulitan untuk bangun." Lanjutnya seraya terkekeh.
"Apapun akan aku lakukan untukmu!"
Akhirnya, keduanya pun berjalan santai keluar. Orang-orang yang mereka temui di perjalanan, dan beberapa orang yang mengenalnya datang menghampiri keduanya, meski hanya sekedar menanyakan si kembar.
Sesekali ada saja, wanita berumur mendekati Charles, dan memuji ketampanannya. Bukan hanya itu, bahkan wanita tersebut menggodanya, dan membuat Sharon terkekeh melihat reaksi suaminya.
"Seandainya aku masih seusiamu, dan kita bertemu lebih dulu, mungkin aku akan memilihmu, dan meninggalkan suamiku."
"Hah?" Charles terkejut mendengar pernyataan itu, namun Sharon masih terkekeh mendengarnya.
"Jangan dengarkan dia! Bagaimana jika menikahi putriku saja? Dari pada kau menikahi wanita tua yang genit ini atau menikahiku, lebih baik menikahi putriku saja. Bagaimana?"
"Astaga. Apa lagi ini? Entah apa saat ini Sharon tengah menatapiku atau tidak. Yang jelas, aku tidak berani menoleh." Charles terus menggerutu seraya menelan air liurnya.
"Bagimana, nak? Kau ingin menikahi wanita tua di sampingku ini atau menikahi putriku?"
"Ha Ha Ha. Maafkan aku bibi, tapi satu ini saja sudah cukup untukku. Aku tidak berniat untuk menikah lagi, dan tidak pernah berpikir untuk melakukannnya. Wanita di sisiku ini sudah menjadi bagian diriku. Jika aku melukainya, bukankah sama saja aku melukai diriku sendiri?" Charles tersenyum pada mereka, dan Sharon menoleh menatap suaminya setelah mendengar penuturan yang keluar dari bibir pria itu.
"Astaga beruntung sekali karena Sharon memiliki suami yang begitu menyayanginya. Saat baru menikah dulu, suamiku tidak pernah berkata seperti itu."
"Itu hanya di awal pernikahan saja. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Setelah memiliki anak, dan tubuhmu menjadi gemuk, aku yakin jika Charles akan berpikir 2 kali, ingin tetap bersamamu atau mencari yang lain. Kita tidak tahu 'kan apa yang di lakukan pria di belakang kita?" Celetuknya seseorang yang baru saja tiba.
"Ha Ha Ha. Maaf, kami pergi dulu. Sampai jumpa." Charles tersenyum pada mereka, dan menggandeng wanita di sisinya agar segera meninggalkan tempat itu.
Akan sangat tidak baik jika aku, dan Sharon masih berada disana. Kata-kata wanita memang sungguh tajam. Dia bahkan tidak memikirkan perasaan yang lain.
Keduanya telah berjalan sampai tiba di taman yang berada dekat villanya. Saat matahari mulai terik, Charles meminta istrinya untuk duduk selagi ia membelikan air.
Tak lama setelah Charles pergi, seorang anak laki-laki hendak datang menghampirinya untuk mengambil bola yang berada di dekat kaki Sharon. Namun, langkahnya terhenti beberapa langkah dari tempat Sharon duduk.
Menyadari itu, Sharon mengambil bola itu, dan menyodorkan bola tersebut pada anak laki-laki di hadapannya. Bibirnya mengukirkan sebuah senyuman, sehingga anak laki-laki itu menghampirinya.
"Bibi, kenapa perutmu begitu besar? Apa kau menyembunyikan bola yang besar disana?" Mendengar hal itu membuat Sharon terkekeh.
"Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin aku menyembunyikan bola di dalam sini?"
"Lalu, kenapa perutmu sangat besar?" Anak laki-laki itu penasaran, dan tanpa sadar tangan anak tersebut menyentuh perut Sharon. "Ada yang bergerak di dalam sana." Merasakan sesuatu, anak itu segera menjauhkan tangannya.
"Stev! Astaga, maafkan aku nona. Apa anakku mengganggumu?"
"Ibu, tadi aku menyentuh perut bibi ini, dan ada sesuatu yang bergerak disana." Anak itu menunjuk perut Sharon.
Mendengar penuturan anak laki-laki tersebut membuat Sharon, dan wanita di hadapannya terkekeh. Anak yang begitu manis, kemudian Sharon mengusap puncak kepala anak itu dengan senyuman hangatnya.
"Bibi sangat cantik saat tersenyum. Aku menyukaimu, bibi."
"Astaga, kau masih kecil, dan sudah berani-berani menyukai istriku? Aku tidak akan membiarkanmu!" Entah kapan Charles datang, dan mereka kembali tertawa.
"Baiklah, ayo Stev! Maafkan aku jika anakku mengganggumu nona."
"Aku sungguh tidak merasa terganggu. Stev begitu manis, dan aku harap anakku akan manis sepertinya." Sharon tersenyum seraya mengelus kepala anak itu.
"Mana boleh? Anakku tentunya harus sepertiku, bukan seperti anak ini." Dengus Charles, dan lagi-lagi membuat Sharon serta ibunya Stev tertawa.
Saat mereka telah pergi, dengan gerakan kesalnya Charles membuka botol air mineral yang telah di belinya tadi. Lalu, ia menenggaknya secara sembarangan, dan Sharon hanya menatap tingkah laku suaminya itu.
"Kau tidak cemburu dengan kata-kata anak itu 'kan?" Sharon mencari tahu, dan pertanyaannya membuat Charles tersedak.
"Tidak ku sangka jika kau cemburu karena hal itu." Imbuhnya lagi seraya tertawa.
"Siapa yang menyuruhmu tertawa, huh? Berani mentertawakanku?"
"Siapa takut?" Ucapnya seraya menjulurkan lidahnya. Lalu, Sharon bangun dari duduknya, dan berjalan entah hendak kemana. Sedangkan Charles hanya mengikutinya dari belakang. Melihat pohon yang rindang, Sharon duduk di bawah pohon itu meski hanya beralaskan rumput.
"Perutmu sudah membesar, dan kau asal saja memilih tempat." Charles menggelengkan kepalanya, dan wanita itu hanya tersenyum kecil. "Jika kesulitan bangun lagi, aku tidak akan mau membantumu." Lanjutnya lagi yang kemudian berbaring di paha Sharon.
"Disana begitu panas, dan duduk disini seperti duduk di Zurichorn. Sayangnya, tidak ada danau di taman ini. Lalu, kenapa kau berbaring jika tidak ingin membantuku?"
"Karena aku ingin bermanja dengan istriku seraya menikmati semilir angin." Tuturnya dengan kedua mata yang terpejam.
Bersambung ...